LANGIT7.ID, Jakarta - Rumah tradisional Indonesia dinilai sangat tahan terhadap guncangan gempa. Hal tersebut dikarenakan gaya arsitekturnya berupa rumah panggung dengan material kayu.
Melansir laman Kemendikbud, adapun rumah tradisional Kampung Wana dengan arsitektur rumah panggung dengan tambahan pondasi umpak batu. Umpak batu tersebut berfungsi sebagai media perataan beban yang di atasnya dan juga sebagai media pemisah antara material kayu dengan tanah agar tidak cepat terjadi kerusakan.
Sebab itu, dengan adanya tinng penyangga dan umpak batu pada rumah tradisional tersebut dapat meredam guncangan gempa serta mengurangi gerakan tanah terhadap struktur bangunan di atasnya sehingga bangunan tersebut mampu berdiri kokoh.
Baca Juga: LPB MUI Gandeng Indonesia Care dan MDMC Dirikan Masjid Darurat di CianjurHal ini terbukti di kawasan Provinsi Lampung sempat diguncang gempa dengan skala yang cukup besar. Kendati demikian, rumah tradisional Kampung Wana yang memiliki arsitektur sebagaimana mana rumah tradisional pada umumnya itu tidak serta merta runtuh begitu saja.
Sejumlah rumah tradisional tersebut masih berdiri kokoh, namun akibat guncangan yang cukup besar membuat rumah tradisional tersebut mengalami persegeseran beberapa centimeter dari titik awal semula.
Menurut Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), rumah adat tradisional kerap menggunakan material kayu atau bambu yang mana memiliki kelenturan terhadap guncangan gempa. Oleh karena itu, rumah-rumah tradisional zaman dulu tidak gampang runtuh akibat guncangan gempa alias tahan terhadap gempa.
Usut punya usut, tenyata ide nenek moyang kita dalam membangun rumah menggunaka material kayu diadopsi oleh negara Jepang. Jepang sering kali diguncang gempa, mereka meyakini efek gempa seperti runtuhnya bangunan rumah menjadi momok paling berbahaya yang dapat memakan korban jiwa.
Senada akan hal itu, CEO PT Katama Surya Bumi, Kris Suryanto mengungkapkan bahwa Jepang mengusung konsep hunian pemukiman warga yang ramah gempa dengan konstruksi fleksibel.
"Misalkan antar fondasi dengan konstruksi atas itu sudah ada rol-rolnya supaya kalau ada gempa dia ikut bergerak (fleksibel)," kata Kris saat dihubungi
Langit7.id, Ahad (27/11/2022).
Oleh sebab itu, lanjut dia, tingkat fleksibilitas sangat mempengaruhi bangunan terhadap guncangan gempa dan mengurangi risiko runtuhnya konstruksi bangunan.
"Sebetulnya rumah kayu, rumah bambu, itu risiko-risiko keruntuhan yang terjadi itu kecil," ujarnya.
Karena itu, tidak heran bencana alam yang kerap mengguncang Jepang tidak banyak menimbulkan korban jiwa akibat tertimpa reruntuhan bangunan. Sebab Jepang hingga saat ini masih menerapkan rumah dengan material kayu.
Baca Juga: Tiga Wilayah di Cianjur Krisis Air Bersih Pascagempa(zhd)