LANGIT7.ID - Pendiri Quantum Akhyar Institute, Ustadz Adi Hidayat (UAH), menjelaskan makna Al-Qur’an sebagai Asy-Syifa (obat atau penawar). Allah Ta’ala menegaskan Al-Qur’an sebagai Asy-Syifa dalam surah Al-Isra ayat 82.
“Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zalim (Al-Qur'an itu) hanya akan menambah kerugian.” (QS Al-Isra: 82).
Al-Qur’an mempunyai banyak keutamaan. Setiap ayat memiliki keistimewaan dan keutamaan masing-masing. Ayat di atas memberikan petunjuk bawah Al-Qur’an sebagai Asy-Syifa. Namun harus digarisbawahi bahwa Asy-Syifa hanya berlaku bagi orang beriman.
Hal itu merupakan kaidah utama jika seseorang hendak berinteraksi dengan Al-Qur’an. Tidak boleh ada keraguan sedikit. Itu dijelaskan dalam surah Al-Baqarah ayat ke-2. Sebab, keraguan akan menjadi benteng pemisah antara manfaat Al-Qur’an dan orang tersebut. Kunci untuk merobohkan benteng itu adalah keyakinan.
“Apa itu Asy-Syifa? Syifa sering diterjemahkan dengan obat atau penawar. Syifa sebenarnya punya arti yang lebih luas,” kata UAH melalui kanal youtube Adi Hidayat Official, dikutip Kamis (20/8/2021).
Al-Qur’an maupun hadits menggunakan dua diksi untuk menggambarkan kata obat, yakni
dawaa'un dan
syifaaun. Jika penyakit berkaitan dengan fisik saja maka disebut
daa'un, seperti sakit gigi, sakit kepala, kanker, dan lain sebagainya. Maka obat atau penawar dari daaun ini disebut
dawaa'un.
Ada pula penyakit terkait dengan fisik tapi sudah melewati batas-batas
dawaa'un. Jenis penyakit ini tidak bisa menggunakan obat medis. Tidak mungkin disembuhkan dengan resep dokter. Ada juga penyakit tidak terkait dengan fisik secara langsung, tapi berkaitan dengan aspek-aspek sikap atau psikologis.
“Misalnya penyakit hati seperti iri hati, dengki, dendam. Ini juga berpengaruh pada fisik, tapi sudah melampaui batas fisik, sehingga tidak bisa disembuhkan oleh obat medis,” kata UAH.
Penyakit hati tidak mungkin bisa diobati dengan
dawaa'un. Itu hal mustahil. Al-Qur’an mengistilahkan penyakit yang melekat pada nonfisik ini sebagai
maradhun (penyakit hati). Ini bisa dilihat saat Allah mensifati orang-orang munafik dalam surah Al-Baqarah ayat 10.
Maradhun tidak bisa diobati dalam bentuk
dawaa'un. Obat dari penyakit ini adalah Asy-Syifa. Contoh terbaik dalam kasus ini adalah Nabi Ayyub AS. Beliau divonis dengan penyakit yang tidak pernah diderita oleh orang sebelumnya dan tidak akan dirasakan oleh orang setelahnya.
Orang-orang pada saat itu menilai penyakit Nabi Ayyub tidak bisa lagi disembuhkan. Ini digambarkan dalam surah Al-Anbiya’ ayat 83-84. Nabi Ayyub meninggalkan opini manusia dan kembali kepada Allah untuk meminta kesembuhan.
Banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang berfungsi sebagai obat. Di antaranya surah Al-Fatihah atau surah Asy-Syuara ayat 83-84 atau dzikir nabi Ibrahim.
“Ada pula surah Ali Imran ayat 38-39 saat hamil, menjelang persalinan surah Maryam ayat 25-26, kalau sudah berkembang janinnya ada di surah Al-A’raf ayat 189. Bahkan bisa diamati oleh orang medis ada ayat-ayat spesifik seperti surah ke-22 ayat kelima, surah 23 ayat 11-13. Itu sangat lengkap,” kata UAH.
Hal tersebut yang disebut As-Syifa, mengeluarkan ayat-ayat dalam Al-Qur’an untuk kesembuhan, baik fisik maupun hati. Tapi tidak sekedar dibaca saja. Isi ayat harus dipahami dan diamalkan. Ada konsep ikhtiar secara medis dan cara meraih pertolongan dari Allah Ta’ala yang harus diamalkan.
(jqf)