LANGIT7.ID, Jakarta - Seorang muslim wajib melihat tanda-tanda kebesaran Allah SWT, salah satu caranya dengan metafakuri ciptaan-Nya seperti melakukan
wisata atau traveling.
Ada 5
travellers muslim yang inspiratif yang paling berpengaruh di dunia lewat dokumentasinya. Mereka juga meninggalkan warisan dari hasil perjalanan tersebut.
Para pelancong ini menembus lebih jauh dari batas geografis untuk melampaui ruang dan waktu. Berikut kisah-kisah mereka, 5
travellers muslim:
Baca Juga: Wisata Pantai Karang Potong Ocean View Cocok Bagi Traveller Milenial1. Muhammad AsadDia juga dikenal sebagai Leopold Weiss dengan karya monumentalnya “Road to Mecca”. Buku itu memetakan secara epik perjalannya di jazirah arab yang kemudian mengantarkannya kepada kemuliaan Islam.
Pada usia 22 tahun, pria berdarah Austria-Yahudi ini pindah ke Palestina bersama pamannya, dan bekerja sebagai jurnalis.
Karya awalnya meneliti proyek Zionis di Palestina, dan membuatnya berhubungan dekat dengan orang Arab dan kaum muslim.
Pengalaman inilah yang memicu rasa ingin tahunya tentang Islam, yang akhirnya membuatnya menjadi Muslim pada tahun 1926 dan memilih untuk dikenal sebagai Muhammad Asad.
The Road to Mecca adalah autobiografinya dan bisa dibilang buku harian perjalanan Muslim kontemporer terbesar.
Buku itu merekam jiwa petualang Muhammad Asad yang memilih meninggalkan garis keluarga sebagai Yahudi Rabi untuk memeluk Islam.
Buku ini membuatnya masuk dalam catatan orang yang melakukan perjalanan ke dunia Muslim pada paruh pertama abad 20.
Muhammad Asad membenamkan dirinya ke dalam budaya dan bahasa Arab, karya lainnya yang terkemuka adalah 'The Message of the Qur'an'.
2. Evliya CelebiMehmed Zilli, yang dikenal sebagai Evliya Çelebi, adalah seorang Turki Ustmaniyah yang menjelajahi seluruh wilayah Kesultanan Utsmaniyah dan wilayah-wilayah sekitarnya selama lebih dari empat puluh tahun.
Dia mencatat perjalanannya dalam sebuah catatan berjudul Seyâhatnâme atau Book of Travels.
Lahir di Istanbul pada 1611, Evliya Celebi terkenal sebagai seorang anak yang telah mengafal Al Quran dan sebagai Qariah di masjid kekaisaran utama, Hagia Sofia.
Dia berasal dari keluarga bergengsi; ayahnya menjabat sebagai kepala pengrajin emas untuk beberapa sultan Ottoman.
Latar belakang, kecerdasannya yang jenaka dan suaranya yang indah menarik perhatian Sultan, Murad IV, yang menjadikan Evliya Celebi sebagai temannya.
Celebi memanfaatkan koneksinya untuk mengejar kecintaannya pada perjalanan, dan menghindari tawaran janji politik.
Kejenakaannya terekam dalam ingatan pribadinya yang ia abadikan dalam sepuluh volume buku harian perjalanannya.
Saat ini hanya sebagian dari buku hariannya yang tersedia dalam bahasa Inggris, seperti terjemahan 2010 dari kutipan tertentu dari sepuluh volume, ‘Extract from An Ottoman Traveller: Selections from the Book of Travels of Evliya Çelebi’.
3. Ibn Fadlan Aḥmad bin Faḍlān bin al-ʿAbbās bin Rāšid bin Ḥammād, yang lebih dikenal sebagai Ahmad bin Fadlan, adalah seorang penjelajah Muslim Arab abad ke-10.
Dia dikenal karena catatan perjalanannya sebagai anggota utusan khalifah Abbasiyah, al-Muqtadir dari Baghdad, untuk raja Volga Bulgar, yang dikenal sebagai risāla.
Lahir di Baghdad pada tahun 879. Ia bekerja sebagai utusan diplomatik di bawah Khalifah Abbasiyah Al-Muqtadir yang memerintah dari tahun 908 hingga 932 M.
Tugas pertamanya adalah melakukan perjalanan sebagai duta besar untuk Volga Bulgaria, suku pejuang Turki yang pada saat itu diperintah oleh penguasa Muslim pertamanya, Almış iltäbär.
Suku itu berdiam di Laut Hitam dan Kaspia. Misi itu sendiri barangkali bisa disebut gagal. Namun selama di sana, Ibn Fadhlan merekam perjumpaannya dengan sekelompok pedagang dari Utara, yang disebutnya Rus, atau Rusiyyah.
Menempuh jarak total 4000 kilometer dengan waktu hampir satu tahun untuk mencapai Bolgar, ibu kota Volga Bulgar. Ibn Fadlan melakukan perjalanan melalui berbagai daerah dan rute karavan sambil mendokumentasikan berbagai tempat-tempat terkenal.
Raja Yiltawar adalah leluhur Islam di Tatarstan, di mana Muslim Tatar setiap tahun memberi penghormatan kepadanya atas dakwahnya ke wilayah tersebut.
4. Ibn BatutahMuhammad bin Batutah yang bernama lengkap Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah Al-Lawati At-Tanji bin Batutah adalah seorang alim Maroko yang pernah berkelana ke berbagai pelosok dunia pada Abad Pertengahan.
'The Rihla' adalah salah satu buku harian perjalanan paling terkenal di dunia, di kalangan Muslim dan non-Muslim.
The Rihla menceritakan kisah perjalanan Ibnu Battuta yang luar biasa sejauh 75.000 mil dari dari rumahnya di Maroko.
Pada tahun 1325 M pada usia 21 tahun, Ibnu Battuta memulai perjalanannya dengan maksud untuk menunaikan ibadah haji dan belajar di bawah bimbingan ulama besar di Mesir dan Hijaz.
Catatan Ibnu Battuta telah memberikan wawasan berharga tentang negara dan orang-orang yang dia kunjungi selama perjalanannya. Dia mengunjungi berbagai benua dan negara, termasuk sampai Indonesia.
5. Ibnu Khaldun Ibnu Khaldun lahir di Tunis modern pada tahun 1332. Seperti Ibnu Battuta, ia pernah diberi tanggung jawab yudisial.
Dia diberi peran bergengsi sebagai hakim agung Kairo setelah keluarganya terbunuh secara tragis dalam peperangan. Ibnu Khaldun menciptakan ilmu yang sama sekali baru, yakni historiografi dan sosiologi.
Siapa pun yang telah membaca karyanya yang paling terkenal 'The Muqaddimah' dapat dengan jelas melihat dari tulisannya bahwa Ibnu Khaldun sedang menyajikan ide orisinal pada zamannya.
Sejarawan Inggris Arnold J. Toynbee menyebut Muqaddimah sebagai "sebuah filosofi sejarah yang tidak diragukan lagi merupakan karya terbesar dari jenisnya yang pernah diciptakan oleh pikiran manapun kapanpun atau di manapun.
(bal)