LANGIT7.ID, Cianjur - Siti Barkah, ditemani sang suami sudah sibuk di depan kompor dua tungku. Saat ditemui
Langit7.id, dia tengah mengaduk olahan gorengan sambil sesekali melayani pembeli. Rumahnya separuh rubuh, dinding yang terbuat dari batu bata retak. Sudah tidak layak untuk ditinggal sebelum direnovasi.
Gempa M5,6 yang mengguncang Cianjur memang menyisakan duka bagi Barkah. Tapi, dia tidak mau larut dalam kesedihan. Sepekan berada di tenda pengungsian, Siti sudah tentu merasa bosan. Dia tidak membuka media sosial lalu menulis kalimat-kalimat sedih. Ibu dua anak itu memilih membuka usaha kecil-kecilan untuk mengisi waktu kosong.
“Warung dulu di depan rumah, tapi roboh. Jadi, pindah ke sini,” kata Siti sambil menyeduh segelas kopi untuk pembeli.
Baca Juga: Pengungsi Gempa Cianjur Awali Hari dengan Mengaji Mendekat pada Ilahi
Siti kini berjualan di salah satu bangunan Taman Kanak-Kanak (TK). Berlatar ladang dan sawah tepat di depan sebuah bukit, bangunan TK itu kini tak bisa digunakan untuk bermain bagi anak-anak. Dinding belakang rubuh. Di beberapa bagian dinding juga retak.
“Ini sekolah TK, tapi rusak jadi tidak dipakai. Dibuat jualan dulu,” ujar Siti.
Siti dan 78 penyintas gempa Cianjur di lokasi Pengungsian Warungbawang, Desa Cibeureum, Kab. Cugenang, Cianjur, Jawa Barat tinggal di bawah tenda sederhana. Ada 39 KK di situ. Tenda dibuat memanjang dengan beberapa sekat. Tidur dengan alas tikar berselimut dingin kabut saat malam tiba.
“Di sini kan banyak bukit, jadi kalau malam dingin sekali,” kata Rangga Irawan Saputra, salah seorang relawan kemanusiaan dari AQL Peduli.
Baca Juga: Hidup Prihatin, Penyintas Gempa Cianjur Bertahan dengan Kondisi Seadanya
Sedih sudah pasti. Tapi, mayoritas penyintas di tempat ini sudah mulai berdamai dengan keadaan. Berbagai aktivitas pun sudah mulai dilakoni. Para suami berangkat ke sawah saat pagi hari, ada pula yang ke pasar berjualan, sementara ibu-ibu mengurus keperluan rumah tangga.
Potret Siti ini hanya satu contoh dari banyak penyintas yang menolak sedih secara berlarut-larut. Banyak penyintas memanfaatkan mobilitas masyarakat yang hendak berderma di Cianjur. Mereka tidak meminta bantuan, tapi menawarkan jajanan untuk meraup pundi-pundi rupiah.
"Alhamdulillah, ada juga berkah dan hikmahnya. Jualan banyak yang laku, apalagi kalau pagi-pagi begini, banyak relawan yang mau ngopi, ada juga bapak-bapak polisi, TNI. Jadi, alhamdulillah, kita tetap berusaha mencari rezeki,” kata Kang Didik, salah pedagang kaki lima saat berbincang dengan
Langit7.id.
Baca Juga: Sekolah Roboh, Anak-anak Pengungsi Gempa Cianjur Belajar di Tenda Darurat
Banyak jajanan bisa ditemui di sini. Ada yang berjualan gorengan, kopi, makanan ringan, hingga sayur hasil panen. Para relawan pun tak segan-segan berbelanja di tempat mereka, meski di posko ada ragam makanan yang bisa mengganjal perut.
“Itung-itung kita bantu mereka, dan membangkitkan semangat mereka, biar tidak bergantung pada bantuan. Kita bersyukur mereka berfikir begitu,” Irham Najamuddin, relawan dari Nusa Tenggara.
(jqf)