LANGIT7.ID, Jakarta - Mahasiswa Pendidikan Kader Ulama (PKU) ke-17 Majelis Ulama Indonesia (MUI) DKI Jakarta melaksanakan rihlah ilmiah ke Pesantren Darullughah Wad'dawah (Dalwa) Bangil, Pasuruan, Jawa Timur. Ketua Umum MUI Provinsi DKI Jakarta, KH Munahar Muchtar berpesan kepada kader calon ulama untuk terus meng-upgrade keilmuannya.
"Ilmu itu tidak ada habisnya, maka penceramah selain punya beragam metode juga harus banyak ilmunya. Ibarat toko kelontong, orang mau belanja apapun ada disitu, begitupun da'i harus banyak belajar," kata Kiai Munahar di Pesantren Darullughah Wad'dawah, Senin (12/12/2022) malam.
Ia menambahkan bahwa setiap da'i harus memiliki tiga hal sebelum menyampaikan dakwah kepada masyarakat. Pertama, menjadi teladan (uswah); kedua istikamah; dan ketiga meluruskan niat semata karena Allah SWT.
Baca Juga: Santri Asal Kamboja Menghafal Quran dan Belajar Bahasa Arab di Pesantren Dalwa Pasuruan"Kita harus yakin bahwa perjuangan ini karena Allah, (amanah) dari Allah, dan oleh Allah (kita dimudahkan). Maka ilmu ini penting untuk kehidupan hati kita, sebagaimana Allah menciptakan hujan untuk kehidupan manusia," ujarnya.
Pada kesempatan sama, pengasuh Pesantren Dalwa, Habib Dr Zainal Abidin Bilfaqih menyampaikan bahwa keikhlasan dan ketakwaan menjadi kunci dalam pengelolaan pesantren. Termasuk dalam hal kemandirian di bidang ekonomi dan keilmuan harus tetap terjaga untuk eksistensi sebuah lembaga pendidikan.
"Ulama harus selalu mandiri dalam segala hal agar dapat berdiri tegak, memiliki
muru'ah, marwah, dan
izzah. Karena itu bedakan antara pasrah dengan menyerah, kalau menyerah maka tidak ada usaha lagi, sedangkan pasrah kita tawakkal kepada Allah, faidza azamta fa tawakkal alallah," ujar Habib Zainal.
Sejarah Pendirian Pondok dan PerkembangannyaMa’had ini didirikan pada tahun 1981 di Bangil dengan menempati sebuah rumah kontrakan. Dengan penuh ketelatenan dan kesabaran Ustaz Hasan Baharun mengasuh dan mendidik para santrinya yang dibantu oleh Ustaz Ahmad bin Husin Assegaf, sehingga beliau mendapat kepercayaan dari masyarakat dan dalam waktu yang relatif singkat jumlah santri berkembang dengan pesat.
Selain membina santri putra, pada tahun 1983 pondok ini menerima santri putri yang berjumlah 16 orang yang bertempat di daerah yang sama. Dan pada tahun 1984 tempat pemondokan santri menempati sampai sebanyak 13 rumah kontrakan.
Dengan jumlah santri yang terus berkembang serta tempat (rumah sewa) tidak dapat menampung jumlah santri, maka pada tahun 1985 Atas petunjuk Musyrif Ma’had Darullughah Wadda’wah Abuya Sayyid Muhammad Bin Alwi Al-Maliki Al-Hasani Mekkah, Pondok Pesantren Darullughah Wadda’wah dipindah ke ke sebuah desa yang masih jarang penduduknya dan belum ada sarana listrik, tepatnya di Desa Raci, Kecamatan Bangil. Jumlah santri pada waktu itu sebanyak 186 orang santri yang terdiri dari 142 orang santri putra dan 48 orang santri putri.
Baca Juga: Sejarah Zuriah Rasulullah Melebur Menjadi Pribumi NusantaraSetelah Ustadz Hasan bin Ahmad Baharun wafat pada 8 Shafar 1420 H atau 23 Mei 1999, pondok ini kemudian diasuh oleh salah satu anaknya, yakni Habib Zain bin Hasan bin Ahmad Baharun yang merupakan murid asuhan Almarhum Abuya Habib Muhammad bin ‘Alawi bin ‘Abbas al-Maliki.
Hingga saat ini lahan yang ada telah mencapai kurang lebih empat hektare dan telah hampir terisi penuh oleh bangunan sarana pendidikan dan asrama santri dengan jumlah santri sekitar 18 ribu yang berasal dari 30 provinsi di Indonesia, negara-negara Asia Tenggara dan Saudi Arabia. Santri-santri dibina oleh tidak kurang 100 orang guru dengan lulusan/alumni dalam dan luar negeri. Ditambah dengan pembantu yang diikutkan belajar sebanyak sekitar 95 orang.
Baca Juga: 2 Hal yang Bikin Dakwah Efektif: Ikhlas dan Kasih Sayang(zhd)