LANGIT7.ID, Pasuruan - Pesantren di Indonesia ternyata tidak hanya jadi tempat belajar bagi masyarakat Indonesia. Namun juga jadi rujukan umat Islam dari berbagai negara.
Salah satunya adalah Abdul Adzim, dia merupakan santri asal Kamboja yang tengah menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Darullughah Wadda’wah, Pasuruan, Jawa Timur. Bahkan pria yang akrab disapa Srim itu telah menyelesaikan hafalan 30 Juz.
Baca Juga: Awalnya Akan Diperingati 1 Muharram, Inilah Pengusul Hari Santri Nasional 22 Oktober
Umurnya memang tak lagi muda. Namun pria kelahiran 8 Agustus 1996 itu memiliki catatan istimewa dibanding santri-santri lain. Awal mulanya, Srim sama sekali tidak bisa membaca Al-Qur’an. Hingga suatu saat ia minta diajari membaca Qur’an oleh orang tuanya. Pernah juga minta diajari praktik shalat hingga doa-doa harian.
Namun Srim menuai kekecewaan. Orang tuanya tak bisa memenuhi permintaan itu. Lambat laun, keinginan Srim belajar ilmu-ilmu agama semakin menguat. Ia pun memutuskan untuk masuk pesantren. Ia pun memberanikan diri berangkat ke kampung sebelah untuk mencari ilmu. Dari situ ia mampu membaca Al-Qur’an saat memasuki usia 13 tahun.
Srim lalu mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke Malaysia. Hanya saja orang tua Srim tak cukup biaya untuk mengurus visa dan paspor. Namun orang tua Srim tak patah arang, ia berkeliling kampung untuk meminta sumbangan untuk sang buah hati. Ia rela melakukan itu demi pendidikan anaknya.
Saat di Malaysia, Srim mulai menghafal Al-Qur’an. Ia menghafal ayat demi ayat sebelum dan selepas ashar, sebelum dan setelah maghrib, hingga mampu merekam dua lembar per hari. Tak jarang juga Srim mampu menghafal setengah juz. Ia me-murajaah hafalan selepas isya dan setelah shalat subuh.
Baca Juga: Meski Negara Minoritas Muslim, Singapura Miliki Madrasah yang Cetak Banyak Ulama
Berkat perjuangan luar biasa, lahir dari keluarga yang tak memiliki pemahaman agama yang tinggi, Srim pun mampu menghafal Al-Qur’an dalam waktu 1 tahun 1 bulan. Pria tampan berkulit putih itu memiliki semangat yang tinggi dan mampu menyelesaikan hafalan pada usia 15 tahun. Hanya terpaut 2 tahun ketika merengek-rengek diajari membaca Al-Qur’an.
“Sebenarnya dari hafalan saya tidak seberapa kuat tetapi bisa menghafal Qur'an karena saya bermujahadah dan tak pernah membuat waktu,” kata Srim, dikutip laman dalwaberita.com, Rabu (13/10/2021).
Setelah menghafalkan Al-Qur'an, Srim berniat untuk belajar Bahasa Arab. Ia kemudian menghubungi salah satu ustadznya di Kamboja. Sang ustadz merekomendasikan Pesantren Darullughah sebagai tempat baru dalam mempelajari bahasa Arab. Akhirnya, impian Srim belajar Bahasa Arab di Dalwa terwujud setelah menanti 5 bulan.
(jqf)