LANGIT7.ID, Jakarta - Pengamat kebijakan publik dari Universitas Trisakti, Trubus Rahadiansyah menilai rencana subsidi kendaraan listrik (electric vehicle/EV) tidak tepat kerena kondisi perekonomian Indonesia belum stabil akibat pandemi Covid-19 .
Menurutnya, keputusan subsidi EV harus ditunda dan memfokuskan pada infrastruktur.
“Situasi (perekonomian) masih naik turun, beban ekonomi kita masih belum stabil karena pandemi Covid-19 masih berlangsung. Jadi kebijakan ini sebenarnya belum tepat,” kata Trubus saat dihubungi Langit7.id, Jumat (16/12/2022).
Baca juga: Pemerintah Diminta Tinjau Ulang Insentif Kendaraan Listrik Trubus menuturkan, kendaraan listrik di Indonesia saat ini hanya sebagai alternatif karena desakan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang mahal.
“EV ini hanya karna desakan terhadap BBM yang mahal maka kemudian
mobil listrik sebagai alternatif. Artinya subsidi harusnya ditunda karena bukan prioritas,” ucapnya.
Menurut Trubus, jika subsidi harus diadakan pada 2023 harusnya dilakukan bertahap dengan memerhatikan potensi perekonomian Indonesia.
“Jadi kalaupun subsidi mobil listrik atau motor listrik harus diadakan mungkin bisa bertahap. Karena ekonomi kita masih naik turun ini. Bagaimana? Ekspor kita masih lemah,” sebutnya.
Trubus menegaskan, baiknya pemerintah memperbanyak infrastruktur kendaraan listrik sebelum menerapkan subsidi. Sebab, akan ada dampak berkepanjangan berupa ketidakseimbangan infrastruktur dan stabilitas ekonomi.
“Bertahap itu memastikan infrastruktur lengkap, karena kendaraan listrik itu kan didukung infrastruktur, baik dari SPKLU, penyediaan spareparts, baterainya bagaimana, itu paling utama. Jika subsidi mobil diterapkan lalu daya beli masyarakat tinggi karena murah, itu tidak seimbang dengan infrastruktur yang ada, terutama di wilayah daerah. Kalau kota mungkin sudah memadai tapi harus dilengkapi lagi,” ungkap Trubus.
Selain itu, Trubus mengucap, baik pemerintah maupun produsen mobil listrik di Indonesia harusnya mengedukasi masyarakat.
“Ini supaya masyarakat tidak hanya terbawa tren atau
fear of missing out (FOMO). Mereka harus tau bagaimana perawatan kendaraan listrik, infrastrukturnya, dan sebagainya agar keseimbangan ekonomi terjaga,” kata Trubus.
Baca juga: Pengguna Internet Makin Masif, Manfaatkan untuk Hal Produktif “Dari masyarakatnya juga harus melihat bagaimana kebutuhan mobil listrik, itu alternatif. Bukan hanya FOMO. Kendaraan listrik itu alternatif karena BBM mahal dan isi ulang listrik lebih murah. Jangan asal beli karena tren, pahami dulu, edukasi itu penting,” tutup Trubus.
Diketahui, pemerintah mengumumkan akan memberikan subsidi
kendaraan listrik yang memiliki pabrik di Indonesia. Besaran subsidi untuk mobil berbasis murni listrik Rp80 juta. Sementara mobil hybrid diberikan insentif Rp40 juta.
Lalu motor listrik baru akan diberikan insentif Rp8 juta. Sementara motor konversi BBM menjadi listrik akan mendapatkan insentif Rp4 juta.
(sof)