Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 20 April 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Tips Parenting Muslim, Perbaiki Hubungan supaya Dekat dengan Anak

mahmuda attar hussein Senin, 19 Desember 2022 - 09:10 WIB
Tips Parenting Muslim, Perbaiki Hubungan supaya Dekat dengan Anak
Tips Parenting Muslim, Perbaiki Hubungan supaya Dekat dengan Anak. (Foto: Istimewa).
LANGIT.ID, Jakarta - Orangtua mesti memiliki hubungan dekat dengan anak. Pola asuh dan parenting Nabi Ibrahim AS bisa menjadi contoh bagi keluarga muslim dalam mendidik anak sehari-hari.

Ustadzah Oki Setiana Dewi menjelaskan, parenting Nabi Ibrahim AS tercantum dalam Al Quran, di antaranya surat Ash-Shaffat ayat 100 - 111.

"Parenting Nabi Ibrahim bisa membentuk anak yang hebat yakni Nabi Ismail," kata Ustadzah Oki dalam kajiannya dikutip Senin (19/12/2022).

Ada sejumlah kunci keberhasilan parenting Nabi Ibrahim terhadap Nabi Ismail. Pertama, karena ada istri yang hebat, Siti Hajjar, di belakangnya. Jadi pola asuh anak itu diawali dengan memilih pasangan yang baik.

"Istri yang sholehah paham membawa anak-anaknya menuju gerbang kesuksesan," ujarnya.

Baca Juga: Parenting Islami, Bimbing Akidah hingga Pergaulan Anak

Sementara itu, menurut Ustadz Adi Hidayat, anak yang susah dinasihati bukan seutuhnya kesalahan mereka. Sebab, bisa jadi hal itu dikarenakan kurangnya perhatian kepada anak di usia kecil mereka.

"Coba istighfar, karena anak yang susah dinasihati tidak seutuhnya kesalahan anak. Bisa jadi hal itu dikarenakan kurangnya perhatian orang tua kepada anak saat mereka masih kecil," kata dia dalam penggalan kajiannya.

Menurutnya, orang tua bisa memiliki hubungan dekat dengan anak dengan mencontoh Nabi Ibrahim. Bahkan kedekatan itu sampai-sampai membuat Ismail yang baru menginjak usia antara 4-5 tahun untuk membantu pekerjaan ayahnya.

Hal itu dijelaskan dalam Al-Qur'an, Allah berfirman, "Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan fondasi Baitullah bersama Ismail, (seraya berdoa), 'Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.'" (Al-Baqarah: 127).

Makna ayat tersebut, lanjut dia, Ismail tergerak membantu pekerjaan ayahnya. Membantu dalam hal ini artinya bukan dalam porsi pekerjaan yang sama.

"Al-Baqarah ayat 127 itu mengisahkan Ibrahim meninggikan fondasi Baitullah, di situlah Ismail tersentuh dan tergerak untuk membantu ayahnya, Ibrahim," jelas dia.

Diskusi Antara Ayah dan Anak

Saat anak mulai bertumbuh dan masuk pada usia untuk musyawarah, maka Nabi Ibrahim tidak serta merta menuntut anaknya untuk melakukan sesuai dengan perintahnya.

Sekalipun dia adalah seorang rasul dan nabi, tetap saja Ibrahim mengedepankan musyawarah dan diskusi kepada anaknya. Terutama saat dia bermimpi untuk menyembelih anaknya, seperti dijelaskan dalam Al-Qur'an surat Ibrahim ayat 102, yang artinya:

"Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu." (QS. Ibrahim: 102).

"Di situ Nabi Ibrahim berbagi pikiran kepada anaknya. Karena mimpi nabi dan rasul bersifat wahyu yang mesti dilakukan, maka Ismail meresponnya dengan menyepakati apa yang dimimpikan ayahnya," ujar Ustadz Adi Hidayat.

Pendiri Quantum Akhyar Institute ini menyampaikan, setidak ada 3 kejadian besar dalam peristiwa itu. Di antaranya yakni:

1. Ketika Ismail diikat dan merasakan ikatan itu longgar, maka dia berkata kepada ayahnya untuk mengencangkan ikatannya. Itu dilakukan karena Ismail tidak mau membuat ayahnya iba dan urung menyembelihnya ketika dia meronta.

2. Ismail meminta ayahnya untuk menajamkan pisau yang akan digunakan untuk menyembelihnya. Sehingga bisa mengurangi sakit yang akan dirasakan.

"Mengencangkan ikatan dan menajamkan pisau itu bahkan menjadi sunnah yang dikerjakan sampai sekarang," ujarnya.

3. Ismail sudah melipat pakaiannya yang dia pesankan untuk diberikan kepada ibunya tersayang. Namun, ketika penyembelihan dikerjakan justru tidak ada korban saat itu, tapi menjadi apa yang dilakukan sampai sekarang, yaitu kurban.

"Saking dekatnya Ibrahim dan Ismail dengan Allah, mimpi saja dikerjakan. Tapi sekarang banyak kaum muslimin ingin dekat dengan Allah, justru perintah-Nya di dunia tidak dikerjakan," katanya.

Perhatian Ibrahim kepada Ismail

Nabi Ibrahim tetap memperhatikan pertumbuhan anaknya sekalipun mereka terpisah dalam jarak yang jauh. Hal itu disebutkan dalam Al-Qur'an surat Ibrahim ayat 37, yang artinya:

"Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur." (QS. Ibrahim: 37).

UAH sapaan akran Adi Hidayat mengungkapkan, Nabi Ibrahim mesti berpisah dengan keluarganya. Di mana dia harus berada di Palestina, sementara anak dan istrinya di Makkah.

Namun, jarak yang jauh itu tidak menghalangi Ibrahim untuk mencari nafkah sambil tetap memperhatikan anak dan istrinya melalui doa yang dipanjatkan kepada Allah.

Dari kisah itu, sambung UAH, anak yang sulit mendengarkan nasihat orang tuanya tak bisa seutuhnya disalahkan. Sebab, bisa jadi karena kurangnya perhatian yang diberikan orang tua.

Bila diperhatikan dari kisah Nabi Ibrahim, sebagai seorang ayah, nabi, dan rasul di tengah kesibukannya dia masih memberikan waktu luang untuk bermain, mengamati, dan hadir untuk anaknya.

"Sehingga ketika beliau tinggal di Palestina, sementara anaknya berada di Makkah itu dia tetap bisa mengontrol. Beliau masih mengetahui perkembangan, mainan, dan kisah pertumbuhan anaknya," katanya.

(bal)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 20 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:53
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)