LANGIT7.ID, Jakarta -
Kisah inspiratif datang dari Nurul Hidayah, seorang bidan yang betugas di tepian negeri, Gowa, Sulawesi Selatan. Perjalanannya mengabdi untuk banyak orang bermula saat ia bergabung dengan program Bidan Pelosok Negeri, Dompet Dhuafa, sejak akhir Juli 2022.
Gowa dipilihnya jadi tempat mengabdi lantaran masih banyak ibu yang memilih melahirkan di rumah daripada memeriksakan kandungan ke dokter atau
bidan.
"Angka kematian ibu dan bayi masih tinggi di desa Gowa. Tak sedikit juga bayi stunting di Gowa, jadi saya dikirim ke sana agar memerbaiki kondisi kelahiran di desa tersebut," ujar Nurul saat menceritakan kisahnya dalam
Annual Report Dompet Dhuafa di
Indonesia Giving Fest-Zakat Expo 2022, Sabtu (24/12/2022).
Baca Juga: Kisah Naja Sang Anak Ajaib, Derita Lumpuh Otak Tapi Hafal 30 Juz Al-QuranSelama pengabdiannya di pelosok tidaklah mudah. Dia ditugaskan untuk menangani empat dusun di Gowa, dua di antaranya merupakan dusun yang memiliki akses sangat sulit.
Nurul mengatakan, akses pelosok Gowa rawan longsor itu bahkan hanya dapat dilewati oleh motor modifikasi warga. Sebab, kondisi jalan penuh tanah dan bebatuan.
"Jadi di sana masih jalan batu tepinya jurang. Sangat sulit untuk menjangkau penerima manfaat di sana. Tapi dengan niat, bismillah, saya hanya punya keinginan untuk membantu umat," ungkapnya.
Kondisi di sana pun cukup memprihatinkan. Nurul bercerita, terdapat sejumlah Puskesmas Pembantu (Pustu) yang tak layak digunakan sebagai tempat pelayanan kesehatan.
Baca Juga: Lewat Muhasabah Diri, Aliah Sayuti Mampu Lampaui Masa Sulit"Akhirnya saya coba untuk meminta kepala desa untuk saya
stay di Pustu tersebut. Kepala desa mengabulkan, dan saya sedikit demi sedikit mengubah Pustu tersebut bersih, layaknya klinik. Supaya apa, warga dapat nyaman berobat, terutama ibu dengan anak dan ibu hamil," kata Nurul.
Nurul turut mengungkapkan hal-hal lain yang memprihatinkan selama pengabdiannya. Tak sedikit bantuan-bantuan makanan diberikan untuk balita bukan yang seharusnya.
"Jadi bahkan dari dana desa, mungkin karena kurang pengetahuan, pengurusnya membelikan balita-balita makanan instan. Saya inisiatif menanamkan pemahaman pada para ibu di sana untuk membawakan anak bekal dari program 'Isi Piringku' dari posyandu kita," lanjut Nurul menerangkan.
Nurul mengatakan, program tersebut diserahkan kepada pengurus desa berisi makanan sehat dan buah-buahan untuk balita. Guna menekan angka kematian ibu, Nurul bersama Dompet Dhuafa juga menggelar program kelas ibu hamil dan pelayanan pemeriksaan Pustu 24 jam.
Baca Juga: Hobi Baca Buku Keislaman Antarkan Saliza jadi Mualaf"Meski tidak mudah, kita tetap berusaha menjangkau ibu-ibu hamil untuk melakukan program tersebut," tambahnya.
Demi membantu ibu hamil, Nurul tak ragu mengunjungi yang sedang membutuhkan persalinan. Nurul menceritakan di suatu hari, dia menemukan seorang ibu tergeletak di rumahnya dengan keadaan sudah melahirkan.
"Meski sudah berupaya mengarahkan ibu-ibu untuk bersalin di pusat kesehatan, keadaan darurat memaksa seorang mereka harus melahirkan di rumah. Beruntungnya, saya datang tepat waktu, meski medan susah dilewati saya berhasil menyelamatkan ibu dan anak yang melahirkan di rumah. Ini juga berkat bantuan warga yang infokan saya," tuturnya.
Baca Juga: Kisah Mualaf Ameena, Mengenal Islam Usai Mabuk di Klub Malam(gar)