LANGIT7.ID, Jakarta - Stres jadi persoalan yang sering dialami banyak orang. Ragam masalah kehidupan yang tak mudah untuk dihadapi biasa jadi pemicunya.
Pakar neuropsikologi, Rakhman Satrio W, menjelaskan, pemicu stres itu tergantung dari kepribadian atau karakter masing-masing individu. Itu karena sesuatu yang dianggap penting bagi setiap orang berbeda-beda.
Bagi orang yang memiliki kecenderungan citra diri yang perfeksionis, dikritik sedikit saja bisa membuatnya overthinking berhari-hari. Tapi bagi orang yang memiliki citra diri yang biasa saja, tidak masalah ketika dikritik, karena sudah terbiasa.
Baca Juga: 5 Tips Semangat Bekerja usai Liburan, Awali dengan Bismillah
“Bagi sebagian besar pemain bola, menjadi pemain seperti Cristiano Ronaldo, adalah impian terbesar. Tapi, bagi orang yang sudah di level Ronaldo, kalah saing dengan Lionel Messi dalam perebutan GOAT adalah sesuatu yang sangat
stressful bagi dia,” kata Rakhman dalam Bincang Neuropsikologi yang diikuti Langit7 secara daring, dikutip Senin (2/1/2023).
Kesimpulannya, stres akan timbul saat harapan seseorang tidak bertemu dengan realita. Saat sesuatu yang biasa dianggap penting tidak berjalan sesuai rencana. Maka tiap orang sebenarnya yang self imposing stres.
Lalu, bagaimana menjaga diri dari stres? Jawaban pertanyaan ini memang sulit, karena selama hidup di dunia setiap orang pasti terikat dengan sesuatu yang duniawi. Satu-satunya cara terbaik adalah mengembalikan semua harapan kepada Allah.
“Ini bukan berarti mengajak meninggalkan dunia. Tapi saat-saat kita mengejar dunia, lalu belum dapat, maka kembalikan semua ekspektasi kepada Allah,” kata Rakhman.
Baca Juga: 6 Cara Sederhana Atasi Stres Kerja agar Produktivitas Tak Menurun
Rakhman menganjurkan setiap orang untuk terus berikhtiar semaksimal mungkin. Masalah tadkir yang telah diberikan, tetap husnudzon bahwa Allah memberikan untuk kebaikan diri sendiri.
“Misal berharap anak shalih, tapi ndilalah anak sulit diatur. Ya enggak apa-apa, itu amanah dari Allah, dan jadi ladang pahala buat orangtuanya. Tugas kita cuma berusaha dan berharap sama Allah,” katanya.
Jika stres itu disebabkan oleh faktor psikologis, maka dengan
skill coping mechanism, seseorang bisa mengalihkan itu agar tidak lagi menjadi sesuatu yang sangat
stressful.
Timbul pertanyaan lagi, bagaimana jika penurunan
mood bukan karena psikologis seperti disebabkan kondisi hormonal? Pada titik ini sangat bermanfaat seseorang belajar neurosains. Setiap orang memiliki kecenderungan
mood swing saat ada
hormonal imbalance.
Baca Juga: Ujian Hidup Terasa Berat, Tawakkal Kunci Penyelesaian
“Yang bisa kita lakukan adalah, tetap bersabar dan berusaha
positive thinking, tidak terus-terusan terjatuh pada mode rumination. Kita tahu bahwa fase-fase
depressive /
mood swing itu nantinya akan terlewati juga, asal bagian otak sadar kita (PFC) terus berusaha untuk mematikan alarm system stres,” ucap Rakhman.
Hal lain yang bisa membantu mencegah kecenderungan depresi/
anxiety atau gangguan
mood adalah nutrisi. Basis masalah ini ada di level biologi, seseorang bisa mempersiapkan diri dengan asupan nutrisi yang bersifat antidepresan.
Salah satunya adalah Omega 3, terkhusus yang mengandung EPA. Konsumsi omega 3, sangat bagus untuk mencegah kecenderungan depresi, dan bahkan bisa meredakan depresi. Itu karena omega 3 berfungsi untuk pembentukan otak.
“Jadi mekanismenya, saat kita mengalami hal yg traumatis/stressful, omega 3 ini membantu otak kita cepat untuk
recovery,” ujar Rakhman.
(jqf)