LANGIT7.ID, Jakarta - Gelombang
resesi ekonomi diprediksi terjadi di tahun 2023 ini. Dana Moneter Internasional (IMF) mencatat sepertiga dari
perekonomian global akan mengalami resesi.
Founder Finansialku, Melvin Mumpuni menyebutkan, sebetulnya ada yang lebih menarik dibahas di
tahun 2023 ini ketimbang resesi global.
"Ada yang jauh lebih seru ketimbang resesi, yaitu tahun 2023 adalah
tahun politik dan ekonomi yang sudah mulai recover," kata dia dikanal YouTube
Finansialku.com, Kamis (12/1/2023).
Lantas benarkah resesi
ekonomi 2023 akan dialami Indonesia? Berikut penjelasan konten kreator sekaligus penasihat keuangan berusia 33 tahun ini.
Baca Juga: Tak Perlu Panik, Hadapi Resesi Ekonomi dengan 3 Cara IniResesi Ekonomi 2023Resesi dapat diartikan terjadinya penurunan terhadap pertumbuhan PDB selama dua kuartal berturut-turut.
Ada yang lebih bahaya dari resesi, yaitu ketakutan akan resesi. Di mana masyarakat akan lebih menahan uangnya daripada belanja.
Akhirnya, perputaran ekonomi masyarakat akan tersendat dan turut berdampak pada perekonomian sebuah negara.
"Saya sampaikan agar tidak perlu takut berlebihan. Tetaplah sesuai dengan rencana keuangan yang sudah dibuat," katanya.
Bahkan bila memungkinkan bisa mencari tambahan penghasilan atau punya lebih dari satu sumber penghasilan. Stabilkan kondisi keuangan, kemudian investasi dan review secara berkala.
Ekonomi gelap seperti yang disebutkan Menteri Keuangan, Sri Mulyani dikarenakan pandemi Covid-19 yang meninggalkan luka memar dan belum sepenuhnya berakhir.
Kondisi ini semakin diperparah dengan terjadinya perang antara Rusia dan Ukraina sebagai biang kerok dari krisis pangan dan energi. Ujung-ujungnya menimbulkan lonjakan inflasi atau kenaikan harga.
"Nah, situasi ini akan semakin rumit ketika negara maju mengubah arah atau kebijakan moneternya, seperti menaikkan suku bunga," ungkapnya.
Di tahun 2022, Amerika Serikat secara agresif terus menaikkan suku bunga acuan dan menimbulkan gejolak besar di pasar keuangan. Bahkan setidaknya 60 negara kini berada dalam kesulitan keuangan.
Sementara di Indonesia berbeda, di tahun 2020 pemerintah memberikan stimulus dengan menggenjot konsumsi masyarakat. Di antaranya dengan memberikan subsidi rumah, subsidi kendaraan, suku bunga rendah, dan lain sebagainya.
"Tujuannya agar ekonomi bertumbuh dan mendorong pemulihan ekonomi nasional," ujarnya.
Tahun PolitikMelvin mengungkapkan, kondisi Indonesia dengan negara di belahan dunia lainnya agar berbeda di tahun 2023 ini. Pasalnya pada Februari 2024 Indonesia akan menyelenggarakan Pemilu.
"Artinya, di tahun 2023 akan sudah mulai ada dana kampanye," katanya.
Situasi di Indonesia berbeda karena di tahun 2023 dan 2024 adalah tahun politik, yaitu persiapan menuju Pemilu. Bahkan Pemilu akan diselenggarakan serentak.
"Ditambah lagi akhir tahun 2024 akan ada Pilkada serentak," tambahnya.
Mengutip situs dari dpr.go.id, anggaran Pemilu mencapai Rp76,6 triliun. Artinya di tahun-tahun Pemilu akan ada banyak uang yang beredar di masyarakat.
Sehingga masyarakat akan spending untuk belanja dan mereka akan meningkatkan konsumsinya.
Pemilu 2024 memiliki efek yang lebih besar dibandingkan Pemilu di tahun 2014 dan 2019. Sebab, di tahun 2024 merupakan pertama kalinya Pemilu Legislatif dan Pemilihan Presiden dilakukan berbarengan.
"Lalu pertama kalinya Pilkada diadakan di tahun yang sama dan serentak. Jadi faktornya memang besar sekali," ungkapnya.
Persiapan Awal Tahun 2023 1. Tak ada resesiMelvin meyakini bahwa resesi seharusnya tidak terjadi bila merunut data yang ada. Terutama bagi Indonesia sendiri.
Menilik data BPS, perekonomian Indonesia pada triwulan III-2022 berdasarkan besaran PDB atas dasar harga berlaku mencapai Rp5.091,2 triliun atau atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp2.976,8 triliun.
Ekonomi Indonesia triwulan III-2022 terhadap triwulan sebelumnya mengalami pertumbuhan sebesar 1,81 persen (q-to-q).
Ekonomi Indonesia triwulan III-2022 terhadap triwulan III-2021 mengalami pertumbuhan sebesar 5,72 persen (y-on-y).
Sampai dengan triwulan III-2022, ekonomi Indonesia mengalami pertumbuhan sebesar 5,40 persen (c-to-c).
Secara spasial, perekonomian Indonesia pada triwulan III-2022 mengalami peningkatan di seluruh provinsi. Di mana kelompok provinsi di Pulau Jawa menjadi penyumbang utama dengan kontribusi sebesar 56,30 persen dan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,76 persen (y-on-y).
"Indonesia seharusnya tidak mengalami resesi, kecuali terjadi beberapa hal. Di antaranya terjadinya kembali kasus pandemi Covid-19 atau bahkan perang yang tak kunjung selesai," jelasnya.
2. Rencana dan ReviewTarget kemandirian keuangan, membeli rumah, atau menikah yang belum terwujud, bisa jadi karena orang tidak punya action plan.
Juga mungkin karena orang punya tujuan jelas tapi tidak melakukan review secara berkala. Jangan sampai target capaian ini hanya direview setahun sekali.
"Di tahun ini, kamu harus bikin rencana keuangan dan action plan yang jelas dan lakukan review berkala, paling tidak sebulan sekali," katanya.
3. ReboundTahun 2023 harusnya setiap orang sudah bisa rebound. Dengan cara kerja keras, mulai merencanakan keuangan, dan investasi.
"Mulai rencanakan keuangan, punya action plan, review keuangan, dan investasi kamu sebulan sekali. Ingat selalu hargai kerja kerasmu," tambahnya.
(bal)