LANGIT7.ID, Jakarta - Seorang muslim diharap tidak sembarangan mengamalkan ibadah di
bulan Rajab. Salah satunya soal anjuran berpuasa berdasarkan hadis yang statusnya palsu.
Bulan Rajab merupakan salah satu dari empat bulan haram yang disebutkan dalam Al-Quran dan hadis. Tahun 2023 ini, berdasarkan kalender digital
Kementerian Agama, 1 Rajab 1444 H dimulai pada Senin besok, 23 Januari.
Adapun di bulan haram, kaum muslimin dianjurkan untuk meningkatkan amal salihnya. Salah satunya dengan memperbanyak amalan
puasa sunnah.
Namun, puasa sunnah di bulan Rajab ini mesti berlandaskan dengan hadis Rasulullah SAW. Sehingga jangan sampai mengerjakan amalan yang tak pernah ada dalam
hadis Nabi Muhammad.
Pendakwah, Ustaz Adi Hidayat (UAH) menjelaskan, pada empat bulan haram, yakni Dzulqa'idah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab, kaum muslimin dianjurkan untuk memperbanyak puasanya.
"Jadi (puasa) tidak harus dikhususkan di Rajab. Jangan pula berpuasa dengan menggunakan hadis yang salah atau bahkan tak ada hadisnya," ujar dia di kanal YouTubenya, dikutip Ahad (22/1/2023).
Puasa di bulan Rajab, lanjut dia, pun tidak harus dibatasi waktunya. Di sisi lain, bulan Rajab juga menjadi kesempatan bagi kaum muslimin untuk meningkatkan amalan puasa sunnahnya.
"Untuk meningkatkan puasa ini misalnya bagi yang sudah terbiasa puasa Senin-Kamis bisa ditambah dengan Ayyamul Bidh, terus hingga puasa Daud," jelasnya.
Hadis Palsu Amalan Puasa di Bulan RajabSementara itu, pendiri Quantum Akhyar Institute ini menambahkan, ada hadis palsu terkait amalan puasa di bulan Rajab.
Kepalsuan hadis ini akan menjadi dosa bila disebarkan kepada orang lain untuk melakukan amalan tertentu, sekali pun yang diamalkan adalah perbuatan baik.
Di antara hadis palsu tersebut ada yang menyebutkan bahwa puasa sehari atau dua hari di bulan Rajab akan medapatkan pahala tertentu.
Lanjutan hadis palsu tersebut disebutkan bahwa barang siapa berpuasa selama tujuh hari di bulan Rajab akan dibukakan tujuh pintu surga, sementara berpuasa delapan hari berpuasa akan dibebaskan dari delapan pintu neraka.
"Ini bukan hadis palsu, tapi palsu banget. Jangan sampai mengajak orang lain untuk berbuat baik dengan mengatakan kalimat-kalimat yang disebut bahwa itu hadis. Dosa hukumnya sekalipun Anda mengajak pada kebaikan tapi dengan cara yang salah," jelasnya.
(bal)