LANGIT7.ID, Jakarta,- - Menjelang
bulan suci Ramadan, setiap Muslim sangat dianjurkan untuk membekali diri, baik dari segi fisik maupun kesiapan batin.
Persiapan ini penting agar seluruh rangkaian
ibadah Ramadhan dapat dijalankan dengan maksimal.
Baca juga: Perbanyaklah Tadarus Al-Qur'an dan Sedekah di Bulan SyabanSalah satu teladan yang diajarkan Rasulullah SAW adalah memperbanyak
puasa sunnah di bulan Sya’ban. Anjuran ini merujuk pada hadis sahih yang disampaikan oleh Aisyah RA, di mana beliau mengungkapkan bahwa Rasulullah SAW sering berpuasa sunnah di
bulan Sya’ban.
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ: لَا يُفْطِرُ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ: لَا يَصُومُ، فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ
Artinya:
“Diriwayatkan dari Sayyidah Aisyah RA, ia berkata: Rasulullah pernah berpuasa sampai aku mengatakan (dalam riwayat Anas: mengira) bahwa beliau tidak berpuasa, dan beliau berbuka puasa, sampai aku mengatakan (mengira) bahwa beliau tidak berpuasa. Aku tidak pernah melihat Rasulullah menyempurnakan puasa sebulan kecuali Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat Rasulullah puasa sunah sebanyak pada Sya’ban.” (HR Bukhari)
Riwayat tersebut menegaskan bahwa meski puasa satu bulan penuh hanya dikhususkan bagi Ramadan,
Rasulullah SAW mengintensifkan puasa sunnah di
bulan Sya’ban melebihi bulan-bulan lainnya.
Penjelasan ini pun didukung oleh riwayat lain yang menyatakan hal senada.
لَمْ يَكُنْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ
Artinya:
“Nabi Muhammad SAW tidak pernah melakukan puasa bulanan yang lebih banyak dari pada bulan Syaban. Sesungguhnya beliau puasa hampir sebulan penuh.” (HR Bukhari dan Muslim)
Baca juga: Tiga Doa yang Dianjurkan Dibaca di Bulan SyabanMerujuk pada rangkaian hadis tersebut, mayoritas ahli fikih dari
mazhab Hanafi,
Maliki, dan
Syafi'i menyimpulkan bahwa menjalankan puasa di bulan Sya'ban merupakan
amalan sunnah yang sangat dianjurkan.
Kesepakatan para ulama ini tertuang secara rinci dalam ensiklopedia fikih terbitan Kuwait.
ذَهَبَ جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ الْحَنَفِيَّةُ وَالْمَالِكِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ إِلَى اسْتِحْبَابِ صَوْمِ شَهْرِ شَعْبَانَ، لِمَا رَوَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهَا قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ. وَعَنْهَا قَالَتْ: كَانَ أَحَبُّ الشُّهُورِ إِلَى رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَصُومَهُ شَعْبَانَ، بَل كَانَ يَصِلُهُ بِرَمَضَانَ
Artinya:
“Mayoritas ahli fiqih dari kalangan Hanafiyah, Malikiyah, dan Syafi‘iyah berpendapat tentang dianjurkannya berpuasa di bulan Sya‘ban. Hal ini berdasarkan riwayat dari Sayyidah Aisyah RA, ia berkata, ‘Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW lebih banyak berpuasa daripada puasa beliau pada Sya’ban. Dan darinya pula, ia berkata: Bulan yang paling dicintai Rasulullah SAW untuk beliau berpuasa di dalamnya adalah Sya’ban, bahkan beliau menyambungkannya dengan puasa Ramadhan.” (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah [Kuwait: Dar As-Sahfwah], vol 28, h 95)
Selain memiliki dalil yang kuat, terdapat hikmah penting di balik anjuran puasa Sya’ban. Imam Az-Zarqani (wafat 1122 H) memaparkan bahwa amalan ini merupakan sarana persiapan sebelum Ramadan tiba.
Beliau berpendapat bahwa pembiasaan sejak dini akan membuat seseorang lebih ringan dalam menjalankan puasa Ramadan karena kesiapan fisik dan batinnya telah terbentuk.
وَقَدْ قِيلَ فِي صَوْمِ شَعْبَانَ مَعْنًى آخَرُ: وَهُوَ أَنَّ صِيَامَهُ كَالتَّمْرِينِ عَلَى صِيَامِ رَمَضَانَ، لِئَلَّا يَدْخُلَ فِي صِيَامِهِ عَلَى مَشَقَّةٍ وَكُلْفَةٍ، بَلْ يَكُونَ قَدْ تَمَرَّنَ عَلَى الصِّيَامِ وَاعْتَادَهُ، وَوَجَدَ بِصِيَامِ شَعْبَانَ قَبْلَ رَمَضَانَ حَلَاوَةَ الصَّوْمِ وَلَذَّتَهُ، فَيَدْخُلَ فِي صِيَامِ رَمَضَانَ بِقُوَّةٍ وَنَشَاطٍ
Artinya:
“Dan telah disebutkan makna lain dari puasa di bulan Sya’ban, yaitu bahwa puasa Sya’ban berfungsi sebagai latihan untuk puasa Ramadhan, agar seseorang tidak memasuki puasa Ramadan dalam keadaan berat dan penuh keterpaksaan. Sebaliknya, ia telah terlatih dan terbiasa berpuasa serta merasakan manis dan nikmatnya puasa melalui puasa Sya’ban sebelum Ramadhan. Dengan demikian, ia memasuki puasa Ramadhan dengan kekuatan dan semangat.” (Syarh Az-Zarqani [Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah], vol 11 h. 287)
Baca juga: Masuk Bulan Syaban, Saatnya Bayar Utang Puasa RamadhanSelain berfungsi sebagai latihan jasmani dan rohani, puasa pada Sya’ban juga memiliki keutamaan yang besar, salah satunya mendapatkan syafaat Rasulullah SAW pada hari kiamat.
Syekh Nawawi Al-Bantani (wafat 1316 H) dalam salah satu karyanya menuturkan:
وَالثَّانِي عَشَرَ صَوْمُ شَعْبَانَ، لِحُبِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صِيَامَهُ. فَمَنْ صَامَهُ نَالَ شَفَاعَتَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Artinya:
“Puasa sunnah yang keduabelas adalah Puasa Sya’ban, karena kecintaan Rasulullah SAW terhadapnya. Karenanya, siapa saja yang melaksanakan puasa, maka ia akan mendapatkan syafaat belau di hari kiamat.” (Nihayah Az-Zain fi Irsyad Al-Mubtadiin [Beirut: Dar Al-Fikr], vol 1, h 197)
Sejatinya, tata cara pelaksanaan puasa sunnah Sya'ban mirip dengan puasa sunnah lainnya. Niat puasa dilakukan di dalam hati dan dianjurkan untuk diucapkan secara lisan.
Berikut lafal niat puasa sunnah Sya'ban:
نَوَيْتُ صَوْمَ شَعْبَانَ لِلّٰهِ تَعَالَى
Artinya:
“Saya niat puasa Sya’ban karena Allah Ta’ala.”Baca juga: Mengenal Tradisi Ruwahan Masyarakat Jawa pada Bulan SyabanWaktu pelaksanaan niat puasa sunnah Sya’ban terbentang sejak malam hari hingga sebelum tengah hari (waktu zawal), selama seseorang belum melakukan sesuatu yang membatalkan puasa sejak subuh.
Mengisi bulan Sya’ban dengan puasa sunnah dan amal saleh lainnya adalah strategi terbaik bagi setiap Muslim.
Dengan persiapan yang matang, kitadapat menyambut Ramadan dalam kondisi fisik dan mental yang prima, sehingga setiap ibadah yang dikerjakan terasa lebih bermakna dan penuh kekhusyukan.
Wallāhu a‘lam bis ṣhawāb(est)