LANGIT7.ID, Jakarta - Allah Ta’ala menjabarkan ciri-ciri pemuda terbaik yang sesuai dengan Al-Qur’an dalam surah An-Nur ayat 37. Dia berfirman, “orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari Kiamat).”
Ada dua ciri utama yang dijabarkan dalam ayat tersebut. Pertama, pemuda yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah. Kedua, pemuda yang senantiasa mendirikan shalat dan menunaikan zakat.
Pengasuh Pesantren Mahasiswa Al-Hikam, Depok, Jawa Barat, KH Muhammad Yusron Shidqi, menjelaskan, para pemuda yang masuk dalam golongan tersebut merasa takut jika hati dan penglihatan menjadi guncang karena maksiat. Mereka selalu ingat Allah ketika berada pada situasi yang gampang membuat hati terbolak-balik.
Mereka takut mati dalam keadaan iman tak berada dalam hati, sehingga menghadap Allah pada hari kiamat tidak dalam keadaan beriman. Mereka selalu ingat bahwa semua amal ibadah akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Ta’ala di hari kiamat kelak.
Gus Yusron mengatakan, ayat tersebut memotret pemuda ideal yang diinginkan Al-Qur’ani atau pemuda Qur’ani. Sebab, dunia tidak akan pernah melalaikan hati mereka dari mengingat Allah. Mereka memiliki visi jangka pendek yakni keselamatan di dunia dan visi jangka panjang yaitu selamat di akhirat kelak.
“Pemuda-pemuda yang diharapkan oleh Al-Qur’an adalah orang yang memiliki dua visi itu,” kata ulama muda yang akrab disapa Gus Yusron, dikutip laman NU Online, Selasa (24/8/2021).
Meski memiliki dua visi itu, namun visi jangka panjang menjadi prioritas utama. Mereka tidak akan merasa galau jika visi jangka pendek tidak tercapai. Namun begitu, jalan pemuda Qur’ani tak mulus. Mereka akan mendapati ragam ujian keimanan. Itu termaktub dalam surah Al-Baqarah ayat 155.
"Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”.
Akan tetapi, pemuda Qur’ani mampu bertahan di tengah gempuran ujian meski cobaan bersifat berat dalam situasi normal dan tidak normal. Ia selalu tenang, karena hatinya dipenuhi iman dan tawakkal kepada Allah.
Sementara visi jangka panjang atau upaya mencari keselamatan akhirat digambarkan dalam surah Al-Qashash ayat 77. Allah Ta’ala berfirman:
"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan."
Dalam ayat tersebut, Allah memerintahkan hamba-Nya berjuang untuk selamat di negeri akhirat, tapi tidak melupakan bagian di dunia, sehingga dianjurkan berbuat baik kepada orang lain. Allah juga melarang hamba-Nya berbuat kerusakan di muka bumi.
Manusia pasti memiliki kecenderungan untuk mencintai hal-hal yang bersifat duniawi. Meski tak diminta mencari pun, manusia secara naluri akan mencari dunia untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Ada motif-motif manusia yang mendorong untuk mencari makan, berkeluarga, mencari keamanan hidup, hingga aktualisasi diri.
“Adapun yang akhirat inilah yang mesti dididik sejak usia dini. Orang-orang atau pemuda Qur’ani yang memiliki sifat seperti itu tentu akan kita upayakan, dan kita berdoa terus semoga kita termasuk orang-orang yang memiliki visi jangka pendek yang baik dan visi jangka panjang yang baik,” terang putra bungsu almarhum KH Hasyim Muzadi ini.
(jqf)