LANGIT7.ID - , Jakarta -
Stunting masih jadi permasalahan serius di Indonesia. Tak sedikit calon orang tua belum teredukasi sejak hamil untuk mencegah anak dari stunting. Penyebab utama permasalahan gizi pada anak adalah asupan gizi yang tidak optimal dan infeksi berulang.
Direktur Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)
Kementerian Kesehatan, Ni Made Diah mengatakan,
protein hewani dinilai efektif dalam mencegah anak mengalami stunting.
Baca juga: Kemenkes Kejar Penanganan Stunting dengan Antropometri di PosyanduDiah mengungkapkan, pangan hewani mempunyai kandungan zat gizi lengkap, kaya protein dan vitamin sangat penting dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan.
“Studi yang dilakukan oleh Headey et.al (2018) menyatakan ada bukti kuat hubungan antara stunting dan konsumsi pangan hewani pada balita 6-23 bulan, seperti susu atau produk olahannya, daging/ikan dan telur,” tutur Diah, dalam keterangan resmi, di laman Sehat Negeriku, Selasa (24/1/2023).
Penelitian tersebut menunjukkan konsumsi pangan berasal dari protein hewani lebih dari satu jenis jauh menguntungkan. Protein hewani penting dalam penurunan stunting.
Tingkat kecukupan konsumsi energi dan protein dapat digunakan sebagai indikator untuk melihat kondisi gizi masyarakat. Berdasarkan Susenas 2022, konsumsi protein nasion per kapita sudah berada di atas standar kecukupan yaitu 62,21 gram.
Baca juga: Muhadjir Effendy Dorong KUA Ikut Bantu Turunkan StuntingKendati demikian, angka itu masih cukup rendah untuk konsumsi protein hewani yaitu kelompok ikan, udang, cumi, kerang 9,58 gram; daging 4,79 gram; telur dan susu 3,37 gram.
Sementara itu berdasarkan data Food and Agriculture Organization (FAO), konsumsi telur, daging, susu dan produk turunannya di Indonesia termasuk yang rendah di dunia.
Konsumsi telur antara 4 hingga 6 kg per tahun. Konsumsi daging kurang dari 40 gram per orang, serta susu dan produk turunannya hanya 0 sampai 50 kg per orang per tahun. Telur merupakan sumber protein, asam amino dan lemak sehat.
Sedangkan susu mengandung protein dan kalsium. Makan telur matang dengan susu membuat asupan protein manusia seimbang.
Ketua Umum Pergizi Pangan Indonesia, Prof. Hardiansyah mengatakan, dasar dari pertumbuhan tulang itu ada pada tulang rawan. Zat gizi dari pangan hewani bisa membentuk tulang rawan tersebut.
Baca juga: Wapres Ma'ruf Amin: Stunting Bisa Jadi Materi Ceramah Dai“Artinya jangan hanya berpikir tentang kalsium dan mineral, tapi ketika ingin pertumbuhan tulang normal maka perlu juga protein hewani,” ucap Prof. Hardiansyah.
Asupan protein hewani pada ibu hamil sangat penting dalam mencegah stunting pada janin yang dikandungnya.
Wakil Ketua Perhimpunan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) Budi Wiweko menjelaskan pentingnya protein hewani dalam 270 hari pertama kehidupan atau 9 bulan dapat mencegah anak dari stunting.
Selain itu, lebih penting dalam mencegah anak lahir stunting adalah 100 hari sebelum terjadinya kehamilan atau persiapan kehamilan. Pada masa tersebut calon ibu dianjurkan mengonsumsi tinggi protein untuk persiapan sel telur dan sperma terbaik, sehingga menghasilkan embrio serta janin yang berkualitas.
“Studi kita menunjukkan, ibu hamil kita konsumsinya sebagian besar masih karbohidrat, sementara asupan protein masih sangat kurang,” ungkap Budi.
Konsumsi tinggi protein hewani selain mencegah stunting juga dapat menurunkan morbiditas maternal dan perinatal. Protein hewani mampu mencegah terjadinya pertumbuhan janin terhambat, dan eklamsia berat.
(est)