LANGIT7.ID - , Jakarta -
Spotify Technology menungkapkan akan
memangkas 6 persen tenaga kerjanya. Platform audio streaming ini mengungkapkan keputusan PHK bertujuan menghemat biaya hingga hampir USD50 juta atau sekitar Rp747 miliar untuk persiapan kemungkinan resesi di 2023.
Total karyawan Spotify saat ini berjumlah 9.800 orang. Adapun karyawan yang terkena pemangkasan diprediksi mencapai 600 orang.
Ini disampaikan CEO Spotify Daniel Ek dalam situs resmi perusahaan. Daniel mengatakan, keputusan tersebut sulit, tapi perlu diambil.
Baca juga: Google Isyaratkan PHK Massal, CEO: Sulit Memprediksi Masa Depan"Layaknya pemimpin lain, Saya berharap untuk mempertahankan tren baik dari pandemi, dan percaya bisnis global yang luas serta risiko yang lebih rendah terhadap dampak perlambatan iklan akan melindungi kami. Saya terlalu ambisius dalam berinvestasi terlebih dahulu sebelum melihat pertumbuhan pendapatan," ungkap Daniel, dalam keterangan tertulis di laman Newsroom Spotify, dikutip LANGIT7.ID, Selasa (24/1/2023).
Pengeluaran operasional Spotify tumbuh dua kali lipat dari pendapatannya di 2022 karena perusahaan secara agresif menuangkan uang ke dalam bisnis podcast-nya. Layanan podcast dianggap lebih menarik bagi pengiklan karena tingkat keterlibatan penonton lebih tinggi.
Spotify membuat komitmen besar untuk podcast sejak 2019. Perusahaan menghabiskan lebih dari USD1 miliar atau sekitar Rp14 triliun untuk mengakuisisi jaringan podcast, perangkat lunak, hosting, dan hak atas acara populer seperti The Joe Rogan Experience dan Armchair Expert.
Baca juga: Microsoft PHK 10.000 Karyawan Bertahap hingga Akhir Maret 2023Namun, investasi tersebut belum memberikan keuntungan kepada para investor. Pada Juni 2022, eksekutif Spotify mengungkapkan bisnis podcastnya baru akan menguntungkan dalam satu hingga dua tahun ke depan.
Spotify menambah daftar panjang perusahaan digital yang melakukan PHK. Sebelumnya, sudah ada Google yang memangkas 12.000 karyawannya. Beberapa perusahaan lainnya yang sudah PHK pegawai adalah Microsoft, Meta, Twitter, dan Amazon.
Dengan alasan yang sama, perusahaan teknologi sempat melakukan perekrutan secara agresif selama periode pandemi Covid-19. Ini dianggap untuk memfasilitasi kebutuhan konsumen yang mobilitas dibatasi dan beralih ke online.
Namun, permintaan layanan digital mulai menurun karena kembalinya aktivitas fisik masyarakat. Ditambah dengan kondisi perekonomian global, lonjakan inflasi serta pengetatan kebijakan moneter yang agresif.
(est)