Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Ahad, 14 Juni 2026
home community detail berita

Belajar Ketahanan Psikologis Keluarga Sunda, Terikat Nilai Agama dan Budaya

Muhajirin Kamis, 26 Januari 2023 - 15:53 WIB
Belajar Ketahanan Psikologis Keluarga Sunda, Terikat Nilai Agama dan Budaya
Keluarga Sunda (foto: Indonesia Tempo Doeloe)
LANGIT7.ID, Jakarta - Psikolog Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Yunitas Sari, mengatakan, kompleksitas permasalahan keluarga berpotensi melemahkan institusi negara sebagai pondasi kekuatan negara. Salah satu inspirasi dalam menjaga ketahanan keluarga ada dalam tradisi masyarakat sunda.

Dia menjelaskan, hasil penelitian memperlihatkan ketahanan psikologis keluarga Sunda merupakan kondisi sauyunan (harmoni). Harmoni itu diperoleh dari adanya prinsip sineger tengah (keseimbangan) antara implementasi nilai agama dari agama dan tali paranti

“Antara penguatan relasi keluarga inti, keluarga besar dan lingkungan sosial yang difasilitasi dengan leuleus liat (fleksibilitas) secara kontinuitas,” kata Yunita Sari, dikutip laman resmi UGM, Kamis (26/1/2023).

Baca Juga: Empat Peran Muslimah Indonesia Bangun Ketahanan Keluarga

Menurut dia, terdapat lima faktor yang berperan membentuk ketahanan psikologis keluarga Sunda yang bersifat kontinum dan memperkuat leuleus liat. Faktor itu di antaranya internalisasi nilai-nilai di dalam keluarga, kemandirian dan ketergantungan, keterbukaan dan komunikasi, kontinuitas belajar dan mengubah diri, serta pertemanan dan lingkungan sosial.

Oleh karena itu, konsep keluarga bagi orang Sunda yang memiliki perbedaan dengan konsep nuclear family dan extended family dari negara Barat. Bagi masyarakat Sunda, konsep keluarga terdiri dari dulur dan baraya.

Dulu merupakan orang terdekat dengan ego (diri) yaitu orang tua dan saudara kandung. Sedangkan, baraya adalah semua orang yang memiliki pertalian kekerabatan. Dulur mengacu pada saudara kandung ego (diri), orang tua ego (diri). Meski ego (diri) telah menikah, sehingga terdiri dari kakek-nenek, anak dan cucu.

Hal itu berbeda dengan masyarakat pada umumnya yang berfokus pada konsep Barat dengan menggunakan terminology nuclear family atau keluarga inti yang mengacu pada ayah, ibu, dan anak serta extended family atau keluarga besar. Itu mengacu pada keluarga sedara seperti kakek-nenek, sepupu, bibi-paman.

Baca Juga: Tips Agar Keluarga Tetap Kokoh di Era Industri 4.0

Adanya perubahan kondisi sosial yang mengarah pada individualitas yang berfokus pada nuclear family mengaburkan konsep keluarga Sunda yang berfokus pada dulur setelah ego (diri) menikah atau membangun keluarga baru.

“Untuk itu, ketahanan psikologis keluarga Sunda terikat dengan relasi serta nilai agama dan budaya,” ujar Yunita.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Ahad 14 Juni 2026
Imsak
04:29
Shubuh
04:39
Dhuhur
11:56
Ashar
15:17
Maghrib
17:49
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)