LANGIT7.ID, Jakarta - Psikolog Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Yunitas Sari, mengatakan, kompleksitas permasalahan keluarga berpotensi melemahkan institusi negara sebagai pondasi kekuatan negara. Salah satu inspirasi dalam menjaga ketahanan keluarga ada dalam tradisi masyarakat sunda.
Dia menjelaskan, hasil penelitian memperlihatkan ketahanan psikologis keluarga Sunda merupakan kondisi sauyunan (harmoni). Harmoni itu diperoleh dari adanya prinsip sineger tengah (keseimbangan) antara implementasi nilai agama dari agama dan tali paranti
“Antara penguatan relasi keluarga inti, keluarga besar dan lingkungan sosial yang difasilitasi dengan leuleus liat (fleksibilitas) secara kontinuitas,” kata Yunita Sari, dikutip laman resmi UGM, Kamis (26/1/2023).
Baca Juga: Empat Peran Muslimah Indonesia Bangun Ketahanan Keluarga
Menurut dia, terdapat lima faktor yang berperan membentuk ketahanan psikologis keluarga Sunda yang bersifat kontinum dan memperkuat leuleus liat. Faktor itu di antaranya internalisasi nilai-nilai di dalam keluarga, kemandirian dan ketergantungan, keterbukaan dan komunikasi, kontinuitas belajar dan mengubah diri, serta pertemanan dan lingkungan sosial.
Oleh karena itu, konsep keluarga bagi orang Sunda yang memiliki perbedaan dengan konsep
nuclear family dan
extended family dari negara Barat. Bagi masyarakat Sunda, konsep keluarga terdiri dari dulur dan baraya.
Dulu merupakan orang terdekat dengan ego (diri) yaitu orang tua dan saudara kandung. Sedangkan, baraya adalah semua orang yang memiliki pertalian kekerabatan. Dulur mengacu pada saudara kandung ego (diri), orang tua ego (diri). Meski ego (diri) telah menikah, sehingga terdiri dari kakek-nenek, anak dan cucu.
Hal itu berbeda dengan masyarakat pada umumnya yang berfokus pada konsep Barat dengan menggunakan
terminology nuclear family atau keluarga inti yang mengacu pada ayah, ibu, dan anak serta
extended family atau keluarga besar. Itu mengacu pada keluarga sedara seperti kakek-nenek, sepupu, bibi-paman.
Baca Juga: Tips Agar Keluarga Tetap Kokoh di Era Industri 4.0
Adanya perubahan kondisi sosial yang mengarah pada individualitas yang berfokus pada nuclear family mengaburkan konsep keluarga Sunda yang berfokus pada dulur setelah ego (diri) menikah atau membangun keluarga baru.
“Untuk itu, ketahanan psikologis keluarga Sunda terikat dengan relasi serta nilai agama dan budaya,” ujar Yunita.
(jqf)