LANGIT7.ID, Jakarta - Terdapat logika baru di dalam masyarakat industri yang berbeda dari tatanan lama terkait nilai-nilai keluarga. Gerak mesin pabrik memproduksi barang secara massal menjadi penanda era modern.
Ketika gerak tersebut mendesak sampai ke dalam rumah, maka menjadi peringatan bagi keluarga untuk lebih hati-hati. Terlebih jika logika mesin tersebut menjadi dasar teknologi informasi.
Baca Juga: Kiat Optimalkan AC Tanpa Cemas Tekor di Tagihan ListrikEra industri 4.0 merupakan varian dari watak teknologi tersebut. Bukan hanya produk seperti gawai, tetap dalam pola interaksi antarmanusia baru sebagai dampak efisiensi penyebaran dan pertukaran informasi. Keadaan tersebut membawa dampak baru dalam ketahanan keluarga.
"Dengan big data, misalnya, orang lain yang tak kita kenali bisa serta-merta mengenal kita, keluarga, lingkaran pertemanan, dan kesukaan," kata Doktor Ilmu Tafsir Universitas Al-Azhar Dr Saiful Bahri, dikutip kanal Insists, Rabu (25/8/2021).
Mengutip lembaga penelitian kecerdasan buatan di Jerman, Deutsche Forchungszentrum für Künstliche Intelligenz (DFKI), terdapat empat perkembangan teknologi industri secara kronologis dan dampaknya bagi kehidupan.
Tahap ketiga dari perkembangan itu berbarengan dengan penemuan komputer sebagai barang berharga bagi pekerjaan manusia. Perputaran uang dan informasi yang gencar terjadi untuk partama kalinya di dunia ini akibat komputerisasi segala hal.
Baca Juga: Kasus Langka Ibu Positif Covid-19 Saat Hamil, Bayi Lahir tak BernyawaDr Saiful menjelaskan, solusi terbaik untuk membuat keluarga tetap kokoh di era industri 4.0 sudah pasti, yakni kembali kepada Al-Qur’an. Terdapat delapan aspek yang mesti diperhatikan untuk bekal ketahanan keluarga.
Aspek itu yakni akidah (Ibrahim: 35), identitas (Al-baqarah: 138), ilmu dan pendidikan (Al-Mujadalah: 11), ekonomi dan etos kerja (An-Nisa: 9), cinta dan harmonisasi (Al-Furqon:74). Selanjutnya, kepribadian (kisah-kisah Nabi Yusuf), persaudaraan (Hujurat: 10), dan visi serta cita-cita (Asy-Syu’ara: 83-84).
Landasan tersebut dapat diproyeksikan kepada persoalan konkret hari ini, ketika hampir semua keluarga muslim di kota-kota besar memiliki gadget. Terkait dengan akidah, misalnya, Dr Saiful Bahri menjelaskan pola hubungan manusia dan Allah Ta’ala. Sebagai subjek, manusia adalah hamba.
"Karena itu, peradaban Islam tidak melulu merujuk pada warisan materi, tetapi yang terutama adalah warisan ilmu," ucap Dr Saiful Bahri.
Baca Juga: Masjid-Masjid di AS Kumpulkan Donasi Bantu Pengungsi AfghanistanSebagai objek, manusia adalah mahluk yang mesti berahlak sesuai ahlak Allah Ta’ala. Dengan ahlak yang benar, harmonisasi, cinta, dan persaudaraan akan terjadi, tanpa perlu menghadapi jurang antargenerasi. Jika petunjuk dari Allah ini dilupakan begitu saja, krisis demi krisis akan terjadi.
(asf)