LANGIT7.ID-, Bekasi - - Tantangan sosial kemasyarakatan yang kian kompleks hari ini dinilai berakar dari rapuhnya fondasi di tingkat keluarga. Oleh karena itu, penguatan fungsi keluarga menjadi harga mati untuk membentengi generasi muda dari penyimpangan akidah maupun moral, termasuk maraknya kampanye
LGBT, ateisme, dan agnostisisme.
Hal tersebut ditegaskan oleh Pengurus
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bekasi, Ustaz Abu Deedat. Ia menjelaskan bahwa Al-Qur'an memberikan perhatian yang sangat besar terhadap isu ini, di mana terdapat sekitar 140 ayat yang membahas tentang keluarga.
Baca juga: Soroti Maraknya Kampanye LGBT, PB Pemuda Muslimin Desak Regulasi Segera Dibuat
"
Ketahanan keluarga dalam Islam itu dimulai sejak titik awal memilih pasangan. Surah Al-Baqarah ayat 221 secara tegas mengingatkan pentingnya faktor agama dalam memilih jodoh. Dari sana, orientasi akhir sebuah rumah tangga dibentuk, yaitu untuk menyelamatkan diri dan keluarga dari api neraka, sebagaimana perintah dalam
Surah At-Tahrim ayat 6," ujar Ustaz Abu Deedat, Jumat (3/7/2026).
Merujuk pada
surat An-Nisa ayat 9, ia juga mengingatkan umat Islam agar memiliki kekhawatiran yang besar jika meninggalkan generasi yang lemah (
dzurriyyatan dhi'afan) di belakang mereka, baik secara ekonomi, moral, maupun spiritual.
Guna mewujudkan benteng pertahanan yang kokoh di rumah, Ustaz Abu memaparkan tiga peran krusial yang wajib dijalankan oleh orang tua. Pertama,
ad-Daur al-Bina'i (peran pembinaan).
Orang tua bertugas membangun fondasi keagamaan anak sejak dini (
addibhum wa allimhum; didik dan ajari mereka). Salah satu langkah konkretnya adalah membiasakan ibadah, khususnya shalat.
"Sesuai tuntunan hadis, perintahkan anak shalat sejak usia tujuh tahun, beri konsekuensi yang mendidik di usia sepuluh tahun, dan mulailah memisahkan tempat tidur mereka untuk menanamkan batasan privasi dan moralitas," jelasnya.
Kedua, ad-Daur al-Wiqa'i (peran pencegahan). Orang tua harus berfungsi sebagai pelindung yang aktif menghalau pemahaman dan perilaku menyimpang.
Baca juga: Viral Narasi Gay Parenting di Threads, Pelaku LGBT Edit Foto Keluarga Milik Orang
Dalam menghadapi pemahaman menyimpang seperti ateis atau agnostik, orang tua wajib memperkuat pendidikan akidah secara praktis, seperti menanamkan pemahaman fundamental mengenai perbedaan antara Khaliq (Pencipta) dan Makhluq (ciptaan).
Kemudian menghadapi perilaku menyimpang, seperti LGBT, orang tua perlu menanamkan nilai moral dengan menjelaskan sejarah dan konsekuensi nyata lewat kisah kaum Nabi Luth AS sebagai pembelajaran (ibrah).
"Jika anak terlanjur terpapar dampak negatif, baik secara pola pikir maupun perilaku, orang tua tidak boleh lepas tangan," ujarnya.
Ustaz Abu mengutip pandangan psikiater Prof Dadang Hawari yang menyatakan bahwa jika seorang anak ditegur karena kenakalannya, maka orang tua juga harus mengevaluasi diri mengapa sampai lalai.
"Setiap anak lahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanyalah yang kemudian mewarnai dan membentuk arah tumbuh kembangnya, apakah akan tetap di atas fitrah atau menyimpang," tambahnya, menyitir hadis riwayat Bukhari dan Muslim.
Selain ketiga peran strategis di atas, ia menekankan bahwa metode penyampaian orang tua harus berbasis pada pendekatan kasih sayang. Terdapat tiga cara utama untuk mengimplementasikannya:
Pertama, membangun komunikasi yang baik dengan menjaga lisan di depan anak. Sesuai hadis Nabi SAW, barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka berkatalah yang baik atau diam.
Baca juga: Dukung Wacana Regulasi LGBT, Komisi III DPR: Negara Harus Hadir Lindungi Anak
Kedua, menjadi pendengar yang baik. Anak membutuhkan ruang aman untuk bercerita.
"Prinsipnya tegas,
man la yarham, la yurham (barang siapa tidak menyayangi, maka tidak akan disayangi)," ucapnya.
Ketiga, menjadi teladan kebaikan (
uswah hasanah) dengan mengambil teladan dari Nabi Ibrahim AS yang sukses mengasuh keturunannya menjadi generasi yang saleh dan tangguh, bahkan di lingkungan yang tandus sekalipun.
"Keluarga adalah madrasah pertama dan utama. Dengan memperkuat ketahanan keluarga, kita sedang menyelamatkan masa depan bangsa dan menjaga kemurnian akidah generasi penerus dari segala bentuk penyimpangan," pungkasnya.
(est)