LANGIT7.ID - , - Sultan Al-Neyadi akan menjadi
astronaut utama misi berawak kedua dari Program Astronot
Uni Emirat Arab (UEA) ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Selama diorbit, dia berkomitmen tetap menjalankan puasa Ramadhan.
Al-Neyadi yang dijuluki "Sultan Luar Angkasa" oleh almamaternya, akan meluncur pada 26 Februari ke Stasiun
Luar Angkasa Internasional (ISS) menggunakan roket SpaceX Falcon 9. Ia akan berada di luar angkasa selama 6 bulan.
Baca juga: John McFall, Calon Astronot Disabilitas Pertama di DuniaOrang Emirat kedua yang melakukan perjalanan ke luar angkasa ini mengatakan ingin merayakan
bulan suci Ramadhan di langit sana. Sebagaimana umat Islam di bumi yang berpuasa dari fajar hingga matahari terbenam.
Namun, berpuasa di luar angkasa, menurutnya, akan menghadirkan tantangan unik. Puasa di orbit tidak sama dengan di bumi.
"ISS melakukan perjalanan dengan cepat ... artinya ia mengorbit mengelilingi Bumi dalam 90 menit," katanya kepada wartawan di Dubai dilansir Alarabiya, Jumat (3/2/2023).
"Rata-rata, ada 16 matahari terbit dan terbenam setiap hari ... Kapan kamu (mulai dan) berbuka puasa?" Imbuhnya.
Baca juga: Arab Saudi Bakal Kirim Astronot Wanita ke Luar Angkasa Tahun DepanAl-Neyadi mengatakan dia bisa berpuasa sesuai dengan waktu GMT, yang digunakan di ISS, jika keadaan memungkinkan. Puasa, sebenarnya, tidak wajib bagi kelompok orang tertentu, termasuk mereka yang sedang bepergian atau tidak sehat.
"Saya akan mempersiapkan bulan Ramadhan dengan niat untuk berpuasa," kata al-Neyadi.
Selama perjalanan, Al-Neyadi akan mempelajari dampak microgravity pada tubuh manusia dalam persiapan untuk misi masa depan ke Bulan dan Mars. Ini sudah menjadi perjalanan panjang bagi al-Neyadi, yang bertugas selama 20 tahun di militer UEA.
Enam bulan "mungkin tampak seperti waktu yang lama, tetapi saya tidak keberatan karena jadwalnya padat."
Baca juga: Jaket Astronot Ini Terjual Rp40 Miliar, Pernah Dipakai ke Bulan(est)