LANGIT7.ID-, Jakarta- - Sekretaris Jenderal Kerja Sama Multilateral Kementerian Luar Negeri RI, Yohpy Ichsan Wardana, mendorong Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) untuk mempromosikan dunia kearsipan sebagai sumber utama sejarah dunia Islam.
Dia menyampaikan hal tersebut dalam pertemuan Pendahuluan Forum Kerja Sama Arsim Nasional Negara-Negara Berpenduduk Mayoritas Muslim dan Seminar Arsip Sejarah Peradaban Islam dan Diplomasi Internasional yang digelar oleh ANRI yang disiarkan secara daring.
Ada Sembilan perwakilan negara Islam hadir dalam acara tersebut. Kesembilan negara itu adalah Arab Saudi, Malaysia, Maroko, Iraq, Palestina, Kuwait, Qatar, Yordania, dan Brunei Darussalam.
Yohpy menjelaskan, acara tersebut pertama kali diadakan di Indonesia dan dapat menyatukan negara-negara Islam serta diadakan bersamaan dengan banyaknya tantangan yang dihadapi negara-negara Islam saat ini.
Menurut dia, pengetahuan yang baik tentang sejarah akan menghasilkan pemahaman yang baik juga. Arsip bisa digunakan sebagai jembatan untuk memperbaiki kesalahan masa lalu. Umat Islam saat ini juga bisa mempelajari peradaban Islam yang berjaya pada masa lalu.
“Lewat arsip kita bisa mempelajari tentang peradaban Islam dunia, bahwa masa keemasan Islam tidak hanya sesuatu dari masa lalu, namun juga berisi pengetahuan, budaya, filosofi, dan politik. Dengan kemunculan Islam pada abad ke-14, peradaban ini memberikan kontribusi yang signifikan pada peradaban manusia hingga munculnya peradaban yang modern seperti saat ini,” kata Yohpy.
Yohpy juga memberikan tiga saran yang harus dipertimbangkan dalam kerja sama arsip tersebut. Pertama, kolaborasi harus mampu menghasilkan pembangunan baru yang konkret, dapat memperkuat sinergi dengan mekanisme yang sudah ada di bawah naungan SARBICA, melalui kolaborasi yang fokus pada hasil yang bermanfaat.
“Kedua, kita harus dapat mempromosikan dunia kearsipan sebagai sumber utama sejarah dunia Islam, termasuk dalam mencari referensi solusi atas permasalahan sosial seperti kemiskinan dunia,” ujarnya.
Ketiga, kerjasama dengan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) menjadi kunci utama. Itu karena OKI telah membangun kerja sama yang luas di antara para anggotanya dalam mengedukasi tentang hak asasi manusia, pengetahuan hingga bidang perdagangan dan investasi.
“Kita harus melihat kembali pentingnya kerja sama, sehingga dapat mengatasi permasalahan tantangan global yang terjadi saat ini,” ujar Yohpy.

(ori)