Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 21 Juli 2026
home global news detail berita

Pentingnya Panen Air, Cara Adaptasi dengan Anomali Iklim

Muhajirin Sabtu, 15 Juli 2023 - 15:00 WIB
Pentingnya Panen Air, Cara Adaptasi dengan Anomali Iklim
Peneliti Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air (PRLSDA) BRIN, Nani Heryani
LANGIT7.ID-, Jakarta- - Metode panen air merupakan salah satu cara untuk terus menjaga ketersediaan air. Umat manusia tengah menghadapi perubahan iklim. Panen air bisa menjadi salah satu upaya adaptasi terhadap anomali iklim.

Air yang dipanen saat musim penghujan dengan metode tampung dan upaya konservasi air lainnya, diharapkan dapat meningkatkan ketersediaan air. Selain itu, untuk meningkatkan produktivitas lahan kering di bidang pertanian, dan mengubah orientasi tenaga kerja menjadi orientasi teknologi.

Peneliti Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air (PRLSDA) BRIN, Nani Heryani, mengungkapkan, Indonesia mempunya curah hujan tinggi, dengan variasi di beberapa daerah yang memiliki curah hujan rendah.

"Kondisi ini yang menyebabkan kita harus memanen air, karena diprediksi beberapa daerah di Indonesia akan mengalami defisit air. Khususnya Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara," kata Nani dalam webinar PRLSDA seri 33, dikutip Sabtu (15/7/2023).

Baca juga:Cara Keluar dari Masalah dalam Islam: Berpegang Al Quran dan Sunnah

Doktor lulusan Institut Pertanian Bogor ini menambahkan, prinsipnya terdapat dua pendekatan dan strategi umum untuk panen air. Pertama, pemanfaatan dan optimalisasi air permukaan dengan beberapa cara, seperti membuat embung atau waduk mikro, dam parit atau bendungan kecil, dan long storage atau tampungan air memanjang.

Cara kedua, dengan pemanfaatan curah hujan yang ditampung dalam bak penampung. Bak tersebut digunakan untuk keperluan domestik atau rumah tangga. Desain penentuan jenis infrastruktur panen air untuk keperluan irigasi, tergantung karakteristik sumber airnya.

"Dari berbagai jenis infrastruktur panen air, dam parit memiliki kapasitas pasokan irigasi paling tinggi, sehingga dapat mengairi lahan yang sangat luas," ungkap Nani.

Dengan mengimplementasikan teknik panen air, distribusinya dapat diatur menjadi lebih merata. Teknik panen air juga dapat meningkatkan luas lahan, kerapatan vegetasi, meminimalkan penutup tanah. Hal itu juga dapat mengatur pola dan masa tanam yang tepat, meningkatkan nilai tambah air, serta meningkatkan peran kelembagaan di level petani.

Kunci dari optimalisasi pemanfaatan infrastruktur panen air, yaitu dengan pilihan komoditas yang tepat. Kemudian, teknik pemberian irigasi hemat air. Sistem panen air hujan untuk keperluan domestik terdiri dari empat elemen dasar, yaitu daerah tangkapan air, pengangkutan, penyimpanan, dan penyaluran.

"Masyarakat di beberapa wilayah yang menampung air hujan dan langsung menggunakannya, kerap mengeluh giginya cepat keropos. Hal ini dikarenakan kandungan asam dalam air hujan, selain itu juga dapat mengiritasi kulit," ucap Nani.

Dengan demikian, air hujan tidak disarankan untuk digunakan langsung, terlebih dikonsumsi. Perlu sterilisasi air hujan melalui metode SODIS (Solar Water Disinfection). Cara tersebut merupakan cara sederhana untuk memperoleh air minum yang sehat dengan memanfaatkan sinar matahari.

Baca juga:Kemenag Sebut Potensi Zakat Rp400 T, Baru Terkumpul Rp22 T

Nani menambahkan, kapasitas tangki penampungan air optimum ditentukan berdasarkan luas daerah tangkapan. Adanya pola curah hujan, jumlah pengguna dalam rumah tangga, dan tingkat kebutuhan, serta ketersediaan air.

"Kami pernah melakukan simulasi membuat kebutuhan tangki air untuk rumah tangga di Lombok Barat, NTB. Luas tangkapan air 35.77 m2, runoff 0,85, dan curah hujan tahunan 1367, maka air yang dipanen sebanyak 41,56m3," ulasnya.

Rumah tangga tersebut, lanjut Nani, terdiri dari 2 orang yang mengkonsumsi air sebanyak 35 liter/kapita/hari, sehingga kebutuhannya 2,10 m3/bulan. Artinya, tangki yang harus dibuat berukuran 20,08 m3.

Dia juga menyampaikan tentang sebaran potensi pembangunan embung skala kecil dan bangunan penampung air lainnya di Indonesia pada 2018. "Berdasarkan data tersebut, terdapat 3.902 unit embung, sejumlah 7.991 unit dam parit, dan sebanyak 2.337 unit long storage. Adapun bangunan air lainnya sebanyak 15.881 unit," ungkapnya.



(ori)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 21 Juli 2026
Imsak
04:35
Shubuh
04:45
Dhuhur
12:03
Ashar
15:24
Maghrib
17:57
Isya
19:09
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan