LANGIT7.ID, Jakarta - Presiden pertama Soekarno membangun masjid untuk menghargai jasa-jasa pahlawan yang gugur di medan perang. Masjid ini dinamai Masjid Syuhada yang berada di Yogyakarta.
Masjid Syuhada ini diperuntukan bagi pahlawan dari golongan ulama dan santri yang sudah berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Rumah ibadah ini dibangun pada 1949 dan masih ada hingga sekarang ini.
"Bung Karno sebagai Presiden pertama membangun bukan bangunan monumen, tapi adalah masjid, yaitu Masjid Syuhada," kata sejarawan Ahmad Mansur Suryanegara dalam webinar yang digelar Bimas Islam, Senin (30/8/2021).
Baca Juga: Sosok Ustadz Jazir di Balik Masjid Jogokariyan YogyakartaMasjid Syuhada dibangun Bung Karno untuk mengenang para pejuang yang gugur menyerbu Jepang di Kotabaru pada 7 Oktober 1945. Dalam pembangunan masjid ini, Bung Karno tidak hanya memberi sumbangan moril saja, tetapi juga dukungan material.
Dia menyumbang Rp100.000 untuk membuat kubah persada. Masjid yang terkenal dengan nama masjid nasionalis ini memiliki sejumlah bagian penting dalam rancangan bangunannya.
Seperti 17 anak tangga di bagian depan, delapan segi tiang gapuranya dan empat kupel bawah serta lima kupel atas. Keseluruhan bangunan terdiri tiga lantai, di bawah untuk ruangan kuliah, dilengkapi 20 jendela yang diharapkan menjadi peringatan atas 20 sifat Allah SWT.
Di lantai dua untuk ruang shalat bagi kaum perempuan, terdapat dua tiang yang seolah-olah menyangga bangunan yang menggambarkan dua buah iktikad manusia.
Sedang di lantai tiga sebagai ruang shalat utama, termasuk shalat Jumat di mihrabnya terdapat lima lubang angin yang memberi gambaran sekaligus mengingatkan kepada masyarakat muslim rukun Islam.
Menurut Suryanegara, pembangunan Masjid Syuhada merupakan pengakuan dari pemerintah Indonesia bahwa kemerdekaan kita bukan hadiah Jepang, tapi perjuangan yang banyak korbannya, banyak yang gugur dari kalangan ulama pejuang. Untuk mengenang yang gugur maka masjid itu diberi nama Syuhada yang berarti pahlawan.
Lebih luas lagi, pengakuan negara atas kiprah perjuangan ulama dan kaum santri diwujudkan dalam peringatan Hari Santri pada 22 Oktober merujuk pada Resolusi Jihad KH Hasyim Asyari dan Hari Pahlawan 10 November.
(bal)