Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Kamis, 23 April 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Jangan Asal Unggah, Perhatikan Adab Bermedia Sosial

Muhajirin Sabtu, 05 Agustus 2023 - 18:15 WIB
Jangan Asal Unggah, Perhatikan Adab Bermedia Sosial
Jangan asal mengunggah, ada adab yang harus diperhatikan dalam bermedia sosial.
LANGIT7.ID-, Jakarta- - Media sosial merupakan ruang publik. Seseorang yang hendak tampil di ruang publik perlu menjaga banyak kondisi hati, seperti menjaga hati dari sikap riya. Ruang publik memberikan kesempatan setiap orang untuk menampilkan dirinya. Sekalipun seseorang itu sedang berada dalam kamar, media sosial bisa membawa seseorang ke ruang publik.

Pendiri Formula Hati, Ustadz Muhsini Fauzi, menjelaskan, ketika seseorang berada di media sosial, maka dia sedang berada di ruang publik, sehingga harus menjaga aurat, harus menjaga adab bertegur sapa, menjaga adab dalam menerima berita dan seterusnya.

"Seseorang berada di area yang memiliki hukum positif yang menjerat atau memantaunya. Kita perlu mengetahui urusan yang terkait dengan hukum ini, misal hukum UU-ITE, KUHP, dan lain sebagainya," kata Ustadz Fauzi dalam Kajian Akhlak dan Adab Formula Hati melalui zoom, dikutip Sabtu (5/8/2023).

Seseorang perlu tunduk di hal-hal yang berifat publik. Misalnya, seseorang telah memasukkan konten seperti pembicaraan dan gambar tidak akan pernah bisa dihapus. Ustadz Fauzi mengistilahkan, di ruang publik tidak ada ruang pertaubatan.

Baca juga:5 Tips Membuat Konten Dakwah di Media Sosial

"Misal, seseorang yang membuka aurat, ditayangkan di media sosial, menjadi viral dan banyak orang yang mengikutinya, hal ini menjadi satu tantangan ketika suatu saat ia bertaubat dan hendak menghapus semua jejak dan dampak perbuatannya yang lampau," ungkap Ustadz Fauzi.

Maka itu, setidaknya ada lima ada bermedia sosial yang harus diperhatikan setiap orang, terutama seorang muslim, di antaranya:

1. Berbicara, Menulis, dan Membuat konten yang Baik
Setiap orang hendaknya berbicara dengan baik, menulis yang baik, dan membuat konten yang baik. Itu dilakukan saat berselancar di ruang maya. Media sosial tidak terikat waktu dan tempat. Seseorang yang berada di tempat tidur di belahan bumi barat bisa saja berbicara dengan manusia di timur.

Namun, hal yang perlu diketahui adalah semua hal yang baik itu dikembalikan kepada syariah. Seseorang perlu berkontribusi untuk membuat konten baik dan menghindai konten yang tidak bermanfaat (sampah).

"Dari suatu penelitian, netizen Amerika itu berbohong di media sosial dan jujur di dunia nyata. Sebaliknya, netizen Indonesia itu ada kecenderungan untuk jujur di media sosial dan berbohong di dunia nyata," ungkap Ustadz Fauzi.

2. Hendaklah Bisa Menjaga Hati
Seseorang yang berselancar di ruang maya hendaknya bisa menjaga hati. Artinya, seseorang tidak boleh membagikan (share) konten yang mendatangkan dosa. Misal, konten itu menjadikan riya, ujub, menghinakan orang, dan seterusnya.

Antara tahadus binni’mat dan riya itu sangat tipis. Seseorang yang selfie di luar negeri itu, baik dalam hal mensyukuri kenikmatan, namun tidak menutup kemungkinan setan masuk yang mendatangkan rasa riya dan ujub. Hal itu justru mendatangkan dosa.

"Ketika kita sudah masuk ke dunia sosial, kita perlu menyadari bahwa kita sudah masuk ke dalam dunia public figure, yang semua aktivitas kita akan terpantau," ungkap Ustadz Fauzi.

3. Mendatangkan manfaat bagi dirinya dan orang lain
Patut disadari bahwa hendaknya bermedia sosial untuk mendatangkan manfaat bagi dirinya dan orang lain. Seorang muslim perlu berhati-hati dalam hal ini. Sanga tidak patut seorang muslim terlibat dalam perkara-perkara tidak bermanfaat di media sosial.

"Apakah manfaat bermedsos? Jika tidak ada manfaatnya, maka hindari. Jika ada manfaatnya atau kita bisa memberi manfaat bagi orang lain, maka ini hal yang baik," kata Ustadz Fauzi.

4. Menghindari Perdebatan yang tidak Perlu
Salah satu adab paling penting dalam bermedia sosial adalah menghindari perdebatan yang tidak perlu. Memenangkan hati lebih utama daripada memenangkan pikiran atau pembicaraan. Nabi Muhammad SAW menyarankan untuk meninggalkan debat.

"Pandai-pandailah untuk menyelesaikan masalah tanpa harus ada perdebatan. Kita berdialog dan menyampaikan data, bukan beradu omongan," tutur ungkap Ustadz Fauzi.

5. Bisa Mengukur atas Dampak dari Konten yang Dibuat
Seseorang yang berselancar di media sosial harus bisa mengukur atas dampak dari konten yang dibuat. Medsos merupakan dunia yang abadi karena jejak digital itu tidak bisa dihapus. Ini tentu sangat berbahaya jika konten yang dibuat mengandung unsur dosa.

"Dengan demikian, dampa dari konten yang kita sebarkan dan posting itu perlu bisa diukur betul dan tidak sembarangan," tutur Ustadz Fauzi.



(ori)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Kamis 23 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:52
Isya
19:02
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)