Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Ahad, 03 Mei 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Anak Malah Nakal Setelah Lulus Pondok Pesantren, Lakukan Hal Ini!

Muhajirin Rabu, 09 Agustus 2023 - 15:15 WIB
Anak Malah Nakal Setelah Lulus Pondok Pesantren, Lakukan Hal Ini!
Pakar pendidikan Islam, Ustadz Mohammad Fauzil Adhim
LANGIT7.ID-, Jakarta- - Pendidikan di pondok pesantren telah lama diakui sebagai salah satu bentuk pendidikan yang membentuk karakter dan akhlak yang kuat pada para santri.

Namun, tidak jarang para orangtua merasa khawatir ketika anak-anak mereka tampak berubah menjadi nakal atau kurang terarah setelah menyelesaikan pendidikan di pondok pesantren.

Lalu, bagaimana seharusnya orangtua mengatasi tantangan ini? Pakar pendidikan Islam, Ustadz Mohammad Fauzil Adhim, mengungkapkan, ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan ketika menghadapi situasi ini.

"Nomor satu, kita tidak boleh terlalu kaku dalam mendekati anak-anak yang baru saja menyelesaikan pendidikan di pondok. Ini sama halnya seperti belajar karate, di mana saat pertama kali belajar, sering kali terasa kaku dan belum begitu terampil," ujar Ustadz Fauzil dalam kajian 'Positive Parenting' di Yogyakarta, disiarkan Pro-You Channel, Rabu (9/8/2023).

Baca juga:Peran Pondok Pesantren dalam Mencerdaskan Anak Bangsa

Dalam konteks ini, Ustadz Fauzil memberikan analogi belajar karate untuk menjelaskan situasi yang dialami anak baru lulus dari pondok. Anak-anak yang baru saja lulus dari pondok mungkin masih dalam proses penyesuaian dan perkembangan, sehingga perlu diberi ruang untuk beradaptasi dengan dunia luar.

"Semakin banyak kita mengajak dialog yang lebih dalam, semakin banyak kita mendengarkan mereka, maka semakin mudah kita memahami permasalahannya. Ini seperti berwudhu, di mana semakin banyak kita membasuh, semakin bersih dan suci hati kita," ucapnya.

Namun, bukan berarti pendekatan ini akan berjalan dengan sendirinya. Ustadz Fauzil menegaskan pentingnya komunikasi yang terbuka antara orangtua dan anak. Dia mencontohkan ketika salah satu anaknya ingin pindah dari pondok pesantren setelah lulus SMP.

"Ketika salah satu anak saya ingin pindah ke SMA yang lain setelah lulus dari pondok, saya tidak langsung menilai atau memojokkan keinginannya. Saya mendengarkan dengan baik dan memahami alasan di balik keinginannya," ujar Ustadz Fauzil.

Ustadz Fauzil juga mengajak para orangtua untuk belajar dari contoh Rasulullah Muhammad SAW dalam mendidik anak-anak muda. Dia merujuk pada kisah ketika seorang remaja datang kepada Nabi Muhammad SAW dengan niat untuk berzina. Rasulullah tidak langsung mengecamnya, tetapi malah mendekat dan mendengarkan keluhannya.

Baca juga:Anthony Mark Wainwright dan Kematian yang Dirindukan

"Dalam kasus ini, Rasulullah menunjukkan bagaimana mendekati anak-anak dengan penuh pengertian. Dengan mendengarkan mereka dan memberikan perhatian, kita dapat membantu meredakan gejolak dan kebingungan yang mereka rasakan," jelas Ustadz Fauzil.

Lebih lanjut, Ustadz Fauzil menekankan pentingnya memahami kebutuhan emosional anak dan memberikan dukungan yang mereka perlukan. Anak-anak perlu merasa didengarkan, diterima, dan mendapatkan perhatian dari orangtua mereka.

"Dengan begitu, mereka akan lebih termotivasi untuk melakukan kebaikan dan memperbaiki perilaku mereka," paparnya.

Ustadz Fauzil menyarankan agar para orangtua tidak terburu-buru dalam memberikan nasihat atau arahan kepada anak yang baru saja menyelesaikan pendidikan di pondok pesantren. Dia mengutip kata-kata bijak dari Ali Bin Abi Thalib yang mengatakan, mendengarkan adalah langkah awal dalam memahami dan memberikan solusi yang tepat.

Dengan pendekatan bijak dan penuh pengertian, orangtua dapat membantu anak-anak yang baru lulus dari pondok pesantren untuk menemukan arah yang benar dalam menjalani kehidupan setelah pondok.

"Karena itu kita yang perlu lebih banyak mendengarkan, lalu mengarahkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak menjatuhkan, tidak memojokkan, sehingga anak merasa mendapatkan orang yang mau mendengarkan, merasa mendapatkan orang yang memperhatikan, merasa diterima. Dengan itulah anak-anak akan lebih bersemangat untuk melakukan kebaikan-kebaikan," tutur Ustadz Fauzil.



(ori)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Ahad 03 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:49
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)