LANGIT7.ID, Palembang - Kampung Kapitan di Jalan KH. Azhari, Kelurahan 7 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu (SU) I, Kota Palembang merupakan kota yang cukup melegenda.
Berlokasi tak jauh dari tepian Sungai Musi, kampung tersebut memiliki keindahan dan kemegahan dari masa lalu yang masih dapat disaksikan oleh Sahabat Langit7 hingga sekarang ini.
Saat memasuki kawasan utama kampung itu, Sahabat Langit7 akan melewati semacam gerbang yang sesungguhnya merupakan penghubung antara Rumah Kapitan dan Rumah Abu. Rumah-rumah itu adalah simbol dari kampung tersebut.
Baca juga:
Potensi Danau Maninjau Perlu Ditingkatkan untuk Dukung PerekonomianSebutan Rumah Abu sendiri, setelah berakhirnya masa Kapitan Cina berakhir yakni Kapitan Tjoa Ham Hin. Dia menggantikan kedudukan sang ayah bernama Mayor Tjoa Tjie Kuan.
Rumah Kapitan berukuran asli 22 x 25 meter. Keturanan Kapitan, yang menjadi ahli waris rumah tersebut membuat bangunan tambahan di bagian belakang sehingga ukuran panjangnya menjadi 50 meter.
Ketika berada di sana, pada bagian ruang utama terdapat meja sembahyang yang ditempatkan beberapa pedupaan (tempat Hio) dan patung para Toa Pe Kong.
![Legenda Kampung Kapitan, Kampung Bersejarah di Tepian Sungai Musi]()
Salah satunya ialah Toa Pe Kong Sie yang merupakan leluhur keluarga Tjoa. Dimana, leluhur Kapitan Tjoa menurut semacam buku harian milik keluarga itu adalah Sie Te yang datang ke Kota Palembang pada masa peralihan Kerajaan Sriwijaya dan Kesultanan Palembang Darussalam, yakni antara abad XVI sampai XVIII.
Dengan sejarah itulah, Kampung Kapitan tersebut akan mulai ramai dikunjungi saat perayaan Cap Go Meh.
Bagi Sahabat Langit7 yang tertarik menjelajahi sejarah kampung tersebut, Kampung Kapitan dibuka untuk umum setiap hari mulai pukul 09.00 - pukul 17.00 WIB. Harga masuk pun sangat terjangkau sebesar Rp5.000 per orang.
(sof)