LANGIT7.ID-, Jedah- - Peringatan HUT ke-78 kemerdekaan RI tak hanya dirayakan di Tanah Air. Semua konsul jenderal (konjen) RI mengadakan upacaca bendera detik-detik proklamasi kemerdekaan.
Salah satunya kekhidmatan upacara bendera di Konjen RI Jeddah yang juga diikuti Ketuaa Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Cholil Nafis. Berikut catatan Kiai Cholil:
Sebenarnya tak ada niat 17 Agustusan di Jeddah karena tiket untuk menghadiri kenferensi di Mekkah sampai 15 dan 16 Agustus 2023 sudah harus sampai Jakarta. Tapi saya geser jadwal pulang ke tanggal 18 Agustus karena ingin lanjut ke Madinah.
Baca juga:
Jokowi Kenakan Pakaian Panglima Raja Pakubuwono Hadiningrat saat Upacara Detik-detik ProklamasiSaat di Madinah saya kepikiran upacara 17-an karena seharusnya jadi pembinanya. Saya kepikiran seandainya bisa ikut upacara kemerdekaan di Madinah atau di Mekkah bersama orang-orang Indonesia. Sampai saya bikin video mensyukuri kemerdekaan di halaman Masjid Nabawi. Padahal biasanya saya tak begitu senang upacara 17-an tapi ini ada kerinduan itu saat di Madinah.
Atas kuasa Allah SWT, saat saya sampai di hotel dihubungi KJRI untuk ikut upacara sekaligus mengisi siraman rohani untuk peserta upacara dan para undangan. Walhamdulullah semalam saya sampai di Jeddah. Pagi buta karena klo pagi mellek panas sekali, saya ikut upacara, potong tumpeng dan ceramah soal tasyakuran Kemerdekaan RI ke-78 pada 17 Agustus 2023 dan cinta Tanah Air RI.
Dua hal pokok yang saya sampaikan kepada peserta upacara dan undangan acara tasyakuran. Pertama makna syukur kemerdekaan itu artinya berterima kasih kepada Allah dan para pahlawan, serta menggunakan nikmat kemerdekaan pada jalan yang benar diridlai-Nya. Artinya, kewajiban generasi pasca kemerdekaan harus melanjutkan perjuangan kemerdekaan dg mengisinya sesuai cita-cita pendiri bangsa.
Perlu menumbuhkan jiwa kepahlawanan kepeda generasi diaspora untuk semangat berkorban demi kepentingan bangsa. Seperti upacara kebangsaan dan lagu-lagu daerah Indonesia perlu digemakan agar generasi diaspora tumbuh memberi manfaat kpd Indonesia.
Kedua, cinta Tanah Air. Bahwa semangat kepahlawanan akan terbentuk oleh rasa cinta Tanah Air. Semangat cinta tanah air diajarkan dan dirasakan oleh Rasulullah saw. Bahwa beliau pernah menyatakan kepada Mekkah di depan Ka’bah, bahwa Rasulullah menyebutlan Mekkah adalah bumi yang paling dicintai. Yang sebenarnya beliau tidak senang pergi keluar dari tanah kelahirannya kalau bukan karena masalah gangguan dalam perjuangan Islam.
Ada tiga tingkatan hubungan orang yg mencintai Tanah Air sebegaimana disebutkan Imam Ghazali dalam kita Ihya ‘Ulumiddin. 1. Hubungannya bagai pegawai dan karyawa. Dimana seseorang bekerja kepada Indonesia untuk mendapat upah dan membantu Indonesia saat ada kelebihan waktu dan tenaga. Ini tingkatan paling rendah nilai nasionalismenya.
2. Hubungan cinta Tanah Air bagai pasangan keluarga yg utuh menjadi satu tubuh. Dimana kemajuan bangsa bagaikan kemajuan dirinya dan kemunduran dirinya bagaikan masalah terhadap kemunduran bangsa. Apa yang dimiliki sepenuhnya utk negara. Ini tingkatan level kedua mencintai NKRI.
3. Mencintai negara melebihi cintanya pada diri sendiri. Ia mengalahkan kebutuhan dirinya dan melepaskan semua kepentingan diri manakala di situ ada kepentingan bangsa dan negara. Cinta Tanah Air melebihi cintanya kepada dirinya sendiri. Inilah yang memunculkan semboyan, “Apa yang bisa saya berikan kepada negara daripada apa yg bisa saya ambil dari negara”.
Generasi dari putra putri diaspora rentan tak mengenal negaranya sendiri apalagi bisa mencintainya. Maka perlu perwakilan pemerintah Indonesia di Jeddah dan di luar negeri lainnya banyak memupuk nasionalisme dan semangat kepahlawanan dengan memberi manfaat untuk kemajuan Indonesia.
(ori)