LANGIT7.ID-, Jakarta- - Budayawan Salim Afillah mengungkapkan akademi-akademi militer terkemuka di dunia mengadopsi ilmu perang gerilya dari ulama sekaligus pahlawan Indonesia, yaitu Pangeran Diponegoro.
Fakta menarik ini berangkat dari buku "Fundamentals of Guerilla Warfare" yang ditulis Jenderal Besar Abdul Haris Nasution.
Buku ini, lanjut Salim Afillah, sudah terkenal dan menjadi buku wajib akademi militer terkemuka di sejumlah negara. Ia menjelaskan, buku yang beredar di Belanda ini berisikan tentang dasar-dasar perang gerilya yang dikuasai AH Nasution.
Menurut Salim Afillah, AH Nasution mempelajari pokok-pokok gerilya dari Jenderal Besar Soedirman. Ia pun merunut asal mula ilmu gerilya tersebut berasal hingga sampai ke Jenderal Soedirman dan AH Nasution.
"AH Nasution belajar dari Jenderal Sudirman. Dari mana Jenderal Sudirman belajar gerilya? Dari Kyai Syuhada," kata Salim Afillah dalam video yang beredar di media sosial, dikutip Jumat (18/8/2023).
Kyai Syuhada ini adalah ulama pengajar dan pendiri Tapak Suci Muhammadiyah. Kemudian, asal ilmu tentang gerilya ini dipelajari Kyai Syuhada dari sang ibu, yaitu Raden Ayu Munteng.
"Siapa Raden Ayu Munteng? Dia adalah puteri dari Pangeran Diponegoro," terangnya.
"Ilmu tentang gerilya ini sampai ke Jenderal Sudirman sampai akhirnya ke Nasution. Kemudian ditulis jadi buku dan sekarang menjadi bahan ajar utama di akademi-akademi militer terbaik di dunia," kata Salim Afillah.
Dalam buku Pangeran Diponegoro karya Yoyok Rahayu Basuki, disebutkan, perang gerilya adalah strategi perang yang dilakukan dengan cara melakukan pengelabuan, serangan kilat, dan pengepungan tak terlihat.
Saat menjalankan misinya, Pangeran Diponegoro mengajak pangeran, ulama, kyai, dan rakyat Jawa untuk bergabung dalam perjuangannya melawan Belanda.
Dia juga membentuk pasukan tulungan yang terdiri dari para sukarelawan dan dipimpin oleh ulama karismatik, Sentot Prawirodirjo.
Kemudian, Pangeran Diponegoro membangun pertahanan di Gua Selarong, Dusun Kentolan Lor, Guwosari, Pajangan, Bantul, Yogyakarta. Di persembunyiannya ini Pangeran Diponegoro menyusun strategi perang, mengirim surat-surat pernyataan sikap perang, dan menerima laporan dari para komandan lapangan.
(ori)