Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 01 Juni 2026
home wirausaha syariah detail berita

Berawal dari Hobi, Muslim Yogyakarta Ini Punya Kolam Budi Daya Koi 1 Hektar

mahmuda attar hussein Senin, 30 Agustus 2021 - 19:38 WIB
Berawal dari Hobi, Muslim Yogyakarta Ini Punya Kolam Budi Daya Koi 1 Hektar
Ilustrasi bisnis ikan koi. Foto: Langit7/Istock
LANGIT7.ID, Jakarta - Ikan koi kian diminati di kalangan pehobi karena corak warnanya yang kontras dan mencolok. Biasanya, ikan koi dipelihara di sebuah kolam dalam jumlah kelompok yang cukup banyak, sehingga menambah estetika taman yang ada di rumah atau pun perkantoran.

Ikan koi di Jepang memiliki makna simbolis sebagai cinta dan persahabatan. Tidak heran memang, ikan koi yang dipelihara dianggap membawa pengaruh yang baik bagi yang memandangnya.

Hal itu juga yang menjadikan muslim asal Yogyakarta, Pristiwadi, tertarik dengan ikan koi. Berawal dari kebutuhan koi di rumahnya untuk menambah kesejukan, kini ia mampu menjadi pembudi daya ikan koi karena memiliki nilai ekonomi yang cukup menguntungkan.

“Saya awalnya memang bukan pehobi ikan, tapi waktu itu di rumah sempat ada kolam berisi koi, lama-lama memiliki ketertarikan lebih dalam. Seiring waktu, ikan koi jika diseriusi memiliki nilai ekonomi yang cukup baik jika dibandingkan ikan konsumsi, karena ikan hias seperti jenis koi, penjualannya dihitung dalam satuan ekor, tidak seperti ikan konsumsi yang dalam satuan berat,” ujarnya dikanal Youtube CapCapung.

Baca juga: Sulit Dapat Bantuan, Pemerintah Inisiatif Bantu Usaha Ultra Mikro

Berawal dari ketertarikan tersebut, Pris, biasa ia dipanggil, mencoba merintis walaupun dengan ilmu ala kadarnya. Usaha yang dilakukannya sambil jalan dan serius ternyata membawa hasil yang cukup baik dalam perkembangannya.

Dilihat dari potensi ekonomi yang cukup baik inilah yang akhirnya ia memutuskan untuk membuat kolam budi daya yang lebih luas. Saat ini, Pris telah memiliki kolam budi daya ikan koi seluas satu hektar, dan terbagi menjadi 13 kolam budi daya.

“Tiap kolam kami isi dengan ukuran dan usia yang berbeda. Untuk koi berusia 2 bulan, bisa diisi hingga 2.000 ekor per kolamnya. Seiring pertumbuhan ikan, maka jumlah populasi ikan di kolam akan dikurangi, karena semakin luas kolam pertumbuhan ikan akan semakin cepat. Jadi kalau sudah semakin besar, bisa saja satu kolam diisi hingga 700 ekor ikan,” ujarnya.

Koi memiliki perawatan yang terbilang mudah dan menyerupai ikan pada umumnya, yakni menjaga kualitas air tetap baik dan menyesuaikan dengan kebutuhan ikan. Untuk itu, Pris tidak menggunakan air dari sungai secara langsung, melainkan dengan air sumur.

Walaupun cukup menguras biaya untuk listrik, lanjut Pris, tapi hasil yang didapatkan cukup memenuhi ekspektasi. Di mana ikan koi relatif lebih sehat dan terhindar dari virus karena terhindar dari air sungai yang dikhawatirkan terkandung virus di dalam kandungan airnya.

“Selain air, koi juga membutuhkan pakan berkualitas. Asupan protein menjadi sangat penting yang harus diutamakan untuk membantu pertumbuhan badan dan kecerahan warna. Tidak hanya itu, tapi juga porsi dan kecukupan pakan koi perlu diperhatikan,” ujarnya.

Kendala yang ia rasakan saat ini adalah banyaknya predator ikan, seperti burung blekok yang mondar-mandir di sekitaran kolam budidaya. Sehingga untuk mengurangi tingkat risiko kerugian, ia menggunakan pemasangan jaring di sekeliling kolam yang diharapkan dapat mencegah predator ikan tersebut masuk ke kolam budidaya.

“Hitungan saya, kalau satu burung bisa makan 10 ekor ikan, dalam sebulan bisa menghabiskan 300 ekor ikan kami di sini. Jadi kalau kita pelihara 3 bulan, sekitar 1.000 ekor bisa habis hanya untuk burung saja,” jelasnya.

Baca juga: Menteri BUMN Apresiasi PLN Dukung 8 Ribu UMKM Hadapi Pandemi

Namun, Pris mengaku tidak memiliki kendala dalam pemasaran hasil panen koi-nya selama ini. Sebab, pasar ikan koi yang dikhususkan untuk pehobi memiliki permintaan yang cukup baik dan berbeda.

Pris menjelaskan, biasaya pemula relatif membeli koi di usia lebih muda, karena mereka masih tahap uji coba untuk memelihara koi. Sementara koi sendiri sudah bisa dipanen sejak usia 3 bulan, diukuran 15 sentimeter.

“Ukurannya pun berbeda dengan ikan konsumsi. Kalau di ikan konsumsi ditentukan secara pakem untuk kebutuhan pasar, sementara di koi panen dan ukuran tergantung permintaan dari konsumen sendiri,” jelasnya.

Untuk hasil panen, Pris mengaku saat ini koi-nya masih mengutamakan pemasaran di sekitaran Yogyakarta. Kemudian untuk di luar Yogyakarta ia menggunakan sistem lelang.

Menurutnya, prospek budi daya ikan koi cukup tinggi. Apalagi seiring pertumbuhan ekonomi di sebuah daerah yang meningkat, ditambah lagi dengan pembangunan gedung perkantoran, hal itu akan membuat perputaran ekonomi di ikan koi juga lebih baik.

“Karena biasanya mereka butuh ikan koi untuk menambah estetika kantor dan menghadirkan kesejukan di lingkungan kerja,” ujarnya.

Ikan koi yang bagus, lanjut Pris, tergantung kepada selera konsumen masing-masing. Tapi biasanya, pehobi melihat dari pola dan corak warna yang ada di tubuh koi.

Selain itu, ikan koi ini juga terbilang mudah dalam perawatan, sehingga tidak ada larangan bagi pemula yang ingin memeliharanya. Selain itu, ikan koi juga diketahui memiliki daya tahan tubuh yang cukup baik.

“Seperti kami di sini, bahkan banyak orang bilang ikan koi lebih mudah dipelihara di kolam tanah daripada kolam semen atau tembok. Untuk kolam permanen, maka pehobi juga harus mengedepankan kualitas air, yang biasanya disertakan filter untuk menjaga kolam tetap bersih,” jelasnya.

(zul)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 01 Juni 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:54
Ashar
15:15
Maghrib
17:47
Isya
19:01
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)