LANGIT7.ID-, Jakarta- - Allah SWT menganugerahkan kepada Nabi Muhammad SAW karakter terbaik, salah satunya toleransi yang luar biasa yang dimanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dia lalu mengajarkan hal tersebut kepada umatnya.
Ada beberapa contoh toleransi yang diperlihatkan oleh Nabi Muhammad SAW. Di Mekkah misalnya. Selama 13 tahun pertama kehidupannya di Makkah, beliau dan para sahabat banyak menghadapi banyak penganiayaan. Umat Islam pada saat itu tidak bisa melakukan perlawanan, karena tidak memiliki kekuatan militer.
Ketika kafir Quraisy meningkatkan penganiayaan, para sahabat meminta Nabi Muhammad SAW mendoakan kejelekan kepada mereka. Mendengar hal ini, Nabi Muhammad menjawab,
“Aku tidak diutus untuk melaknat manusia, melainkan untuk menjadi berkat bagi mereka." ( HR Muslim)
Musuh Islam terus memperlakukan beliau dan para sahabat secara tidak adil dan kejam. Namun, beliau tetap mendoakan yang terbaik. Beliau pernah memutuskan untuk mengunjungi desa Ta'if, di sebelah timur Mekah, untuk mengajak penduduknya memeluk Islam. Orang-orang menolaknya, melemparinya dengan batu, mengusirnya, dan membuatnya berdarah-darah. Malaikat Jibril datang kepadanya dan berkata:
"Allah telah mendengar apa yang dikatakan oleh orang-orangmu kepadamu dan bagaimana mereka menolakmu. Dia telah memerintahkan malaikat-malaikat di gunung-gunung untuk mematuhi apa pun yang engkau perintahkan kepada mereka."
Baca juga:
4 Cara Tumbuhkan Cinta kepada Rasulullah SAWMalaikat gunung memanggilnya, memberi salam dan berkata,
"Suruhlah aku melakukan apa yang engkau kehendaki. Jika engkau menghendaki, aku akan menghancurkan mereka di antara dua gunung di Makkah."Nabi Muhammad bersabda.
“Namun, aku berharap Allah mengeluarkan dari pinggang mereka orang-orang yang menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun." (HR. Bukhari)
Ada banyak lagi kisah-kisah serupa selama Nabi Muhammad SAW masih berada di Mekkah. Di Madinah pun demikian. Ketika Nabi Muhammad dan banyak sahabatnya hijrah ke Madinah, sekali lagi karakternya yang luar biasa dalam berurusan dengan para sahabat dan musuh-musuhnya semakin terlihat.
Di Madinah, kaum Muslimin sedang dalam proses mendirikan negara Islam yang baru. Namun, musuh-musuh mereka di Makkah terus melakukan perlawanan dan mengirim ancaman ke Madinah. Dalam perang Uhud, ketika musuh-musuh Makkah menyerang kaum Muslimin, Nabi Muhammad mengalami luka di bagian kepala dan gigi depannya rontok.
Ketika darah mulai merembes dari kepalanya, ia mengusapnya sambil berkata, "Jika setetes darahku jatuh ke bumi, orang-orang kafir itu akan dihancurkan oleh Allah."
Umar berkata kepadanya,
"Wahai Rasulullah, laknatlah mereka!" Sang Nabi menjawab.
“Aku tidak diutus (oleh Allah) untuk mengutuk. Aku diutus sebagai rahmat”. Kemudian ia berkata:
“Ya Allah, berilah petunjuk kepada umatku!” (Hadits ini disahihkan oleh Al-Albani)
Pernah suatu ketika seorang Badui masuk ke dalam masjid dan mulai buang air kecil di dalamnya. Masjid pada saat itu tidak memiliki dinding dan lantai berkarpet serta langit-langitnya terbuat dari daun kurma yang ditopang oleh batang palem. Orang-orang berlarian untuk mencegah dan menahannya.
Nabi Muhammad bersabda,
“Janganlah kalian mengganggu buang air kecilnya (yaitu biarkan dia menyelesaikannya). Kemudian Nabi meminta sebuah kendi berisi air untuk disiramkan ke tempat kencingnya. (HR. Bukhari)
Raya Shokatfard, seorang pendakwah di Amerika Serikat dan Mesir, melalui laman About Islam, menulis sikap toleransi Nabi Muhammad SAW yang sangat luar biasa. Dia mengutip sebuah riwayat yang mengisahkan tetangga Nabi Muhammad SAW seorang Yahudi. Setiap hari dia akan membuang sampah di jalan. Nabi Muhammad tidak pernah menegurnya.
Suatu hari, orang Yahudi itu tidak muncul. Nabi bertanya tentang dia, dan diberitahu bahwa dia sakit. Jadi, beliau pergi mengunjunginya dan menanyakan tentang kesehatannya dengan kebaikan. Setelah melihat hal ini, orang Yahudi itu memeluk Islam.
“Permusuhan musuh terburuknya terhadap orang yang paling dicintainya juga dibalas dengan kebaikan yang luar biasa,” kata Raya.
Anas bin Malik, yang melayani Nabi selama sepuluh tahun, mengatakan bahwa Nabi Muhammad Saw tidak pernah menegurnya,
“Ketika saya melakukan sesuatu, beliau tidak pernah mempertanyakan cara saya melakukannya; dan ketika saya tidak melakukan sesuatu, beliau tidak pernah mempertanyakan kegagalan saya untuk melakukannya. Beliau adalah orang yang paling baik hati di antara semua manusia." (HR. Bukhari)
Toleransi seperti itu tercatat dalam sejarah dengan tinta emas. Tak hanya diakui oleh umat Islam, namun sejarawan nonmuslim mengakui hal tersebut. Ini hanya beberapa di antara banyak contoh dari toleransi dan karakter mulia Nabi. Aisyah, istri Nabi pernah ditanya tentang karakter Nabi (saw). Ia menjawab dengan sangat sederhana:
"Akhlak Nabi adalah Al-Quran." (HR Muslim)
(ori)