LANGIT7.ID-, Jakarta- - Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) akan mewisuda 1.074 mahasiswa. Satu di antaranya Margaretha Kolo, mahasiswa non muslim dari Nusa Tenggara Timur.
Selain Margaretha yang berprofesi biarawati, ada enam mahasiswa non muslim lain yang diwisuda kampus milik Nahdlatul Ulama ini. Margaretha adalah seorang biarawati yang lulus program studi S1 Ilmu Gizi, Fakultas Kesehatan.
Perempuan kelahiran Timur Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur pada 30 Mei 1994 itu selama empat tahun menempuh pendidikan di Unusa yang notabene adalah kampus NU yang Islami. Namun dengan hadirnya Margaretha dan kawan-kawannya itu membuktikan bahwa Unusa adalah kampus inklusif dan Rahmatan Lil Alamin.
Baca juga:
2.154 Mahasiswa Baru Unusa DikukuhkanMargaretha mengaku pada 2019 dia ditugaskan oleh lembaga biarawatinya, Kongregasi Misi Abdi Roh Kudus ke Surabaya tepatnya di Gereja Katedral Surabaya. Sebelumnya, Margaretha adalah biarawati di sebuah gereja Katolik di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.
Oleh lembaganya dia diminta untuk meneruskan ke pendidikan tinggi jurusan ilmu gizi. "Bingung karena baru pertama kali ke Surabaya," katanya.
Mencari kampus yang ada ilmu gizi, tujuan utamanya ke Poltekes Surabaya. Waktu ke kampus, Margaretha merasa tidak ada chemistry. Tidak ada ketertarikan apapun. Lalu seorang teman sesama biarawati menyarankan mencari kampus lain. Tersebutlah nama Unusa. Langsunglah Margaretha ke kampus Unusa Jemursari.
"Ke sekuriti nanya ternyata ada ilmu gizi. Langsung ke pendaftaran nannya-nanya. Begitu tahu saya mau daftar, saya langsung difoto dan dikirim ke Pak Rektor. Kata Pak Rektor, iya diterima," jelas Margaretha.
Margaretha mengaku senang bisa diterima di Unusa. Karena pertama kali melihat Unusa, ada sesuatu yang membuatnya tertarik dengan Unusa," tandasnya. "Saya yakin waktu itu bisa diterima dan jadi mahasiswa Unusa," tambah Margaretha.
Ternyata dengan kenyamanan yang ada dan tidak adanya diskriminasi membuat Margaretha suka berada di tengah-tengah mahasiswa dan dosen yang beragama Islam. "Ada juga adik di bawah saya yang masuk Analis Kesehatan Unusa," tuturnya.
Tidak hanya Margaretha, Komang, salah satu lulusan Keperawatan program RPL (Rekognisi Pembelajaran Lampau) juga merasakan hal serupa. Tidak ada perbedaan apapun selama menempuh pendidikan di Unusa.
"Saya Hindu Bali, kerja di RS Darmo dan senang sekali bisa di Unusa. Suasananya enak sekali," tandasnya.
Rektor Unusa, Prof Ahmad Jazidie mengaku juga senang Unusa menjadi kampus inklusi. "Bukti bahwa Unusa itu Rahmatan Lil Alamin. Untuk siapa saja tanpa memandang ras, agama, daerah dan sebagainya," tuturnya.
(ori)