LANGIT7.ID-, Jakarta- - Dosen dan Ketua Laboratorium Fakultas Psikolog UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ilmi Amalia, menjelaskan tentang pengaruh politik identitas dengan pergelaran pemilihan umum.
Dia mengatakan, ada tiga mazhab yang menjabarkan atau telah melakukan penelitian tentang karakter pemilih, seperti alasan seseorang dalam memilih kandidat. Pertama, studi yang dilakukan Universitas Kolombia terhadap pemilih di Amerika Serikat.
“Studi itu menunjukkan, pemilih akan memilih kandidat yang kira-kira memilikifaktor sosiologis yang mendekati dia, jadi mungkin dari status sosoal ekonomi, agamanya sama, atau wilayahnya sama,” ujar Ilmi dalam seminar di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Rabu (11/10/2023).
Namun, ternyata ditemukan di beberapa daerah memiliki karakter pemilih yang bervariasi. Padahal, penduduk di daerah itu memiliki status sosial ekonomi sama atau agamanya sama. Lalu, riset Universitas Kolombia direvisi oleh The Michigan School.
Baca juga:
Sejarah Politik Identitas, Ternyata Tak Hanya Ada di IndonesiaThe Michigan School menambahkan variabel tentang faktor psikologis. Faktor paling terkenal adalah soal kedekatan atau mengindetifikasi dengan partai. Jika seseorang merasa kedekatan dengan partai, maka orang itu akan memilih kandidat yang diusung oleh partai tersebut.
“Ada juga memilih kandidat dengan mengevaluasi kepribadian dan kinerja kandidat. Tidak Cuma identitasnya saja. Paling berpengaruh adalah faktor kampanye dan diskusi dalam keluarga. Lalu, The Rational Voter Model mengeluarkan variabel lain yakni manusa rasional yang memilih berdasarkan pertimbangan untung rugi. Apakah kebijakan yang dibawa bermanfaat buat saya atau tidak,” ujar Ilmi.
(ori)