LANGIT7.ID-, Surabaya- - Tim Pusat Pengkajian dan Pengembangan “Jakarta Islamic Centre” (JIC) merintis jaringan dengan Masjid Nasional Al Akbar Surabaya (MAS). Kegiatan ini silaturahmi dan membangun kerja sama dalam manajemen “Islamic Centre” dan pengelolaan masjid.
Rombongan JIC diterima Kepala Bidang Riayah MAS DR H Muhammad Qoderi, Bendahara BPP MAS H Sudarto, dan pengurus lain.
“Kami datang untuk bersilaturrahmi dengan tujuan membangun jaringan dan kerja sama dengan Masjid Al Akbar. Kami menilai Masjid Al Akbar secara manajerial cukup profesional, karena itu bisa diteladani,” kata Wakil Kepala JIC DR KH Didi Supandi Lc, dikutip Senin (27/11/2023).
Dia menjelaskan, pengurus JIC selama ini mengelola Islamic Centre dan Masjid Raya “dikawal” Dinas Sosial.
“Jadi, berbagai kegiatan rutin yang kami lakukan maupun kegiatan masyarakat yang menempati lokasi di Islamic Centre dan Masjid Raya itu semuanya bersifat sosial, karena memang menjadi bagian dari program Dinas Sosial,” katanya.
Baca juga:
Proses Ziarah Makam Nabi Berubah Lagi, Tapi Bikin Jamaah PuasOleh karena itu, kegiatan rutin yang dilaksanakan antara lain PHBI (peringatan hari besar Islam), khitanan massal, beasiswa, pelatihan Al-Qur’an Braille, pelatihan ekonomi warga (lokalisasi) Kramat Tunggak, dan pelatihan ekonomi syariah bekerja sama dengan kampus.
Sementara itu, untuk anggaran, pihaknya mengajukan ke Dinas Sosial. “Kalau kami menyewakan lahan untuk acara seperti di Masjid Al Akbar, atau mengadakan pinjaman usaha ekonomis seperti di Masjid Raya di Thailand Selatan, justru akan jadi temuan,” katanya.
“Karena itu, ke depan, kami ingin menjalin jaringan dengan Masjid Al Akbar, misalnya bekerja sama mengadakan Festival Maulid Nusantara dengan lomba teatrikal maulid atau barzanji, selawatan. Ada juga rencana Muktamar Dakwah Internasional,” katanya.
Dalam penyambutan tim JIC itu, Kepala bidang riayah MAS DR H Muhammad Qoderi, menjelaskan manajemen JIC memang berbeda dengan MAS, karena JIC sepenuhnya ditangani pemerintah daerah (Dinas Sosial), sedangkan MAS bersifat swadaya/mandiri.
“Kalau operasional, kami bersifat swadaya melalui kegiatan-kegiatan yang menghasilkan di sini, kecuali kalau ada pembangunan, kami mengajukan hibah ke pemerintah daerah,” katanya.
Namun, ia merespons positif rencana JIC mengajak MAS untuk berjejaring. “Pelayanan kami selama ini masih seputar Jatim, seperti tabligh akbar atau majelis selawat, tapi kalau untuk pelayanan keluar seperti festival memang belum, tapi bisa dikoordinasikan,” katanya
(ori)