LANGIT7.ID-, Jakarta- - Investor asing mulai menarik diri untuk berinvestasi di surat utang atau obligasi Indonesia yang disebabkan oleh janji makan siang gratis usai Prabowo Subianto ditetapkan menjadi presiden terpilih di pemilu 2024.
Sejak pemungutan suara ditutup pada 14 Februari, dana asing telah keluar sebesar US$1,1 miliar dari obligasi Indonesia. Ini adalah arus keluar obligasi asing bersih dalam 16 dari 20 hari terakhir.
Pada periode yang sama, Thailand hanya mengeluarkan dana asing sebesar US$502 juta, sementara negara-negara regional seperti Korea Selatan dan India menerima arus masuk dana asing.
Meskipun Prabowo Subianto telah berjanji untuk mempertahankan disiplin fiskal, janji-janji pemilihannya yang akan datang, seperti memberikan makan siang dan susu gratis kepada lebih dari 80 juta anak, telah membuat investor khawatir.
Perlu diketahui, pengeluaran Prabowo dari jani-janjinya tersebut dapat melampaui total defisit anggaran tahun 2023, mencapai Rp460 triliun (US$29 miliar).
Dalam catatan minggu lalu oleh pakar strategi Goldman Sachs Danny Suwanapruti menyatakan bahwa para investor yang berfokus pada pasar negara berkembang dan
hedge fund telah khawatir akan janji-janji Prabowo, pasalnya hal ini berpotensi adanya pelonggaran fiskal.
“Mereka mengungkapkan kekhawatiran mereka atas potensi pelonggaran fiskal oleh pemerintahan baru yang akan datang karena mereka menjanjikan program makan siang gratis selama kampanye mereka tanpa perincian tentang bagaimana program tersebut akan dibiayai,” tulisnya.
Direktur pelaksana strategi makro pasar negara berkembang di GlobalData TS Lombard di London, Jon Harrison menyatakan bahwa meskipun program makan siang gratis di sekolah memiliki manfaat kesehatan jangka panjang, namun perlu diperhatikan agar setiap ekspansi fiskal dilakukan dengan cara yang berkelanjutan.
"Penting bahwa ekspansi fiskal dilakukan dengan cara yang berkelanjutan, jadi kita harus mengamati janji-janji pengeluaran dengan hati-hati,” ujarnya.
Ketakutan akan konsolidasi fiskal dapat menyebabkan imbal hasil rupiah yang lebih tinggi, yang akan meningkatkan biaya pendanaan pemerintah Indonesia.
Sebagai informasi, para trader saat ini masih mencari indikasi tentang bagaimana bank-bank sentral akan bertindak di masa depan, sementara Bank Indonesia dan Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuannya yang tidak berubah minggu ini.
Di bawah kepemimpinan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, defisit anggaran pasca-pandemi secara konsisten melampaui target awal.
Namun, dengan adanya program makan siang gratis, Sri Mulyani memperkirakan defisit fiskal dapat melebar menjadi 2,45% hingga 2,80% dari produk domestik bruto (PDB) pada 2025. Bandingkan dengan target tahun ini sebesar 2,29%.
Investor juga akan mencermati pengumuman susunan kabinet terkait spekulasi pergantian Sri Mulyani. “Ia kredibel dan dihormati oleh pasar, jadi ada standar tinggi untuk penggantinya,” ujar Harrison.
(lam)