LANGIT7.ID-, Jakarta- - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengumumkan pada hari Senin bahwa mereka harus menghentikan pergerakan bantuan dan pekerja kemanusiaan di Gaza. Hal ini terjadi setelah Israel mengeluarkan perintah evakuasi baru untuk wilayah Deir al-Balah, yang telah menjadi pusat kegiatan pekerja PBB.
Sebelumnya, seorang pejabat senior PBB menyatakan bahwa operasi PBB telah berhenti sepenuhnya di Jalur Gaza. Namun, para pejabat kemudian mengklarifikasi bahwa operasi "di tempat" dan yang "menyatu" dengan penduduk setempat akan terus berlanjut.
Menurut pejabat tersebut, PBB telah memindahkan sebagian besar personelnya ke Deir al-Balah setelah adanya perintah evakuasi Rafah beberapa bulan lalu.
Baca juga:
Israel Perintahkan Evakuasi Baru di Gaza, Harapan Gencatan Senjata PudarMiliter Israel menyatakan pada hari Senin bahwa mereka sedang menargetkan "operasi teroris" di Deir al-Balah dan berusaha melumpuhkan "infrastruktur" Hamas yang tersisa. Serangan Hamas pada 7 Oktober lalu terhadap Israel selatan memicu perang di Gaza.
Militer Israel telah memerintahkan penduduk untuk segera evakuasi. Menurut Badan Kemanusiaan PBB (OCHA), 15 lokasi yang menampung pekerja bantuan PBB dan LSM serta empat gudang PBB terkena dampak, baik berada di dalam maupun dekat area yang diperintahkan untuk evakuasi.
Setelah terlihat bahwa PBB telah menghentikan operasinya di Gaza, Stephane Dujarric, juru bicara Sekretaris Jenderal Antonio Guterres, mengklarifikasi bahwa badan PBB untuk pengungsi Palestina tetap melanjutkan operasi, meskipun dengan pembatasan.
"Yang dimaksud oleh pejabat senior PBB kami adalah pergerakan pejabat PBB dan staf kemanusiaan PBB," katanya.
"Jika pekerja kemanusiaan menyatu dengan populasi tertentu di suatu area, mereka memiliki alat untuk beroperasi, berbagi, dan mendistribusikan bantuan," tambahnya. Namun, ia memperingatkan bahwa upaya tersebut hanya akan menjadi "setengah tetes dalam tong".
Sam Rose, wakil direktur lapangan senior UNRWA di Gaza, menambahkan bahwa "layanan kesehatan terus berlanjut di delapan atau sembilan pusat kesehatan primer dan lebih dari 90 titik kesehatan".
"Namun memang, ruang gerak dan kemampuan sistem PBB serta sistem kemanusiaan untuk beroperasi di Gaza menjadi semakin sulit," tambah Rose.
Serangan Hamas pada Oktober lalu mengakibatkan kematian 1.199 orang, sebagian besar warga sipil, menurut penghitungan AFP berdasarkan angka resmi Israel.
Kampanye militer balasan Israel telah menewaskan setidaknya 40.435 orang di Gaza, menurut kementerian kesehatan Gaza, yang tidak memisahkan antara kematian warga sipil dan militan. Kantor hak asasi manusia PBB menyatakan bahwa sebagian besar korban tewas adalah perempuan dan anak-anak.
(lam)