LANGIT7.ID-, Jakarta- - Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin menyatakan dukungannya kepada Israel setelah negara tersebut melancarkan ratusan serangan udara terhadap target-target Hizbullah. Akibatnya, Lebanon mengalami salah satu hari terburuk dalam beberapa tahun terakhir.
Austin berbicara dengan Yoav Gallant pada Minggu malam saat Israel meningkatkan serangannya di Lebanon. Israel mengklaim kampanye ini bertujuan agar puluhan ribu warganya dapat kembali ke rumah mereka di utara.
Menanggapi serangan tersebut, Hizbullah memperkenalkan rudal baru ke medan perang dan menyerang target-target yang lebih dalam di wilayah Israel untuk pertama kalinya sejak konflik pecah tahun lalu. Hizbullah mulai menyerang Israel sehari setelah serangan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober.
"Menteri Austin menegaskan dukungannya terhadap hak Israel untuk membela diri saat Hizbullah memperluas serangannya lebih dalam ke Israel," ujar Juru Bicara Pentagon, Mayor Jenderal Pat Ryder. Austin juga menekankan pentingnya mencari solusi diplomatik agar warga di kedua sisi perbatasan dapat kembali ke rumah mereka dengan cepat dan aman.
Austin menambahkan bahwa kesepakatan gencatan senjata di Gaza akan membantu meredakan situasi. Kepala Pentagon ini telah melakukan pembicaraan hampir setiap hari dengan mitranya di Israel sejak eskalasi meningkat setelah serangan Israel yang belum pernah terjadi sebelumnya pekan lalu.
Israel melakukan serangan siber nasional terhadap sistem komunikasi Hizbullah, mengakibatkan puluhan korban jiwa dan ribuan orang terluka. Sebagian besar korban adalah anggota atau pejuang Hizbullah, menurut pejabat AS.
Sebelumnya, Pentagon menyatakan tidak akan mendukung operasi ofensif Israel ke Lebanon atau tempat lain. Namun, Austin juga telah menyuarakan keprihatinan atas keselamatan warga AS di kawasan tersebut.
"Menteri Austin menegaskan bahwa AS tetap siap melindungi pasukan dan personel AS serta bertekad mencegah aktor regional memanfaatkan situasi atau memperluas konflik," kata Ryder dalam ringkasan percakapan Austin-Gallant terbaru.
AS telah berusaha meyakinkan Israel bahwa eskalasi konflik militer tidak akan mencapai tujuan mereka untuk mengembalikan warga ke perbatasan utara dengan Lebanon. Namun, Israel mengabaikan seruan AS dan memutuskan untuk melanjutkan salah satu kampanye pemboman paling intens sejak perang Juli 2006 antara Hizbullah dan Israel.
Hizbullah menyatakan akan menghentikan serangan lintas batasnya begitu gencatan senjata tercapai di Gaza. Dengan prospek tersebut semakin redup dan pejabat AS pesimis tentang kesepakatan semacam itu dalam waktu dekat, Israel berusaha menekan Hizbullah untuk memisahkan konfliknya dari perang Gaza.
Hizbullah yang didukung Iran mengatakan tidak akan berhenti, sementara Israel yang dipersenjatai AS menyatakan akan terus menargetkan depot senjata dan infrastruktur Hizbullah selama diperlukan.
Sementara itu, diplomat dan pejabat tinggi Iran berada di New York untuk menyatakan kesediaan mereka bernegosiasi kesepakatan nuklir baru dengan Barat. Tehran mengancam akan membela Hizbullah, namun belum melakukannya dan sejauh ini belum menanggapi pembunuhan pejabat Hamas oleh Israel di jantung ibu kota Iran.
"Ini adalah pilihan antara front 'poros perlawanan' yang bersatu yang akan menyebabkan lebih banyak kematian & kehancuran, atau kembali ke apa yang mereka terima pada Agustus 2006 dalam resolusi 1701," tulis analis politik Lebanon Ronnie Chatah di X.
![Konflik Memanas: AS Beri Lampu Hijau, Israel Gempur Lebanon]()
"Terlepas dari bagaimana putaran ini berakhir, Lebanon akan menjadi medan perang permanen selama Hizbullah tetap menjadi front paramiliter untuk Iran," kata Chatah, yang ayahnya, seorang kritikus rezim Assad dan Hizbullah, tewas dalam pemboman mobil yang banyak dituduhkan pada Hizbullah.
Dalam postingan terakhirnya di Twitter, Chatah senior menulis: "#Hizbullah menekan keras untuk diberi kekuasaan serupa dalam masalah keamanan & kebijakan luar negeri yang dijalankan Suriah di Lebanon selama 15 tahun."
(lam)