LANGIT - Madrasah Tsanawiyah (MTs) Wihdatul Ulum, berlokasi di kawasan terpencil, tepatnya di pelosok desa Kampong Kassi, kecamatan Parangloe, kabupaten Gowa. Ia tidak jauh dari kawasan wisata Malino.
Madarasah ini adalah sekolah islam di bawah naungan Yayasan Wakaf Universitas Muslim Indonesia (UMI).
Meskipun berada di daerah pegunungan, namun semangat para santri di sekolah islam tersebut sangat tinggi. Bahkan dalam situasi Pandemi Covid-19, saat semua sekolah diliburkan, santri Wihdatul Ulum tetap hadir dalam pertemuan tatap muka yang diselingi dengan sekolah daring.
Alasannya pelaksanaan sekolah daring, untuk para siswa Wihdatul Ulum, kurang maksimal. Selain disebabkan sinyal yang kurang bersahabat, banyak orang tua yang mengeluhkan biaya membeli kuota.
Selain itu, muncul tantangan baru dirasakan para pendidik saat sekolah daring, yakni santri lebih banyak bermain game daripada melaksanakan tugas-tugasnya.
Kepala Sekolah MTs Widatul Ulum, Hasmawati menjelaskan, pendidikan yang diterapkan selama ini lebih menitikberatkan kajian agama ketimbang umum.
Para santri diajarkan pendidikan tamrinul kitabah, agar kelak juga bisa berdakwah. Atas dasar itulah, pendidik lebih banyak memberikan tugas praktek pada santri saripada memberikan tugas teori.
"Alumni Wihdatul Ulum sudah banyak yang menjadi ustaz atau pendakwah. Pendidikan itulah yang menjadi kurikulum andalan kita," katanya kepada LANGIT7., Senin (13/9/2021).
Dia menjelaskan, untuk menjadi santri di Widatul Ulum, pihak sekolah tentunya memberikan syarat dan kriteria tersendiri. Salah satunya mereka harus mampu membaca Al Qur'an.
Lebih lanjut alumni Fakultas Sastra UMI ini, mengatakan, meski Widatul Ulum berbasis agama, namun juga menerapkan pendidikan umum berdasar undang-undang pendidikan. Selain itu , santri juga diberikan pendidikan ekstrakulikuler.
(arp)