LANGIT7.ID-, Jakarta- - Qatar, sebagai mediator perang Gaza, mengecam keras keputusan parlemen Israel yang melarang Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) beroperasi di Israel, demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Qatar pada Selasa.
Para anggota parlemen Israel pada Senin dengan suara bulat memutuskan untuk melarang UNRWA beroperasi di Israel dan Yerusalem Timur yang dianeksasi. Mereka juga mengesahkan aturan yang melarang pejabat Israel bekerja sama dengan UNRWA dan stafnya.
"Kami tegaskan bahwa menghentikan dukungan untuk UNRWA akan membawa dampak bencana," kata juru bicara kementerian, Majed al-Ansari kepada wartawan. "Komunitas internasional tidak bisa diam melihat pengabaian terhadap lembaga internasional ini," tambahnya.
Baca juga:
Untuk informasi terbaru mengenai konflik di timur tengah, kunjungi halaman ini.Qatar, bersama Amerika Serikat dan Mesir, telah memediasi negosiasi selama berbulan-bulan untuk mengakhiri perang Gaza dan pertukaran sandera Israel dengan tahanan Palestina. Namun pembicaraan belum membuahkan kesepakatan, dengan kedua pihak yang berperang saling menyalahkan.
Untuk memecah kebuntuan menjelang akhir masa jabatan Presiden AS Joe Biden, Washington dan Doha pekan lalu mengumumkan putaran baru perundingan langsung di Doha yang akan mengeksplorasi pilihan-pilihan baru.
Menjelang pemilu AS, Ansari mengatakan kepada wartawan bahwa Qatar tidak melihat "hasil negatif dari pemilu terhadap proses mediasi itu sendiri." Dia menambahkan bahwa Qatar percaya mereka "berurusan dengan institusi dan di negara seperti Amerika Serikat, institusi-institusi berkomitmen mencari penyelesaian krisis ini."
UNRWA telah memberikan bantuan penting, pendidikan, dan layanan kesehatan di seluruh Wilayah Palestina dan pengungsi Palestina di tempat lain selama lebih dari tujuh dekade. UNRWA dan lembaga kemanusiaan lainnya menuduh pihak Israel membatasi arus bantuan ke Gaza, di mana hampir semua dari 2,4 juta penduduk wilayah tersebut telah mengungsi setidaknya sekali selama perang.
Lembaga ini sendiri mengalami kerugian besar, dengan setidaknya 223 stafnya tewas dan dua pertiga fasilitasnya di Gaza rusak atau hancur sejak perang dimulai. Pada Januari, Israel menuduh dua belas karyawan UNRWA Gaza terlibat dalam serangan 7 Oktober oleh Hamas.
Serangkaian penyelidikan menemukan beberapa "masalah terkait netralitas" di UNRWA dan menetapkan bahwa sembilan karyawan "mungkin terlibat" dalam serangan 7 Oktober tetapi tidak menemukan bukti untuk tuduhan utama Israel.
(lam)