LANGIT7.ID-Jakarta; Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri, menyampaikan optimisme terhadap potensi besar kerja sama ekonomi Indonesia dan Kanada. Meski berbeda dalam ukuran dan struktur, kedua negara memiliki kekuatan yang saling melengkapi, menciptakan peluang besar di berbagai sektor.
“Indonesia sedang memperluas akses pasar dan meningkatkan produktivitas, sementara perusahaan-perusahaan Kanada dikenal dengan standar tinggi dan pengalaman global mereka. Kekuatan ini selaras dengan prioritas pembangunan Indonesia, menjadikan hubungan ekonomi kedua negara sangat potensial,” ujar Wamendag Roro dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema Canada-Indonesia: Expanding on the Comprehensive Economic Partnership di Jakarta, dikutip Kamis (5/12/2024). Diskusi tersebut adalah hasil kolaborasi antara Indonesian Business Council (IBC) dan Business Council of Canada (BCC).
Baca juga: Ekspor ke Kanada Terbuka Lebar, Wamendag Roro Ajak UKM BerkolaborasiSalah satu terobosan penting dalam Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) adalah kerja sama di bidang mineral kritis. Nota Kesepahaman (MoU) tentang Mineral Kritis yang ditandatangani Senin lalu (2/12) menandai komitmen kedua negara untuk bekerja sama dalam mendukung pengelolaan sumber daya mineral kritis secara berkelanjutan, mengadopsi teknologi bersih, serta mendorong investasi ramah lingkungan. Kedua negara juga bersepakat memenuhi standar Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (Environmental, Social, and Governance/ESG), termasuk protokol penutupan tambang dan pengurangan emisi gas rumah kaca.
Bagi Kanada, peluang ini menjadi langkah strategis untuk berinvestasi pada sektor energi bersih di Indonesia. Sebagai pemimpin global dalam teknologi hijau, Kanada membawa keahlian dalam pengelolaan sumber daya berkelanjutan, yang sejalan dengan kebutuhan Indonesia untuk penerapan transisi energi bersih dan penggunaan kendaraan listrik.
Lebih lanjut, dalam hal produksi nikel sebagai bahan utama untuk baterai, Indonesia memiliki posisi yang baik untuk mengekspor baterai dan solusi energi terbarukan ke Kanada. Hal ini selaras dengan permintaan Kanada yang terus meningkat untuk teknologi energi bersih dan kendaraan listrik.
Baca juga: ASEAN-Kanada Dukung Penuh Inklusivitas dan Ekonomi BerkelanjutanDiskusi ini juga menjadi ajang penting bagi para pemimpin bisnis dari IBC dan BCC, yang melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman tentang pemanfaatan peluang kolaborasi kedua negara. Nota kesepahaman tersebut ditandatangani Chief Executive Officer (CEO) IBC Sofyan A. Djalil dan CEO BCC Goldy Hyder dan disaksikan Wamendag Roro dan Menteri Promosi Ekspor, Perdagangan Internasional, dan Pembangunan Ekonomi Kanada Mary Ng.
Turut hadir Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Djatmiko Bris Witjaksono dan Direktur Pengembangan Ekspor Jasa dan Produk Kreatif Merry Maryati.
Sekilas Hubungan Indonesia-KanadaIndonesia dan Kanada telah menandatangani Pernyataan Bersama Antar Menteri mengenai Penyelesaian Indonesia-Canada CEPA pada pembukaan Misi Dagang Kanada ke Indonesia di Jakarta, kemarin, Senin (2/12). Penandatanganan dilakukan Menteri Perdagangan RI Budi Santoso dan Menteri Promosi Ekspor, Perdagangan Internasional, dan Pembangunan Ekonomi Kanada Mary Ng. Kedua negara sepakat untuk dapat menandatangani Indonesia-Canada CEPA pada 2025 dan berharap dapat mulai diimplementasikan pada 2026.
Baca juga: 4 UMKM Jatim Berhasil Ekspor Produk Senilai Rp3,9 Miliar, Mendag: Bukti Daya Saing UMKM di Pasar GlobalPerdagangan bilateral Indonesia-Kanada tercatat sebesar USD 3,44 miliar pada 2023, mencerminkan tren pertumbuhan positif sebesar 11,24 persen dalam lima tahun terakhir. Pada Januari--September 2024, nilai perdagangan kedua negara mencapai USD 2,65 miliar atau meningkat 4,07 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Hal ini didorong peningkatan ekspor nonmigas yang signifikan, tumbuh sebesar 17,28 persen pada Januari–September 2024.
Lima besar ekspor Indonesia ke Kanada terdiri atas perangkat telepon, limbah (waste and scrap), karet alam, suku cadang dan aksesoris kendaraan bermotor, serta peti/koper. Sementara itu, produk-produk impor Indonesia dari Kanada meliputi gandum (wheat dan meslin), pupuk mineral dan kimia, kacang kedelai, bubur kertas kimiawi, dan bubur kayu.
(lam)