Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Kamis, 23 April 2026
home wirausaha syariah detail berita

Digitalisasi Produk Pangan Tekan Kesenjangan Sosial

mahmuda attar hussein Jum'at, 17 September 2021 - 20:15 WIB
Digitalisasi Produk Pangan Tekan Kesenjangan Sosial
Ilustrasi digitalisasi produk pangan. Foto: Langit7/Istock
LANGIT7.ID, Jakarta - Pemerintah mendorong digitalisasi untuk distribusi produk pangan melalui platform Warung Pangan. Hal itu dilakukan demi memperkuat peningkatan nilai tambah produk pangan dan mengikis kesenjangan sosial.

Menteri Perdagangan, Muhammad Lutfi mengapresiasi Kementerian BUMN yang meluncurkan produk beras premium merek Eania dan produk Nusakita, yang terdiri dari minyak goreng, gula pasir, teh, dan kopi di aplikasi Warung Pangan, Kamis kemarin (16/9) di kantor BGR Logistics Divre DKI Jakarta.

“Kami mendukung dan mengapresiasi terobosan yang dilakukan Kementerian BUMN dengan meluncurkan pemasaran produk Rania dan Nusakita di dalam aplikasi Warung Pangan," ujarnya.

Baca juga: Nilai Ekspor Positif, Menko Perekonomian: Indikasi Pemulihan Ekonomi Nasional

Menurutnya, melalui digitalisasi produk pangan tidak hanya menolong konsumen, tapi juga para petani dan pelaku usaha. Sebab, dengan inovasi di bidang pertanian ini, produk pangan jadi memiliki nilai tambah.

Dengan adanya ekonomi digital akan mengikis kesenjangan sosial. Lutfi menambahkan, aplikasi berbasis teknologi juga perlu berbasis inovasi agar dapat bersaing.

"Sehingga kita bisa memuliakan petani dan pedagang, serta mewujudkan Indonesia yang tumbuh dan tangguh,” jelasnya.

Seperti diketahui, pada 2020, produk pangan segar yang dijual melalui lokapasar (marketplace) mencapai Rp18 triliun. Sementara, pada tahun ini, diperkirakan mencapai lebih dari Rp21 triliun dan lima tahun ke depan diperkirakan mencapai lebih dari Rp180 triliun.

“Itu menunjukkan, porsi penjualan pangan melalui niaga elektronik (e-commerce) walaupun masih kecil, tetapi tumbuh sangat pesat,” katanya.

Produk Rania dan Nusakita merupakan produk pangan dalam kemasan, berlabel dan bermerek yang merupakan instrumen penting dalam perdagangan yang berkaitan dengan jaminan mutu, jaminan halal, daya tahan produk, nilai tambah, dan stabilitas harga.

“Saat ini, produk pangan di Indonesia baru sekitar sepertiganya yang diperdagangkan dengan kemasan, label, dan merek. Sehingga, langkah BUMN mendukung produk pangan yang dihasilkan petani dengan kemasan tentu merupakan langkah yang strategis,” kata Lutfi.

Baca juga: PLTU Co-firing Enceng Gondok Raih Penghargaan Internasional, PLN Komitmen Pada Isu Lingkungan

Selain itu, lanjut Lutfi, rantai dingin dalam perdagangan saat ini adalah keniscayaan. Di mana pada 2020, kapasitas rantai dingin untuk produk pangan di Indonesia baru tersedia sebanyak 1,73 juta ton dengan sekitar 10 ribu unit fasilitas pendingin, atau kurang dari tujuh persen dari total produk potensial yang dilayani dengan rantai dingin.

“Pandemi Covid-19 telah menyebabkan peningkatan kebutuhan fasilitas rantai dingin untuk pangan hingga 16 persen per tahun. Bahkan, pada industri farmasi peningkatannya mencapai 115 persen,” jelasnya.

Menurutnya, pasar rantai dingin global diperkirakan tumbuh dari USD212,24 mliar pada 2020 menjadi USD239,67 miliar pada 2021, dengan tingkat pertumbuhan tahunan sebesar 12,93 persen. Diproyeksikan pada 2025 mendatang, pasar rantai dingin global tumbuh lebih tinggi mencapai USD344,51 miliar dengan tingkat pertumbuhan tahunan 9,49 persen.

Sementara itu, Menteri BUMN Erick Thohir menyampaikan, pihaknya memastikan holding pangan sebagai stabilisator untuk menjaga harga agar tetap stabil di masyarakat. Ia juga mengaku akan terus bekerja sama dengan pihak swasta dan masyarakat untuk dapat mewujudkan win-win solutions.

“Pandemi Covid-19 memaksa percepatan digitalisasi. Hal tersebut dilakukan agar semua proses dapat berjalan secara transparan dan terbuka,” tambahnya.

(zul)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Kamis 23 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:52
Isya
19:02
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)