LANGIT7.ID-,Jakarta; Momen bersejarah akan terukir saat Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani berkunjung ke Israel dan wilayah Palestina. Kunjungan ini dilakukan setelah kesepakatan gencatan senjata di Gaza akhirnya diberlakukan, seperti diumumkan kantornya hari Minggu.
Dalam jadwal kunjungan yang akan berlangsung Senin, Tajani akan menemui sejumlah pemimpin tinggi di kedua wilayah. Di Israel, dia akan bertemu dengan Presiden Isaac Herzog dan Menteri Luar Negeri Gideon Saar. Sementara di Palestina, dia dijadwalkan bertemu dengan Perdana Menteri Mohammed Mustafa.
"Kesepakatan gencatan senjata ini membuka peluang bersejarah yang sangat berharga. Bukan hanya untuk rakyat Israel dan Palestina, tapi juga bagi seluruh kawasan," ujar Tajani penuh harapan dalam keterangannya, dikutip Senin (20/1/2025).
Dalam kunjungan tersebut, Tajani akan menyampaikan komitmen kuat pemerintah Italia. "Kami berkomitmen untuk meringankan penderitaan warga sipil yang telah mengalami dampak konflik ini," tegasnya. Dia juga menjanjikan bantuan kemanusiaan Italia akan terus mengalir dan bahkan ditingkatkan.
Perhatian Italia tidak hanya terfokus pada bantuan darurat. Tajani menekankan pentingnya peran negaranya dalam upaya rekonstruksi Gaza pasca perang. Lebih dari itu, dia akan memimpin pertemuan bersama Menlu Israel Saar untuk membahas peluang investasi antara kedua negara.
"Kami yakin investasi yang tidak hanya berpusat di Israel, tapi juga mencakup seluruh kawasan, akan sangat membantu menciptakan stabilitas di wilayah ini," jelas Tajani, memaparkan visi jangka panjang kunjungannya.
Sementara itu, kabar baik juga datang dari Inggris. Kementerian Luar Negeri Inggris mengungkapkan kegembiraannya menyambut rencana pembebasan Emily Damari, warga negara berkewarganegaraan ganda Inggris-Israel. Damari adalah satu dari tiga wanita yang akan dibebaskan Minggu ini sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata.
"Kami menyambut baik informasi bahwa Emily Damari, warga negara Inggris, masuk dalam daftar sandera yang akan dibebaskan Hamas hari ini. Pemerintah Inggris siap memberikan segala dukungan yang diperlukan setelah pembebasannya," demikian pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Inggris.
(lam)