LANGIT7.ID - Umat Islam Indonesia kehilangan salah satu Kiai kharismatik asal Kediri Jawa Timur yakni KH Zainuddin Djazuli atau akrab disapa Mbah Din. Kendati dikenal sebagai seorang Kiai Khos, Pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso Kediri ini tak sungkan untuk turun langsung membangunkan santrinya untuk shalat shubuh. Bahkan dalam kondisi sakit, almarhum tak berhenti membangunkan para santrinya.
“Sosok Kiai yang selalu membangunkan santri-santrinya untuk melaksanakan sholat berjama'ah. Sampai sakitnya saja beliau masih giat membangunkan santri-santrinya untuk sholat berjamaah meskipun beliau di dorong memakai kursi roda,” ujar salah satu mantan santri Ponpes Al Falah Ploso, Afif Al Churmeni melalui akun facebook-nya, pada Kamis (8/7/2021).
Afif menuturkan, setiap beliau membangunkan santrinya, yang dirasakan oleh semua santri suara beliau masuk dalam mimpi. Hal itu membuat para santri sudah bangun terlebih dahulu sebelum beliau memasuki area komplek gedung santri.
“Shalat Gus, Shalat, Shalat. Masih terngiang sampai sekarang. Itulah kalimat yang biasa digunakan oleh beliau untuk membangunkan santri-santrinya shalat shubuh berjamaah,” tambah Afif.
Ya, Kiai Zainuddin dikenal sangat sopan kepada santri-santrinya sampai memanggil mereka dengan panggilan Gus. Sapaan yang lazimnya hanya disematkan kepada anak Kiai.
"Dalam berkomunikasi dengan santrinya beliau menggunakan bahasa jawa halus. Bahkan memanggil santrinya dengan sebutan Gus," kata salah satu alumni Ponpes Al Falah Ploso asal Sumenep Ahmad Hirzi dilansir dari NU Online.
Selain itu, sosok KH Zainuddin Djazuli dikenal tak hanya alim dalam ilmu agama tapi juga menguasai ilmu arsitektur. Ahmad Hirzi menyebut beberapa gedung bangunan di Ponpes Al Falah Ploso diarsiteki sendiri oleh Mbah Din.
"Terbukti, bangunan Pondok Pesantren Al-Falah 2 beliau sendiri yang mengarsiteki," tuturnya.
Politisi Ulung Melawan PKI Hingga Orde BaruMeski dikenal sebagai sosok yang rendah hati dan tawadhu, Mbah Din memiliki sisi yang garang sebagai politisi sejak muda. Dilansir dari Laduni.id , pada tahun 1960 hingga 1966 beliau memimpin konfrontasi langsung antara Nahdlatul Ulama dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) baik di Kediri maupun di kancah Nasional.
Tak hanya itu, pada tahun 1992 dalam Muktamar Nahdlatul Ulama di Cipasung Tasikmalaya, ketika Gus Dur akan dijegal oleh penguasa Orde Baru yakni Soeharto, KH. Zainuddin Djazuli berada di garda depan mendukung Gus Dur habis-habisan. Bahkan andai tidak ada Mbah Dien, mungkin Gus Dur terjungkal. Padahal Mbah Din adalah mantan Juru Kampanye Nasional Golkar, namun tidak takut meski harus berhadapan dengan Soeharto.
Kemudian pada tahun 1999, bersama Gus Dur beliau ikut mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan menjadi jajaran Dewan Syuro DPP PKB. Lalu pada tahun 2010 saat terjadi perpecahan di PKB, beliau ikut mendirikan Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU).
(jqf)