LANGIT7.ID, Bogor - Biasanya, beternak mamalia berkaki empat, unggas dan ikan banyak dilakukan orang karena hasil panennya memiliki nilai jual di pasaran untuk kebutuhan konsumsi. Namun, ada hal berbeda dan unik yang dilakukan muslim asal Cikaret, Bogor, Ade Yusdira, yang memilih menjadi peternak semut.
Siapa sangka, ternyata apa yang dilakukan Ade ini bukan tanpa alasan. Pasalnya, permintaan terhadap hasil panen dari semut rangrang di pasaran cukup tinggi.
Telur semut rangrang, atau yang biasa dikenal masyarakat sebagai kroto, memiliki banyak permintaan dari kalangan pehobi. Biasanya, para konsumen menggunakan kroto sebagai pakan untuk burung kicau yang diyakini memiliki kandungan protein yang baik.
Selain dari kalangan kicau mania, mereka yang memiliki hobi memancing juga membutuhkan kroto sebagai bahan untuk dijadikan umpan. Seperti halnya Ade, yang juga mengaku memancing, adalah salah satu bagian dari hobinya.
“Kita kalau mau mancing, cari kroto itu pun tidak mudah. Sekali pun dapat, kualitasnya bisa jadi kurang bagus,” kata Ade dikanal Youtube Agromaritim.
Baca juga: Hasilkan Puluhan Juta Sebulan dari Budi Daya Cacing TanahMulai 2009 silam, Ade yang merasa kesulitan mendapatkan kroto untuk digunakan sebagai umpan dari hobinya, mulai melakukan riset untuk membudi dayakannya. Ia mengaku, secara perlahan ia memulainya dengan membudi dayakan semut rangrang skala kecil dengan menggunakan 10 toples sebagai wadah perkembang-biakkan.
![Gampang-gampang Susah, Muslim Ini Jual Telur Semut Rangrang Rp1 Juta per Kilogram]()
Hingga 2014, budi dayanya cukup berhasil dan mampu menghasilkan banyak kroto dari hasil ternak semut rangrangnya. Dari situ ia mampu menyalurkan hasil panennya kepada para kicau mania dan mancing mania.
“Pada 2014 saya cukup berhasil panen kroto dan dalam usaha itu prinsipnya hanya tiga, yakni produksi, distribusi, dan konsumsi. Dari situ saya mampu menjual kroto Rp1 juta per kilogramnya ,” katanya.
Menurutnya, kroto dari hasil budi daya miliknya, Krotobond, memiliki kualitas super. Berbeda dengan kroto hasil alam yang biasanya hanya mampu bertahan selama tiga hari.
Sementara, kroto hasil budi daya bisa bertahan 2-3 minggu jika disimpan dengan benar, seperti diletakkan lemari es.
“Saat saya merintis usaha ini, literasinya masih sangat minim. Tapi dalam perkembangannya banyak dari kalangan akademisi yang mulai melakukan penelitian terhadap kroto di sini, dan semua saya yang memandu,” jelasnya.
Baca juga: Mundur dari Jabatan Manajer, Kini Sukses Kuliner Dimsum Omzet Ratusan Juta RupiahBudi daya semut rangrangAde mengatakan, untuk bisa melakukan budi daya semut rangrang ini terbilang gampang-gampang susah. Dibutuhkan keuletan dan ketelatenan dalam menjalankan segala proses perkembangan budi daya ini.
Semut rangrang perlu diberikan pakan secara rutin setiap harinya, seperti air gula, jangkrik, ulat hongkong. Selain itu, juga perlu menjaga sirkulasi udara yang baik dan menyediakan tempat sedemikian rupa agar semut tidak pergi dari sekitar tempat budi daya.
“Untuk pemula sebenarnya budi daya ini cukup mudah, karena hanya butuh memberikan pakannya saja. Dengan menjaga ketersediaan pakan ini juga turut menjaga semut tidak pergi dari rak tempat budi daya,” katanya.
Sementara untuk kendala yang biasa dialami, biasanya berasal dari siklus kemunculan calon ratu yang terjadi sekali dalam waktu tiga bulan dalam setahun. Dengan kemunculan calon ratu baru ini, Ade menyebutkan produktivitas semut rangrang untuk menghasilkan telur akan berkurang.
Namun, kendala itu bisa disiasati menjadi nilai lebih bagi para pebudi daya semut rangrang. Salah satunya dengan memanen calon ratu tersebut sebelum menetas.
“Biasanya di alam itu yang didapatkan kebanyakan calon ratu, yang telurnya lebih besar. Sementara di budi daya ini, kita bisa memanen telur calon pejantan dan calon ratu sebelum mereka bermetamorfosis menjadi semut, sehingga bisa menjaga produktivitas budi daya,” jelasnya.
Ade menjelaskan, semut merupakan top predator dalam rantai makanan. Artinya, tidak ada yang bisa mengalahkannya selain siklus itu sendiri.
Budi daya semut rangrang ini bisa dipanen dalam kurun waktu 21 hari. Sehingga dengan memahami siklus semut rangrang, dalam periode 60 hari bisa dilakukan pemanenan sebanyak tiga kali.
“Selain itu, budi daya semut rangrang ini akan lebih cocok di udara yang relatif panas. Apalagi habitat semut rangrang yang juga biasanya banyak ditemukan di daerah pesisir,” jelasnya.
Peluang bisnis budi daya semut rangrangDari segi bisnis, semut rangrang memiliki permintaan yang banyak di pasaran. Hal itu terlihat dari kebutuhan para kicau mania dan mancing mania yang tidak pernah ada habisnya.
Baca juga: Literasi Masih Jadi Kendala Perkembangan Keuangan Syariah di IndonesiaAde mengatakan, selama masih ada pasokan dan permintaan, perputaran bisnis dari budi daya semut rangrang masih cukup menjanjikan. Apalagi, sempat disebutkan bahwa kebutuhan protein ke depan akan tergantikan dari hasil serangga.
“Beberapa kali sempat ada yang datang ke sini dari Thailand dan Jerman untuk melakukan penelitan. Mereka bilang, ke depan alternatif protein akan bersumber dari serangga,” tuturnya.
Selain itu, Ade menjelaskan, setidaknya di Kota Bogor sendiri memiliki 100 kios yang menjual kroto sebagai kebutuhan pehobi. Jika dalam satu kios mampu menjual sebanyak satu kilogram kroto sehari, maka setidaknya kebutuhan kroto di Kota Bogor mencapai 100 kilogram seharinya.
“Itu untuk Kota Bogornya saja, belum lagi wilayah lain seperti Depok, Bekasi, Jakarta, dan kota terdekat lainnya,” katanya.
Ade menegaskan, untuk bisa melakukan sebuah usaha perlu dilakukan riset secara mendalam. Sebab, pada prinsipnya tidak ada sebuah usaha yang salah ketika dijalankan, tapi terkadang hasrat yang menggebu dari seseorang menjadikan kendala di kemudian hari.
“Untuk itu kita perlu memahami ilmu secara paripurna. Karena kalau sudah paripurna pasti kita paham betul mengenai seluk-beluknya. Kembali lagi kepada prinsip di awal, dalam usaha itu produksi, distribusi, dan konsumsi. Ini yang harus betul-betul dipahami,” jelasnya.
(zul)