LANGIT7.ID, Bogor - Sebagian orang mungkin geli atau bahkan jijik dengan cacing tanah. Namun, bagi sebagian lainnya, cacing tanah memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi dan diminati oleh banyak kalangan.
Permintaan akan cacing tanah, biasanya digunakan sebagai bahan baku untuk obat tifus. Pengolahannya pun beragam, ada yang dikonsumsi langsung, direbus atau dijadikan jus, mau pun dijadikan tepung untuk kebutuhan kapsul.
Nilai ekonomis dan permintaan akan cacing tanah seperti itulah yang membuat muslim asal Leuwiliang, Bogor memanfaatkan peluang yang ada. Muhamad Zidni Ilman, mulai beralih menjadi pebudi daya cacing tanah untuk kebutuhan bahan baku pembuatan obat-obatan.
Sebelum ia terjun ke dalam dunia usaha budi daya cacing tanah atau cacing
lumbricus, Ilman bekerja sebagai distributor kopi, di bagian keuangan. Dari pekerjaannyaitu, Ilman mengaku memiliki rutinitas kerja yang cukup padat.
Dari situ, ia mulai berpikir untuk tetap mendapatkan penghasilan tapi dengan rutinitas kerja yang tidak terlalu sibuk. Ilman menuturkan, ia mulai berpikir bagaimana pun caranya bisa membuka sebuah usaha dari modal yang kecil tapi bisa memperoleh keuntungan yang besar.
“Saya sempat terlintas untuk budi daya
maggot, karena selain menguntungkan juga bisa mengolah limbah dapur. Tapi ternyata ketika saya coba lalat maggotnya tidak mau hadir, akhirnya saya beralih ke cacing,” ujar Muhamad dikanal Youtube Agromaritim.
Baca juga: Mundur dari Jabatan Manajer, Kini Sukses Kuliner Dimsum Omzet Ratusan Juta RupiahSetelah menjadikan cacing sebagai bahan budi dayanya, Ilman menemukan proses perkembangannya juga cukup terbilang mudah. Dalam kurun waktu dua bulan, cacing yang diberikan limbah dapur bisa menghasilkan kompos.
Sejak itu, Ilman langsung menekuni usaha budi daya cacing
lumbricus dalam skala besar. Walaupun dalam skala besar, karena perawatannya yang cukup mudah juga membuat Ilman bisa menghemat waktu lebih banyak.
“Selain mudah dan menguntungkan, budi daya cacing ini juga bisa kita tinggal. Seiring waktu, selain fungsinya untuk mengolah limbah, ternyata cacing juga memiliki nilai tambah untuk bahan baku dijadikan obat,” jelasnya.
Menurutnya, dari keseluruhan hasil cacing semuanya bisa dimanfaatkan. Artinya budi daya cacing memiliki keunggulan
zero waste, mulai dari cacingnya sendiri, tepung, air, dan bekas kotorannya sekali pun bisa dimanfaatkan.
“Dalam sebulan dari penjualan tepung cacingnya saja saya bisa dapatkan omzet sekitar Rp10 juta, belum lagi tambahan lain dari cacing yang bisa dimanfaatkan,” katanya.
Belajar Lewat Platform DigitalIlman mengaku, saat masih bekerja dulu ia selalu mempelajari bidang usaha yang digelutinya saat ini melalui Youtube. Setelah mendapatkan beberapa contoh budi daya dan penjelasan, ia mulai memilih metode yang paling tepat dan mudah untuk diterapkan pada usahanya.
Menurutnya, segala jenis cacing tanah bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan bahan baku obat-obatan. Namun, memang dari setiap jenisnya memiliki keunggulan masing-masing.
“Ada jenis cacing yang proteinnya lebih tinggi dibandingkan yang lain. Ada yang bagus untuk unggas atau manusia, jadi kami di sini menggunakan jenis cacing
lumbricus,” jelasnya.
Menurutnya, cacing jenis ini memiliki kandungan enzim
lumbriconase yang cukup tinggi. Di mana enzim ini memiliki manfaat yang baik untuk tubuh manusia.
Tidak hanya dipergunakan untuk obat-obatan tifus saja, melainkan enzim ini juga berguna untuk mengatasi pembuluh darah rusak atau sel darah menggumpal. Manfaat itulah yang menjadikan Ilman akhirnya lebih memilih jenis cacing
lumbricus untuk dibudi daya.
Hasil panen cacing lumbricusIlman menuturkan, dari budi dayanya ini ia mampu memanen cacing
lumbricus sebanyak 50-100 kilogram setiap 2-3 bulan. Sementara bibit yang tertinggal akan dipeliharanya di tempat pembesaran, yang dua minggu kemudian bisa dipanen kembali rata-rata 10 kilogram.
Saat memasuki masa panen, Ilman menjelaskan, cacing yang ada perlu dikarantina di wadah tanah selama kurang lebih satu minggu. Masa karantina itu pun tidak boleh lebih dalam kurun waktu tujuh hari, sebab dikhawatirkan cacing akan berkembang biak kembali.
“Setelah dikarantina, agar besarannya semua sama kita berikan pakan dua kali lipat lebih banyak. Lalu kita bersihkan dengan air, dilanjutkan dengan proses pemanasan disuhu 70 derajat celsius,” katanya.
Baca juga: Muhammadiyah Andalkan Mukidi untuk Bangkitan Produk-Produk HalalProses pemanasan tersebut, lanjut Ilman tidak boleh lebih dari dua menit. Sebab, cacing akan dimanfaatkan proteinnya yang dikhawatirkan jika terlalu akan merusak kandungan protein yang ada.
“Dari situ kita masukkan oven kembali untuk kemudian digiling sehingga menjadi produk tepung cacing. Selain tepung cacing untuk bahan obat-obatan, kotoran cacing ini juga bisa jadi pupuk tanaman, atau juga bisa dioleh menjadi jus cacing,” jelasnya.
Menurutnya, untuk bisa sukses dalam mengembangkan usaha, setiap orang perlu memiliki mental untuk gagal. Pada prinsipnya, Ilman menekankan, enak itu sesuatu yang pasti, tapi dalam usaha yang perlu diatasi adalah ketika mendapati yang tidak enak.
Artinya, kegagalan dalam perkembangan usaha tidak harus menjadikan seseorang berhenti di tengah jalan. Tapi bagaimana kegigihan menjalankan usaha bisa membawa kesuksesan.
“Jadi jangan dipikiran gelinya kalau budi daya cacing, tapi nilai yang ada di dalamnya. Jadi yang kita bayangkan ketika budi daya cacing jangan pegang cacingnya, tapi bayangkan sedang pegang duit,” ujarnya bercanda.
(zul)