LANGIT7.ID-Jakarta; Hamas pada Kamis bilang kalau ancaman Presiden AS Donald Trump yang terus-terusan ditujukan ke warga Palestina sebenarnya adalah bentuk dukungan buat PM Israel Benjamin Netanyahu supaya bisa mundur dari kesepakatan gencatan senjata dan makin memperketat pengepungan terhadap warga Gaza.
Trump ngepost di media sosial pada Rabu, menuntut Hamas untuk "lepaskan semua sandera sekarang, bukan nanti," termasuk jenazah sandera yang sudah meninggal, kalau tidak "TAMAT bagi kalian."
Ancaman ini muncul di hari yang sama ketika utusan khusus Trump diam-diam mengadakan pembicaraan dengan Hamas, menurut sumber yang bicara ke media. Ini adalah langkah yang berbeda dari kebijakan AS selama puluhan tahun yang nggak mau bernegosiasi dengan kelompok Palestina, yang dianggap Amerika sebagai organisasi teroris.
Pejabat keamanan Mesir membenarkan pada Kamis bahwa pembicaraan antara utusan Trump dan Hamas memang terjadi, dan juga dihadiri oleh mediator dari Mesir dan Qatar.
"Ancaman Trump yang terus-menerus terhadap rakyat kami itu seperti mendukung Netanyahu untuk kabur dari kesepakatan dan makin memperketat pengepungan serta membuat rakyat kami kelaparan," kata juru bicara Hamas Abdel-Latif al-Qanoua lewat pesan teks.
"Cara terbaik untuk membebaskan tahanan Israel yang masih tersisa adalah dengan... masuk ke tahap kedua dan memaksa Israel untuk mematuhi kesepakatan yang sudah ditandatangani di bawah pengawasan mediator," tambahnya.
Kesepakatan gencatan senjata Gaza yang mulai berlaku Januari lalu menyatakan bahwa sandera yang masih tersisa akan dibebaskan di tahap kedua, di mana rencana final untuk mengakhiri perang juga akan dinegosiasikan.
Tahap pertama gencatan senjata berakhir pada Sabtu, dan sejak itu Israel memberlakukan blokade total untuk semua barang yang masuk ke Gaza, dengan menuntut Hamas membebaskan semua sandera tanpa memulai negosiasi untuk mengakhiri perang.
Warga Palestina bilang blokade ini bisa menyebabkan kelaparan di antara 2,3 juta orang yang hidup di tengah reruntuhan Gaza.
Trump mengeluarkan ancaman barunya setelah bertemu di Gedung Putih pada Rabu dengan sekelompok sandera yang sudah dibebaskan dalam tahap pertama kesepakatan gencatan senjata Gaza.
"Saya kirim ke Israel semua yang mereka butuhkan untuk menyelesaikan tugas ini, nggak ada anggota Hamas yang akan selamat kalau kalian nggak lakukan apa yang saya katakan," tulisnya di media sosial. "Juga, untuk Rakyat Gaza: Masa depan yang indah menunggu kalian, tapi nggak bakal terjadi kalau kalian masih nahan sandera. Kalau tetap begitu, kalian MATI! Ambil keputusan PINTAR. LEPASKAN SANDERA SEKARANG, ATAU NANTI KALIAN AKAN RASAKAN AKIBATNYA!"
Bicara dengan HamasWarga Gaza mengkritik pernyataan terbaru Trump pada Kamis, yang muncul setelah sebelumnya dia mengusulkan agar penduduk Palestina di wilayah pesisir kecil itu dipindahkan ke tempat lain dan wilayah tersebut dijadikan "Riviera Timur Tengah."
"(Kerja Trump) harusnya lebih ke arah menyebarkan perdamaian... dengan menukar sandera antara kedua pihak, dan bukan malah ngelempar ancaman, menyalahkan dan mengintimidasi rakyat Jalur Gaza, yang sudah menderita... gara-gara perang ini," kata Ahmed, warga Khan Younis di wilayah Palestina.
Amerika Serikat melanggar aturan diplomasi yang sudah lama dipegang dengan mengadakan pembicaraan rahasia dengan Hamas tentang pembebasan sandera AS yang ditahan di Gaza, menurut sumber.
Utusan urusan sandera AS Adam Boehler punya wewenang untuk bicara langsung dengan Hamas, kata Gedung Putih saat ditanya tentang diskusi tersebut.
Boehler dan pejabat Hamas ketemu di Doha dalam beberapa minggu terakhir, kata dua sumber yang tahu soal negosiasi itu. Nggak jelas siapa yang mewakili Hamas.
Dua pejabat keamanan Mesir yang bicara bilang selama pembicaraan Hamas tetap ngotot untuk berpegang pada kesepakatan gencatan senjata bertahap yang asli.
Kedua pihak sepakat bahwa gencatan senjata harus dipertahankan untuk memberi waktu kepada mediator menyelesaikan perselisihan antara Hamas dan Israel, yang bilang ingin memperpanjang tahap pertama kesepakatan selama 42 hari. Hamas menolak tuntutan Israel itu.
Mesir, menurut dua sumber Mesir, menekankan perlunya menjaga kesepakatan gencatan senjata sampai perang berakhir, dengan bilang ini akan mempermudah pelaksanaan rencana rekonstruksi Kairo untuk Gaza yang didukung oleh para pemimpin Arab pada pertemuan Selasa lalu.
Sumber-sumber Mesir mengatakan pembicaraan berakhir dengan semangat positif, menunjukkan kedua pihak mungkin akan segera menuju negosiasi tahap kedua kesepakatan.
(lam)