LANGIT7.ID - , Jakarta - Di akhir 90an siapa yang tak kenal dengan preman Tanah Abang, Hercules. Namanya sempat menghilang karena menjalani hukuman terkait kasus penyerobotan lahan.
Siapa sangka, pria bernama lengkap Hercules Rosario Marshal ini mulai menata hidup dengan meninggalkan kehidupan kelamnya sebagai preman. Saat ini Hercules disibukkan dengan bisnis dan membesarkan ormas yang dibentuknya, Gerakan Rakyat Indonesia Baru (GRIP), yang banyak bergerak di bidang sosial.
Irfan Asy'ari Sudirman Wahid atau Ipang Wahid, memberi kesaksian perubahan yang terjadi pada Hercules melalui media sosialnya @ipangwahid.
Ipang juga mengaku kagum dengan cara hidup Hercules saat ini yang banyak terlibat dalam kegiatan sosial seperti membangun masjid dan membantu pedagang kecil.
“Banyak yang tidak terbayangkan. Inilah yang menginspirasi saya. Membangun banyak masjid tanpa koar-koar. Memberi makan fakir miskin tanpa pemberitaan. Apalagi mimpinya membantu para pedagang kecil dan UMKM. Jadi makin tambah malu saja saya,” imbuh Ipang.
Baca Juga : Sosok Ustadz Jazir di Balik Masjid Jogokariyan YogyakartaDiketahui Hercules dan kelompoknya sudah malang melintang di kawasan Tanah Abang Jakarta Pusat sejak 1980-an. Sebelumnya, ia datang ke Jakarta dari Timor Timor untuk berobat. Namun, karena tidak betah, ia memilih hidup di Tanah Abang.
Hercules dikenal sebagai sosok pemberani dan tidak takut mati. Berbagai pertempuran dilakukannya untuk menjaga harga diri dan wilayahnya. Mantan preman ini menceritakan titik balik dalam hidupnya karena ia merasa umur seseorang tidaklah panjang. Ia memiliki keyakinan bahwa sehebat-hebatnya seseorang suatu hari akan mati juga.
“Presiden akan mati, menteri akan mati juga, preman bakal mati, ustadz juga akan mati. Tinggal menunggu waktu. Maka perlu persiapan," tandas Hercules.
Sumber : NU Online
“Hidup mati ada di tangan Allah. Titik balik ini supaya apa yang selama ini saya jalani di dunia hitam bisa diampuni. Allah sudah memberikan kesempatan untuk hal itu," tandasnya.
Selama ini banyak orang hanya melihat sisi kelamnya sebagai preman saja tanpa melihat sisi lain yang dijalaninya. Menurut Hercules, kasus yang menjeratnya dulu merupakan rekayasa seperti kasus pemerasan.
Bahkan, korban yang ditampilkan saat pengadilan digelar tidak mengenal sosok Hercules. Berkaca dari kejadian ini dan tak ingin anaknya mengalami hal yang sama seperti dirinya, Hercules pun mengirim anak-anaknya sekolah ke luar negeri.
Baca Juga : Mantan Gubernur DKI Soerjadi Soedirdja, Sosok Religius dan Rajin Puasa Sunnah“Saya usaha perkapalan, pertanian, pasar, bekerja di perusahaan. Menyekolahkan anak, yang pertama perempuan di Canberra, kedua lelaki di California Amerika Serikat dan terakhir perempuan di Melbourne Australia,” tegasnya.
Menanggapi kisah Hercules, Ustaz Yusuf Mansyur menyamakan ceritanya dengan kisah manusia setengah dewa dari Yunani kuno, Herakles.
"Kalau dari ceritanya, Bang Haji Hercules ini "sakti". Allah yang buat dia sakti. Tertembak berkali-kali, tapi cuma matanya saja yang bolong," ujar Yusuf Mansyur.
Ditambahkannya, bila melihat musuh-musuh Hercules yang sejatinya orang-orang hebat di negeri ini, sama dengan kisah Hercules Yunani yang bertarung dengan Atlas dan Anteus.
"Sampai sini adalah masalah akidah yang membuat Hercules jadi beda. Kita belajar dari sini. Asli belajar. Kalau Allah belum menghendaki, ya begini doang ceritanya," jelas Yusuf Mansyur.
(est)