LANGIT7.ID-Jakarta; Dana sovereign baru Danantara Indonesia pada Senin (24 Maret 2025) mengumumkan apa yang mereka sebut sebagai "dream team" untuk merancang strateginya, termasuk mantan presiden serta peran penasihat bagi manajer hedge fund Ray Dalio, ekonom Jeffrey Sachs, dan mantan Perdana Menteri Thailand Thaksin Shinawatra.
Danantara, yang diluncurkan bulan lalu, menjadi instrumen utama Presiden Indonesia Prabowo Subianto untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 8% pada 2029 dengan mengelola seluruh saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan menginvestasikan kembali dividennya dalam proyek-proyek komersial.
Dana ini ditargetkan akan mengelola aset senilai lebih dari Rp14.000 triliun (US$900 miliar) dan disebut oleh pejabat sebagai "versi Indonesia dari Temasek Singapura."
Mantan Presiden Indonesia Joko Widodo dan Susilo Bambang Yudhoyono ditunjuk sebagai anggota komite pengarah dana, sementara Dalio—pendiri hedge fund terbesar di dunia, Bridgewater—akan menjabat sebagai penasihat bersama Thaksin, seorang miliader yang menghabiskan 15 tahun dalam pengasingan untuk menghindari hukuman penjara atas penyalahgunaan kekuasaan dan merupakan ayah dari Perdana Menteri Thailand saat ini, Paetongtarn Shinawatra.
Reuters belum dapat segera menghubungi Widodo dan Yudhoyono untuk mendapatkan komentar, sementara perwakilan Bridgewater dan Thaksin belum menanggapi permintaan konfirmasi.
Beberapa media melaporkan bahwa mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair juga akan menjadi penasihat Danantara. Ketika ditanya apakah Blair akan bergabung, CEO Danantara Rosan Roeslani hanya menyatakan bahwa dana tersebut akan mengumumkan lebih banyak nama di kemudian hari.
Sachs melalui email mengatakan kepada Reuters bahwa ia telah ditunjuk sebagai penasihat khusus Prabowo.
"Dalam kapasitas ini, saya akan bertugas di dewan penasihat Danantara," ujarnya. "Pekerjaan saya sepenuhnya sukarela, untuk mendukung pembangunan berkelanjutan Indonesia, dan tanpa kompensasi apa pun."
Para penasihat ini akan memberikan panduan dalam mengelola dampak risiko global akibat volatilitas keuangan dan faktor geopolitik, kata Kepala Investasi Danantara Pandu Sjahrir dalam acara pelantikan.
Sinyal Positif untuk PasarDalam gelombang investasi pertamanya senilai Rp310 triliun (US$20 miliar), Danantara akan menargetkan proyek-proyek pengolahan sumber daya alam, pengembangan kecerdasan buatan (AI), serta ketahanan energi dan pangan.
Pendirian Danantara dan kekhawatiran atas peran besar negara dalam ekonomi disebut-sebut sebagai salah satu penyebab penurunan pasar pekan lalu di ekonomi terbesar Asia Tenggara ini, di mana indeks saham utama sempat anjlok hingga 7% dan memicu penghentian perdagangan sementara.
Saham Indonesia pada Senin merosot ke level terendah sejak Agustus 2021, sementara nilai tukar rupiah mencapai titik terendah dalam tiga pekan akibat kekhawatiran yang terus membayangi kesehatan fiskal dan prospek pertumbuhan negara.
Ada kekhawatiran di pasar keuangan atas potensi intervensi politik dalam Danantara, meskipun Prabowo menegaskan bahwa dana tersebut dapat diaudit kapan saja oleh siapa pun.
Rosan mengatakan pengangkatan eksekutif profesional akan semakin memperkuat kepercayaan pasar.
"Ketika nama-nama ini diterima dengan baik, ini bisa menjadi sinyal positif bagi ekonomi Indonesia, penciptaan lapangan kerja," ujarnya dalam acara yang sama, menambahkan bahwa seluruh BUMN Indonesia kini berada di bawah pengelolaan dana baru ini.
Struktur tim Danantara berpotensi mengamankan kepercayaan pasar karena diisi oleh nama-nama global yang memiliki kredibilitas di sektor keuangan, kata Oktavianus Audi, analis ekuitas di Kiwoom Sekuritas, kepada Reuters.
Namun, ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin mengatakan bahwa manajemen dana harus memastikan bahwa mereka tidak akan tunduk pada intervensi politik di masa depan.
Direksi Danantara mencakup mantan pejabat dari Bank Mandiri dan HSBC, mantan direktur Bank Indonesia, serta mantan Kepala Investasi Indonesia Investment Authority (INA), dana kekayaan sovereign pertama di Indonesia. (*/saf/CNA)
(lam)