Wakil Menteri Agama (Wamenag) Zainut Tauhid berharap zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ziswaf) dapat dimaksimalkan untuk membantu masyarakat terdampak pandemi Covid-19. Ziswaf perlu diprioritaskan untuk menjamin kebutuhan pokok masyarakat.
"Masyarakat yang bergantung pada penghasilan harian dan tidak punya tabungan harus diselamatkan dari kemiskinan serta frustrasi sosial,” katanya siaran persnya di Jakarta, Selasa (13/7).
Menurut dia, realisasi zakat dan wakaf saat ini belum maksimal. Padahal potensi pengumpulan zakat secara nasional mencapai Rp233 triliun per tahun, namun baru direalisasikan sekitar Rp10 triliun.
Begitu juga dengan potensi dana wakaf sebesar Rp180 triliun. Data BWI menunjukkan pengumpulan wakaf uang baru mencapai Rp819,36 miliar sehingga dana tersebut perlu diprioritaskan untuk menjamin kebutuhan pokok dan menjaga daya beli masyarakat lapisan bawah.
"Pendistribusian dana ziswaf harus dilakukan dengan prosedur pelayanan yang cepat, mudah, dan aman serta sesuai ketentuan agama," katanya.
Menurut Zainut, ziswaf yang dikelola Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), Lembaga Amil Zakat (LAZ) dan Badan Wakaf Indonesia (BWI), dapat digunakan memenuhi kebutuhan dasar dan menjaga daya beli. Gerakan ziswaf yang bersifat masif dan inklusif bisa menjadi salah satu instrumen untuk mengatasi kemiskinan dan kesenjangan sosial ekonomi.
"Semakin besar dana ziswaf yang dihimpun dan disalurkan sesuai peruntukannya, semakin besar kemaslahatan yang dapat dihadirkan kepada umat dan bangsa kita," ucap Zainut.
(jak)