LANGIT7.ID, Jakarta - Pendiri perusahaan Jerman BioNTech, Uğur Şahin dan Özlem Türeci, memenangkan penghargaan sains paling bergensi atas kontribusi mereka dalam menciptakan vaksin Covid-19. Dia termasuk di antara tujuh ilmuwan yang memenangkan Penghargaan Putri Asturias untuk Riset Teknis dan Ilmiah, pada Rabu (23/6/2021).
Şahin dan Türeci merupakan pasangan suami istri. Keduanya mengejutkan dunia saat mengumumkan vaksin yang mereka kembangkan bersama perusahaan farmasi Amerika Serikat Pfizer yang diklaim mampu 90 persen mencegah Covid-19.
Bahkan BioNTech merilis vaksin jauh lebih cepat dari perkiraan banyak orang. Vaksin itu juga mengandalkan teknologi mRNA mutakhir.
Keberhasilan itu berawal pada Januari 2020. Saat itu, Şahin membaca artikel tentang corona di sebuah jurnal kesehatan. Artikel itu membuat dia yakin corona akan menjadi pandemi global. Ia pun mulai mengerjakan misi Proyek Lightspeed, menggunakan teknologi messenger RNA untuk mengembangkan vaksin.
“Vaksin ini bisa menjadi permulaan dari berakhirnya pandemi Covid-19,” kata Şahin dikutip dari New York Times.
Mengenal Şahin dan TüreciŞahin (55 tahun) merupakan dokter berdarah Turki dan pindah ke Jerman pada umur 4 tahun. Sementara Türeci (53 tahun) lahir di Jerman dari orang tua warga negara Turki. Keduanya kini menjadi panutan bagi imigran Turki di Jerman.
Şahin bertemu dengan Türeci dari pasangan warga negara Turki yang menjadi imigran dari Istanbul. Saat ini dr Türeci lah yang dipercaya sebagai pimpinan BioNTech milik mereka.
Pasangan suami istri itu mulanga fokus pada penelitian dan mengajar di antaranya di Universitas Zurich. Melalui univeritas tersebut, Şahin bekerja di Laboratorium Rolf Zinkernagel dan memenangkan penghargaan Nobel di bidang kesehatan pada 1996. Pada 2019, Şahin juga mendapatkan penghargaan Mustafa Prize, sebuah lembaga di Iran yang memberikan penghargaan pada ilmuwan Muslim.
Perjuangan Mendirikan BioNTechCita-cita besar Şahin setelah mendirikan BioNTech adalah menjadikan perusahaan tersebut sebagai perusahaan besar Eropa di bidang Farmasi. BioNTech telah berhasil meraih ratusan juta dolar dengan lebih dari 1.800 pegawai yang tersebar di Berlin dan berbagai kota di Jerman serta di Cambridge.
Tahun lalu, BioNTech menjual saham ke publik. Dalam beberapa bulan terakhir, nilai pasar BioNTech melonjak melebihi 21 miliar dolar Amerika. Hal itu menbuat Şahin masuk ke dalam jajaran orang terkaya di Jerman.
Ada banyak perusahaan yang bekerjasama dengan BioNTech dalam bentuk investasi. Di antaranya Bill & Melinda Gates Foundation. Perusahaan itu pada 2020 menginvestasikan anggaran sebesar 55 juta dolar Amerika untuk dana penelitian tentang HIV dan tuberkulosis.
Pengembangan Vaksin Covid-19BioNTech terus upaya-upaya memaksimalkan pengembangan vaksin Covid-19 produk mereka. Perushaan tersebut menggandeng Pfizer, sebuah perusahaan internasional dalam bidang kesehatan yang bermarkas di New York City, Amerika Serikat. BioNTech and Pfizer sebenarnya telah menjalin kerjasama sejak Maret 2018.
Şahin sudah berteman dengan Albert Bourla, pimpinan eksekutif dari Pfizer keturunan Yunani, sejak 2018. Keduanya memiliki kecocokan karena berlatar belakang sebagai peniti dan imigran.
“Kita menyadari dia dari Yunani dan saya dari Turki. Hubungan yang sangat pribadi dari awal,” kata Şahin.
Bourla menilai sosok Şahin sebagai orang yang memiliki kepribadian unik dan memiliki prinsip. Dia menilai Şahin sebagai seseorang yang sangat peduli terhadap ilmu pengetahuan. Şahin tidak senang berbicara soal bisnis. “Saya percaya 100 persen padanya,” ungkap Bourla.
Namun, semua keberhasilan itu rupanya tidak membuat Şahin mengubah pola hidup. Dia bersama istri dan anak-anaknya tetap tinggal di sebuah apartemen sederhana dekat kantor BioNTech. Dia bahkan tetap mengendarai sepeda ke kantor dan tidak memiliki mobil.
(jqf)