LANGIT7.ID-
Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani, dalam kitabnya
Futuh Al-Ghaib, memberikan nasihat yang mendalam tentang bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap kehidupan orang lain, terutama tetangga yang hidup lebih mapan dan bahagia. Beliau mengingatkan kita untuk tidak terperangkap dalam rasa iri, karena hal tersebut dapat merusak iman dan mendatangkan keburukan.
Dalam nasihatnya, Syaikh Abdul Qadir berkata: "Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kau merasa iri terhadap tetanggamu yang hidup senang dan memperoleh rahmat dari Tuhan? Tidakkah kau tahu bahwa perasaan iri hanya akan melemahkan imanmu, menjauhkanmu dari Tuhan, dan membuatmu dibenci-Nya?"
Beliau mengutip sabda
Nabi Muhammad SAW, yang menyebutkan bahwa orang yang iri hati adalah musuh rahmat Allah dan perasaan iri itu dapat menghapus segala kebaikan yang kita lakukan, sebagaimana api yang membakar kayu.
Beliau mengingatkan bahwa rezeki yang Allah karuniakan kepada setiap hamba-Nya adalah bagian dari takdir dan kehendak-Nya. Setiap orang menerima karunia sesuai dengan apa yang telah ditentukan-Nya.
Syaikh Abdul Qadir menegaskan bahwa iri terhadap orang lain yang menerima nikmat-Nya sama saja dengan menentang takdir Allah, yang mana ini adalah perbuatan zalim. "Apakah kamu lebih zalim dan bodoh dari itu?" katanya. Allah tidak akan mengubah takdir-Nya untuk seorang hamba, dan apa yang telah diberikan kepada seseorang adalah haknya yang telah ditentukan.
Baca juga: Keadaan Rohani Manusia Menurut Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani Syaikh Abdul Qadir juga memberikan gambaran menarik tentang sikap iri hati. Ia berkata, "Lebih baik kamu iri terhadap bumi yang menyimpan harta kekayaan seperti emas dan perak yang dipendam oleh para raja terdahulu, daripada iri terhadap saudaramu yang menikmati rahmat Allah."
Hal ini seperti seseorang yang tidak iri terhadap kekuasaan seorang raja, tetapi justru iri terhadap seekor anjing yang hidup di istana raja, diberi makanan dari dapur kerajaan, meskipun statusnya jauh lebih rendah.
Beliau mengingatkan kita untuk memikirkan nasib tetangga kita di Hari Kebangkitan. Jika mereka tidak mematuhi perintah Allah meskipun menikmati karunia-Nya, mereka akan menanggung beban yang berat. Sebaliknya, kita yang sabar dan ikhlas dengan nasib, meskipun hidup dalam keterbatasan, akan mendapatkan perlindungan dan kenikmatan di bawah naungan Arsy Allah pada Hari Akhir.
Baca juga: Kisah Sufi Syaikh Abdul Qadir: Tiga Guru dan Penunggang Bagal Akhirnya, Syaikh Abdul Qadir menegaskan bahwa sikap sabar dalam menghadapi ujian hidup, bersyukur atas segala rahmat yang Allah berikan, dan menyerahkan segala urusan kepada-Nya adalah kunci untuk meraih kebahagiaan sejati, baik di dunia maupun di akhirat.
Semoga kita senantiasa diberi kesabaran, dijauhkan dari rasa iri hati, dan selalu bersyukur atas segala nikmat yang Allah anugerahkan kepada kita.
(mif)